AWAL
YANG HARUS BERBEDA
Alarm
handphone berdering saat mimpiku belum sampai ke penghujung. Dengan pelan aku
membuka mata sembari meraba-raba kasur, mencari letak handphone itu untuk
mematikan alarm. Mataku semakin menyipit tatkala lampu handphone menyala terang-benderang.
Mata ini masih beradaptasi pada cahaya setelah beberapa jam kugunakan untuk
tidur. Dengan segera aku matikan alarm dan meletekannya kembali di samping
bantal.
Aku
termenung sejenak, menggumam kecil melantunkan do’a bangun tidur, dan masih
terbaring mematung. Masih setengah hati aku terbangun, bahkan mungkin kurang
dari itu. Kulihat lagi handphone untuk memeriksa jam. Oh, 02:32. Aku
memperbaiki posisi berbaringku, hendak melanjutkan mimpi barang 15 menit saja.
Namun kemudian aku telentang kembali dan berusaha biar mata ini melotot. Aku
terus membuka mataku semaksimal mungkin. Lalu kuangkat bahuku pelan-pelan dan
kugerakkan badan sedikit-sedikit untuk mengurangi rasa pegal.
Aku
menghela napas. Uh, panas sekali. Keringat bercucuran hampir di sekujur tubuh.
Beginilah Surabaya, panas tiada henti. Tidur saja banyak keringat apalagi
banyak bergerak. Mau tidak mau aku harus terbiasa dengan keadaan seperti
ini, meski aku merindukan udara sejuk di kampung halaman.
Masih
duduk sejenak, aku merenung tentang pagi buta ini. Aku bersyukur bisa bangun
sepagi ini karena sebelum tidur aku telah berniat untuk bangun setelah alarm
berbunyi, agar aku bisa menyempatkan diri shalat tahajjud. Meski tadi sempat
tergoda untuk tidur manja lagi. Namun, bagaimana aku bisa membiasakan tahajud
setiap hari apabila untuk permulaan seperti ini masih susah?.
Aku
turun dari kasurku dan segera menuju kamar mandi. Aku berjalan lambat dan
hati-hati karena baru bangun tidur. Terlalu terburu. Namun ternyata kamar mandi
yang berderet empat itu terisi semua. Melihat suasana ini aku hanya
menggelengkan kepala. Pagi buta begini ternyata orang lain lebih giat
daripada aku. Aku pun memutuskan untuk berwudlu saja di tempat untuk
berwudlu. Takutnya lama jika aku menunggu salah seorang keluar dari kamar mandi
itu, nantinya tidak sempat tahajud.
Kuhidupkan
keran dan mulai mencuci kedua telapak tangan dengan pelan. Uh, segar sekali
rasanya ketika ribuan butiran air itu melebur pada setiap sudut wajahku.
Setelah berjam-jam berpeluh keringat, setidaknya berwudlu adalah kegiatan kecil
yang kurindukan untuk menyejukkan sebagian anggota tubuhku. Pun menyejukkan
jiwaku. Ya…mestinya seperti itu jika melakukannya diiringi dengan kepasrahan
diri pada-Nya. Namun seringkali kesejukan itu tidak sempat dirasakan tatkali
melakukannya hanya untuk memenuhi syarat sah shalat.
Aku
menghela nafas sambil mengusap wajah dari sisa-sisa butiran air. Berjalan agak
cepat menuju kamar. Dengan pelan kubuka pintu kamar agar tidak menganggu kedua
temanku yang masih tidur. Kuusap wajah dan tanganku dengan handuk. Bergegas
mengambil sehelai sajadah untuk dibentangkan dan sepasang mukena yang kemudian
kukenakan. Tahajud pun dimulai.
Rakaat
demi rakaat kulalui. Perkara khusyuk memang selalu menjadi keresahan. Apakah
shalatku diterima? Apa dengan shalatku ini doaku diterima? Memang tak kurang
sedikitpun optimis dan husnudzanku bahwa Allah selalu mengabulkan pinta
hamba-Nya, namun seringkali aku yang tak tahu bersyukur dan berlumuran maksiat
ini malu untuk banyak pinta dihadapan-Nya. Lebih malu lagi, aku sadar bahwa
kasih sayang-Nya tak terperi, melebihi nampak megahnya alam raya ini. Jantungku
masih berdegup, nafas pun masih bisa terhirup. Nikmat-Mu yang mana? Yang bisa
aku dustakan, Ya Rabb?
Di
dalam do’aku, kuungkapkan segala rasa malu dan rasa berdosaku. Siapa lagi yang
bisa mendengar segala permohonan selain Dia? Diantara sunyi senyap ini,
memanglah waktu yang paling nikmat untuk mengungkapkan segalanya. Tak lupa
kuungkapkan rasa syukur dan do’aku pada kedua orangtua. Semoga keberkahan,
kesehatan, cinta kasih, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam setiap urusan
selalu mengiringi derap langkah mereka. Kuharap mereka bisa melihat dan
menikmati kesuksesanku kelak.
Sehabis
tahajud ini, aku akan menghadapi proses perkuliahan di hari pertama. Aku pun
berharap semoga bisa memanfaatkan awal ini dengan sebaik-baiknya, juga
seterusnya. Semoga kepulanganku ke kampung halaman nanti akan berbeda dengan
yang kemarin. Aku harus mempersembahkan sesuatu yang lebih membahagiakan kedua
orangtuaku. Salah satunya dalam hal prestasi.
Ah
iya, ini hari senin. Hari pertama beraktifitas kuliah. Dan kau tahu?
Sebagaimana semester yang lalu, semester ini pun setiap awal pekannya akan
selalu bertemu Prof. Ali. Sepertinya hari senin dan Prof. Ali adalah ‘pasangan
yang serasi’. Menurutku, senin adalah hari untuk bangun dari segala santai di
akhir pekan. Maka, ketika ‘bangun’, kami membutuhkan dorongan untuk bisa
bangkit dari terlena, mengabaikan hasrat untuk bersantai. Dan Prof. Ali adalah
salah satu orang yang cocok untuk membangkitkan semangat itu.
Lega
hati ini karena sudah merenungkan banyak hal. Aku tersenyum mantap untuk
menghadapi segalanya. Di tanah perantauan ini. Aku siap untuk berubah. Aku siap
untuk disiplin. Aku siap untuk lejitkan potensi diri.
Bismillah…
TETESAN HARU DAN SEGELAS TEH PANAS
Mamah,
Bapa.
Maaf
telah membuatmu khawatir karena keadaanku. Maafkan aku yang tak bisa menjaga
diri. Aku merindukan kalian, aku benar-benar penat dan ingin sentuhan kasih
sayang kalian. Aku lapar, aku ingin kalian menghampiri dan menyuapiku. Aku
haus, aku berharap kalian sodorkan segelas air hangat, sesekali dengan satu-dua
biji pil untuk redakan demamku. Atau sesekali kalian duduk disamping jasad
lemahku, siap berikan pijitan untuk melemaskan otot-ototku yang kaku.
Aku
berusaha membuka mata meski kupikir tiada yang nampak menarik dilihat untuk
saat ini. Ada-tidaknya orang di sekitarku sama saja, dunia tampak kelabu dan
begitu berputar. Aku tak bisa meladeni apapun, memikirkan apapun, teringat
ujian Tafsir BKI minggu depan saja hanya membuatku mengantuk. Meski aku tahu
kalau materinya amat banyak, berbahasa Arab pula. Tapi aku bisa apa?
Menggerakkan kepala saja amat payah. Tuhan menyuruhku tuk beristirahat. Aku
hanya bisa mengucap Ya Rabbi sambil istighfar berulang-ulang. Meminta
ampunan pada-Nya atas kedzalimanku pada diri.
Panas,
namun aku menggigil. Kubiarkan jaket tebal menyelimuti hingga keringat banyak
bercucuran. Bosan, namun tidak kuat tuk beranjak. Kubiarkan diri ini terbaring
dalam suasana yang sudah 6,5 bulan tiada bedanya. Aku masih tinggal di asrama
dengan teman sekamar yang dia-dia saja. Ah iya. Yang satunya—namanya Hana—juga
sama sepertiku saat ini. Bedanya, dia bisa pulang ke rumahnya di Gresik dan
mendapat perawatan dari kedua orangtuanya. Aku sendiri hanya bisa mengabari
Mamah-Bapa via telepon dan membuatnya khawatir dari kejauhan, namun aku yakin
keduanya kuat-kuat berdo’a.
Sepi,
namun manusia mana yang menemaniku? Lantunan istighfar-lah yang membuatku tidak
merasa sendiri karena ada Dia yang jauh lebih dekat denganku. Tak ada yang
diragukan lagi, aku sudah biasa begini semenjak hijrahku. Mungkin aku lebih
bandel karena tidak ada yang memaksaku untuk minum obat atau segera makan.
Tidak
banyak yang kuingat untuk hari ini. Hanya berawal sejak subuh sehabis mandi,
kurasakan hidungku gatal dan sebentar-sebentar bersin. Aku tidak begitu peduli
karena bersin di pagi hari itu sudah biasa. Lalu aku melakukan aktifitas
seperti biasa: menyiapkan pakaian, menyiapkan buku dan tas, sarapan, tak lupa
juga minum. Normal-normal saja. Dari bersin, kemudian kurasakan hangat di
kepala saat berjalan menuju fakultas untuk mengikuti intensif.
Mungkin
pengaruh suhu AC di kelas yang cukup dingin, membuat hangatnya kepalaku kian
bertambah menjadi panas. Awalnya aku tidak mempedulikan. Aku tetap mengikuti
intensif tanpa keluhan.
Setelah
intensif, aku tidak pindah kelas karena memang kuliah jam pertama tetap berada
di tempat yang sama. Kuliah bersama Prof. Ali. Kali ini beliau membawa asisten
dosennya, Ustadz Ainul Yaqin. Ini sudah kali kedua asdos itu masuk dan belajar
bersama kami.
Sungguh,
aku tidak bisa mendeskripsikan suasana ketika masuk kelas. Aku tidak ingat
Prof. Ali maupun Ustadz Yaqin memakai baju apa, bagaimana gerak-geriknya saat
masuk kelas, pokoknya aku tidak ingat hal yang sampai sedetil itu. Aku hanya
merasakan panas yang semakin menggerogoti kepalaku. Membuat otakku
berputar-putar, mataku melirik kesana-kemari dan pandanganku kiat melemah.
Rasanya ingin tidur saja.
Tapi
aku tetap bertahan. Aku tetap ingin mendengar kata bijak beliau meskipun hanya
secercah yang kuingat. Sampai pada akhirnya aku mendengar beliau bertanya pada
kami.
“Siapa
yang saat ini telah menulis kegiatan kuliahnya?”
Tiba-tiba
Munir mengacung.
“Berapa
halaman?” tanya Pak Prof.
“Satu
halaman,” jawab Munir agak malu-malu.
Pak
Prof mengangguk pelan. Kemudian aku mengacung. Pak Prof melihat ke arahku, dan
bertanya hal yang sama padaku.
“Enam
lembar,” jawabku.
Namun
yang aku tulis bukanlah kegiatan kuliah, melainkan apa saja yang aku rasakan.
Menurutku hal itu bukan masalah bagi beliau. Yang penting menulis,
itulah perkataan beliau yang selalu aku ingat.
Setelah
itu, Pak Prof kembali ke tempat duduknya. Ia membuka-buka sebuah fotokopian
yang sedari tadi terletak di atas meja.
“Saya
sedang menyusun buku berjudul Bersiul di Tengah Badai. Ini editan yang
pertama. Yang halamannya terbanyak berapa? Enam halaman ya? Siapa?”
Aku
reflek mengacung.
“Ambil
mbak,” perintah Pak Prof yang masih duduk di bangkunya. Beliau menyodorkan
fotokopian itu, membiarkan aku sendiri yang mengambilnya.
Aku
tidak percaya bisa mendapatkan ‘sesuatu’ darinya, namun aku bahagia. Biasanya
hanya Lia, si peraih nilai tertinggi hampir di seluruh ujian Prof Ali, yang
selalu mendapatkannya.
“Semoga
itu bisa memotivasimu untuk menulis.”
Aku
hanya tersenyum. Dalam hati aku amat sangat berterima kasih. Momen tadi sempat
membuatku terlupa akan rasa sakit yang mendera ini.
Pak
Prof mengumumkan bahwa minggu depan sudah mulai ujian. Ujian pertama adalah
materi dari tafsir Al Munir yang berbahasa arab itu. Pak Prof menyuruh Rahmat
Faisal, sang kosma, untuk melihat silabus dan menyebutkan materi apa saja yang
akan diuji.
Sebenarnya
ujian kali ini adalah problem bagiku. Aku tidak bisa bahasa Arab.
Panas
menderaku kembali. Aku begitu lemas saat harus pindah posisi untuk berkumpul
bersama teman-teman sekelompok tafsir Ibnu Katsir. Apalagi jika harus
memindahkan bangku agar posisi duduk menjadi bersatu dengan teman-teman
sekelompok. Rasanya begitu pusing. Namun aku mencoba bertahan.
Jujur,
selama dua jam diskusi itu aku tak kuasa menangkap pembicaraannya. Aku jika
tidak menulis sepatah kata pun apa yang disampaikan sang Ustadz. Aku
benar-benar tidak kuat pada dinginnya AC, yang kebetulan posisi dudukku lumayan
dekat dengannya. Panas pun telah menggerogoti sekujur tubuh. Yang kurasakan
hanyalah hawa panas, namun aku merinding kedinginan. Rasa sakitpun bertambah
dengan terasa sakitnya tenggorokan dan ingus yang memenuhi lubang hidung. Ah,
aku memang sedang flu.
Tiada
lagi yang bisa kulakukan, selain bergumam Ya Rabbi, Ya Rabbi… aku mencoba
kuat. Aku sedang mencari ilmu. Berharap masih ada secercah kekuatan agar
aku tetap memperhatikan apa yang Ustadz sampaikan.
Apa
daya. Selama diskusi aku hanya bisa terduduk lemah. Aku hanya bisa menggegam
tangan Zahra yang berada di sampingku erat-erat saking kedinginan. Inginnya aku
bisa mengacungkan tangan, lalu Ustadz memandang ke arahku, dan aku kuasa
berkata saya izin pulang, saya tidak enak badan. Namun aku terlalu malu
untuk melakukan itu di tengah teman-teman yang antusias mengikuti jalannya
diskusi.
Akhirnya
aku pasrah. Kuperhatikan sekuatku saja. Inginnya aku menutup mata, namun aku
malu jika kelihatan tidur. Sesekali aku pun melihat jam, berharap waktu
berputar dengan cepat dan aku bisa pulang.
Namun
diskusinya seru. Banyak yang bertanya. Aku makin dongkol karena semakin banyak
pertanyaan, maka semakin panjang lagi sang Ustadz membeberkan jawaban.
Berkali-kali aku hanya bisa bergumam sudahi…sudahi…sudahi. Lagi-lagi apa
daya, aku tidak bisa menghentikannya. Karena mereka sedang berbicara tentang
ISIS. Tentu saja hal itu tak bisa terelakkan.
Tubuhku,
tidakkah kau mau menunggu sedikit waktu lagi? Aku tahu kau sudah mencapai
batasmu, aku tahu kau sudah meminta hakmu. Mohon bersabarlah. Kita akan segera
keluar. Tinggal menunggu beberapa patah kata lagi dari Ustadz Ainul Yaqin. Aku
pastikan kita kan langsung pulang ke pesmi dan beristirahat. Meski resikonya
kita tidak sempat membeli makanan tuk makan siang. Ah, itu gampang. Bisa nitip
ke teman. Yang penting kamu sabar yaaa…kuatlah…kuatlah…
Lima
belas menit sejak gumamku tadi, ternyata belum selesai juga.
Tubuh
mereka memang tidak sekuat dirimu sekarang. Mohon lebih bersabar lagi.
Tubuhku…mari sama-sama berdo’a agar sang Ustadz segera mengakhiri pembicaraan.
Lima
menit kemudian, Pak Prof masuk kembali sambil menenteng 3 makalah yang
tebal-tebal.
“Ustadz,
sudah cukup,” ucap Pak Prof memotong diskusi.
Alhamdulillah,
tak lama lagi…
Dikira
kuliah kali ini akan ditutup, ternyata Pak Prof menyambung pembicaraan Ustadz.
Ah…rasanya aku sudah K.O. Kalau aku Ultraman, pasti alarm di dada sudah
bersuara tintung-tintung.
Tubuhku…sudah
tak kuat ya? Ah mau bagaimana lagi. Aku tak bisa janjikan apapun lagi jika
tetap menyuruhmu bersabar. Lakukanlah apa yang kamu bisa. Jika kamu memang
sudah lemah, aku pasrah.
Aku
makin tertunduk. Ya Rabb, secercah kekuatan masih aku harapkan. Setidaknya
untuk menghormati Sang Guru Besar yang sedang berbicara pada kami. Disaat-saat
ini, bolehkah aku mengeluh, Ya Rabb? Bolehkah rasanya inginku berteriak dan
menangis karena kuliah yang belum kunjung berakhir ini Ya Rabb? Astaghfirullah…betapa
lemahnya hamba. Sudah tahu lemah, tapi sok-sok kuat dengan banyak
begadang. Bahkan aku baru menyadari bahwa hal itulah yang membuatku merasa
pening sekarang. Ampuni diriku yang telah mendzalimi diri, Ya Rabb. Tidak peka
akan hak tubuh yang telah Kau titipkan ini.
Pak
Prof masih berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Ia meminta salah seorang
diantara kami menyimpulkan diskusi tentang ISIS dengan memakai Bahasa Arab atau
Inggris.
Zahra
mengacung, ia berbicara dengan Bahasa Inggris setelah dipersilakan oleh Pak
Prof.
Temanku
Rifki memandangku.
“Sakit?”
tanyanya.
Aku
hanya mengangguk pelan, mengiyakan dengan nada lirih. Mungkin tak terdengar.
Rifki hanya memandangku iba.
Rasanya
aku ingin benar-benar pasrah selemah-lemahnya. Kalau bisa, sampai pening ini
memutar kepalaku tanpa ampun. Semakin lemas sampai terdengar suara
‘braaaakkkk!!!’ yang begitu keras. Membuat terkejut para mahasiswa beserta
dosen dan asdosnya. Pandangan pun kalang-kabut mencari sumber suara itu. Dan
mereka telah mendapatiku terkapar karena pingsan. Seperti apa yang dialami
Munir seminggu yang lalu.
Maunya
sih begitu!
Namun,
Allah masih menguatkanku. Aku masih waras, tak mau pasrah dan membuat sakit
jadi lebih sakit lagi.
Entah
sudah berapa menit kemudian, aku tak peduli. Yang pasti perkuliahan telah
diakhiri dengan do’a kafaratul majlis.
Sebelum
beranjak pulang, aku ingat bahwa dalam suatu acara, aku diberi amanah
kepanitiaan sebagai DPA. Namun dengan keterbatasan energi, tidak mungkin aku
bisa bekerja. Maka aku mencari Algi.
“Al,
ini surat izin meminjam sound system. Kamu yang sampaikan ya?” ucapku
sembari menyodorkan amplop.
Algi
memandangku sejenak.
“Aku
nggak bisa sekarang,” lanjutku.
Algi
menerima amplop dariku, lalu memandangku lagi.
“Kenapa?
Kok lemes?”
“Aku
sakit,” jawabku singkat. Sambil tak sabar ingin segera pulang.
“Ooohh,
aku juga sedang typus,” lanjut Algi.
Aku
memandangnya heran.
“Kok?”
aku melongo, dia terlihat biasa-biasa saja.
“Yaaa…
kuat-kuatin lah,” lanjutnya lagi. Seolah mengerti pertanyaanku.
“Oooohhh…”
aku mendeliknya. Kemudian berlalu dengan perasaan dongkol.
Aku
bukan wonder woman, yang bisa sekuat itu.
Jawaban
Algi seolah mengejekku, namun memang begini keadaanku sekarang. Lemah tak
berdaya. Jelas-jelas tubuh ini meminta hak untuk istirahat. Lalu aku harus
memungkirinya? Membuat sakitku ini jadi makin lama?
Hampir
saja aku keluar dari lawing pintu…
“Hei
teman-teman! Jangan keluar dulu, ada pengumuman!” seru Rahmat si kosma membuat
kepulangan kami jadi tertunda.
Apa
pula iniiii???
Waktu
pun molor menunggu teman-teman bisa duduk rapi. Ah! Disana ada tembok. Rasanya
inginku benturkan kepala pusingku ini. Lagi-lagi Alhamdulillah, aku
masih waras.
“Teman-teman,
mungkin diantara kita ada yang belum mengerti Bahasa Arab. Bagaimana bisa kita
menghafal Tafsir Al Munir jika materinya saja kita tidak faham?” teriaknya
memulai pengumuman.
“Iyaaaaaa”
seru teman-teman setuju.
LANGSUNG
KE INTINYA, MAT!
“Maka,
aku mengajak teman-teman untuk membahas bersama-sama materinya. Kita kumpul
habis ashar saja ya? Di depan SAC bagaimana?”
“Iya,
setujuuuuu!” seru teman-teman lagi. Terdengar mereka juga tak sabar ingin
menyudahi pertemuan ini.
Setelah
semua dirasa telah cukup, maka kami beramai-ramai keluar kelas.
Aku
berjalan gontai menuju pesmi. Jarak yang biasanya kutempuh dengan kecepatan
langkah 100 km/per jam sekarang hanya bisa dengan 1 km/per menit! Lambat
melebihi siput. Tiada yang menemani. Kebanyakan dari mereka ke gang dosen dulu
untuk membeli makan siang. Untunglah aku telah menitip sayur sop pada Murni.
Di
tengah perjalanan pun aku masih berpikir, iya sih…aku tidak faham Bahasa
Arab. Teman-teman akan beramai-ramai mengkaji materinya bersama. Sebenarnya ini
kesempatan bagiku. Namun bagaimana jika aku tetap tidak kuat? Harus
kurelakankah kesempatan itu? Kesempatan agar aku bisa memahami materi dan
sedikit menghafal untuk menyicil agar nantinya tidak menghafal mendadak? Ah,
yang penting setelah sampai ke pesmi aku istirahat dulu.
Pulang
kuliah, tiada yang kupikirkan lagi selain berbaring. Namun teringat bahwa aku
pun belum shalat dzuhur. Dengan sisa tenaga, aku berjalan pelan nan hati-hati
menuju tempat wudhu. Sedikit mengaduh saat pancuran air dari kran menyentuh
ujung kulitku. Dingin!
Syukurlah,
aku masih kuat shalat dengan berdiri. Aku membaca do’a dengan pelan dalam
shalatku. Sambil merintih menahan pusing, aku shalat sambil memohon kekuatan
dari-Mu. Aku yakin yakin yakin, Engkau Yang Maha Kuat pasti pasti pasti akan
menurunkan kekuatan-Mu padaku. Setidaknya untuk bersabar dan berjuang untuk
kesembuhan.
Setelah
sholat, tentu aku berdo’a.
Ah…rasanya
malu Ya Rabb. Kurasakan duduk bersimpuh ini sebatas ketika aku sedang tak
berdaya dan minta kekuatan. Pernahkah aku bersyukur seperti ini Ya Rabb? Kapan
terakhir kali? Aku tak ingat…bahkan mungkin tak pernah sama sekali.
Ya
Rabb, pantaskah aku yang lebih banyak mengeluh daripada bersyukur ini bersimpuh
dihadapan-Mu?
Sebegini
malunya aku, tapi Engkau-lah tumpuan harapanku.
Ya
Rabb, kuatkan aku. Demi kelancaran studi. Sebagaimana Engkau tahu bahwa aku ini
perantauan, aku pun tak ingin membuat khawatir kedua orangtuaku.
Tak
lama, airmataku meleleh. Aku teringat Mamah Bapa.
Apa
yang harus kulakukan? Haruskah aku mengabarinya? Bagaimana kalau mereka khawatir?
Khawatir?
Ah kurasa itu bukanlah alasan.
Aku
sedang sendiri sekarang. Aku butuh kata-kata yang bisa menguatkan. Siapa lagi
yang bisa kupinta selain mereka?
Aku
masih berpikir sambil melepaskan mukena yang kupakai, meletakkannya di atas
sajadah, melipatnya, sebentar kuletakkan mukenanya di atas lantai untuk melipat
sajadah. Setelah sajadah terlipat, kuletakkan kembali lipatan mukena diatas
lipatan sajadah. Lalu, kuambil keduanya dan berjalan pelan tiga langkah menuju
sebuah kursi kecil untuk meletekkannya. Semua kulakukan dengan pelan. Kursi
kecil itu memang digunakan untuk menumpuk lipatan-lipatan mukena dan sajadah
milik para penghuni kamar.
Lalu
dengan pelan, delapan langkah pelan aku kembali menuju tempat tidur. Aku sudah
tak ingin memikirkan apa-apa lagi selain tidur. Berat terasa kepalaku, sehingga
delapan langkah ini malah lamanya terasa dua kali lipat.
Aku
mencoba untuk tertidur, mencoba berpindah dari dunia nyata menuju alam mimpi.
Siapa tahu saat aku terbangun, aku sudah sehat dan fresh kembali
sehingga bisa melakukan aktifitas dengan normal. Ya, sekarang aku sedang tidak normal!
Tidak seperti yang sedang dilakukan orang-orang.
Lalu
bagaimana dengan mengirim SMS pada Mamah-Bapa? Aku iya, aku merasa telah
diingatkan kembali. Kugerakkan badanku ke arah kiri, tempat handphone biasa
tergeletak. Ternyata tidak ada! Ah, dimana?
Terpaksa
aku harus bangkit lagi. Dengan ogah-ogahan dan hampir menangis karena ingin
tidur, kulelilingi sekitar kasur mulai dari mengangkat bantal, dan mengangkat
apa saja yang ada diatas kasur seperti sarung, dan tas. Tas? Ah iya! Aku baru
ingat jika handphone belum aku keluarkan dari tas sejak aku pulang
kuliah.
Maka
kubuka bagian tas yang depan sambil berharap perkiraanku benar. Ternyata nihil.
Lalu kubuka bagian lain dari tas itu, bagian yang paling besar. Tempat
buku-buku, laptop, dan alat tulis bermuara. Sejenak aku tertawa kecil. Miris,
seorang yang dari tadi sakit ternyata harus memikul beban berat seperti ini.
Ingat seperti itu, tiba-tiba kurasakan pegal di pundak.
Alhamdulillah,
ketemu juga!
Aku
mengusap layarnya, karena itu memang layar sentuh. Kupikir di zaman sekarang
hampir semua orang menggunakan HP layar sentuh.
Aku
membuka aplikas SMS, mencari nomor Mamah di daftar kontak.
“Assalamu’alaikum!”
Sontak
terdengar pintu kamar terbuka dengan keras saat aku hendak mengetik salam.
Belum sempat aku melirik ingin tahu siapa yang membuka. Orang itu sudah muncul
dihadapanku dengan membawa sebuah kresek hitam yang isinya entah apa.
Murni
berdiri dihadapanku dengan mata semi melotot. Matanya memang begitu.
“Mbak
Nad, ini pesananmu. Sayur sop,” ia menyodorkan kresek itu dihadapanku yang
masih melongo. Mencoba mengingat-ingat apa aku benar-benar memesannya? Ah iya,
aku memesannya saat keluar kelas.
“Simpan
aja di meja itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah meja.
Murni
menuruti perintahku. Sepuluh langkah ia menuju meja. Meletakkan kresek itu
dengan hati-hati.
Lalu
ia kembali lagi ke hadapanku.
“Mbak
Nad sakit?” Murni meraba keningku.
“Panas
sekali!” Murni meringis.
“Ya…
seperti yang kau lihat sekarang,” jawabku serak.
“Mbak
Nad nggak boleh kemana-mana ya?”
“Boro-boro
Mur, bangun sedikit aja nggak kuat!” ucapku ketus.
Hening.
Murni duduk di kasurku.
“Oh
iya, nanti setelah asar kumpul buat bahas materi tafsir Al Munir ya?” tanyaku.
“Iya
Mbak,” jawab Murni.
“Kamu
ikut?”
“Ya
ikutlah Mbak, aku nggak sama sekali pembahasannya.”
Aku
termenung. Aku juga tidak paham.
“Ah,
aku maksain nggak ya?”
“Eh…eh…sudah
kubilang jangan kemana-mana Mbak!” seru Murni.
“Tapi
aku juga nggak paham Mur, aku nanti ketinggalan,” keluhku.
“Tapi
kalo maksain juga sama aja Mbak. Nggak akan konsen.”
Aku
terdiam.
“Udahlah
Mbak, jangan mikirin itu dulu. Yang penting makan dulu, istirahat. Urusan
materi itu, kau bisa bertanya ke Mbak Febi.”
Aku
terdiam kembali, mengangguk lemah.
“Ya
udah Mbak, aku balik ke kamar ya? Awas loh, dimakan tuh!” ucap Murni menelunjuk
ke arahku.
“Hehe…iya
Mur, makasih ya.”
“Iya
sama-sama,” lalu ia berlalu dari hadapanku. Lima belas langkah ia menuju pintu
yang masih terbuka.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam,”
gumamku lemas.
Makan?
Ah… aku masih malas. Rasanya masih kenyang.
Aku
berbaring kembali, memperbaiki posisi hingga senyaman mungkin. Lalu menutup
mata.
Ah
iya! Hampir saja aku memasuki alam mimpi, aku ingat bahwa aku hendak mengirim SMS.
Aku langsung bangkit dan mengambil HP yang tergeletak di sebelah kiriku.
Mah,
Pa…
Mohon
do’anya, aku lagi nggak badan
Tak lama, Mamah pun menelepon.
“Teh, lagi sakit?”
“Iya Mah.”
“Apa aja yang kerasa?”
“Panas Mah. Pusing, nyeri tenggorokan,
meriang.”
“Kok bisa? Nggak sarapan dulu ya?”
“Sarapan kok Mah. Ini gara-gara masuk angin,
ada teman yang menghidupkan kipas angin semalaman.”
“Hati-hati dong, matiin aja kalo udah terasa
dingin,” protes Mamah.
“Surabaya panas Mah, dimatiin malah bercucuran
keringat,” ucapku beralasan.
“Hmmm… punya obat nggak?”
“Nggak ada.”
“Periksa atuh, Teh.”
Mendengar saran Mamah seperti itu, aku menerima
dengan keragu-raguan. Ah, dari dulu aku selalu malas kalau disuruh atau diajak
periksa ke dokter.
“Kayaknya enggak deh,” ucapku dengan rasa takut
dipaksa.
“Lho? Kenapa?” tanya Mamah dengan nada mau
marah.
“Malas Mah, apalagi keadaan Teteh sekarang
lemas sekali. Boro-boro periksa ke dokter, jalan ke WC aja pusing banget,”
keluhku sambil meraba-raba kening yang masih panas.
Hening.
Mamah sepertinya berpikir ingin berkata apa
lagi.
“Mah?” panggilku. Memastikan jika telepon masih
nyambung.
“Iya Teh. Hmmm… ini ke Bapa dulu aja, ada
tamu,” kata Mamah terdengar terburu-buru. Terdengar suara kresek-kresek
dari telepon. Sepertinya suara saat Mamah memberikan handphone ke tangan
Bapa.
“Halo… Assalamu’alaikum, Teteh?” sapa nada yang
disebrang sana. Terdengar gagah, karismatik, dan tetap kalem meski yang
ditelpon sedang sakit. Beda dengan nada Mamah yang selalu khawatir.
“Wa’alaikumussalam, iya Pa?”
“Keluhan sakitnya apa aja Teh?”
“Panas, pusing, nyeri tenggorokan dan meriang
Pa,” terangku sebagaimana yang telah kuterangkan pada Mamah.
“Sudah makan?”
Glek! Aku melihat ke arah kresek berisi sayur sop yang masih hangat dan
utuh.
“Belum Pa, hehe,” aku nyengir.
“Lho? Kenapa belum? Nggak ada makan?”
“Ada Pa, nitip sayur sop ke teman. Ini
makanannya baru datang. Tapi aku masih lemas Pa. Aku mau tidur dulu.”
“Oh…kalau begitu Teteh tidur dulu saja, Bapa
masih banyak yang harus dikerjakan.”
“Baik, Pa.”
“Kabari lagi kalau ada apa-apa.”
“Baik Pa.”
“Cepat sembuh ya Teh,” terdengar suara Bapa
berharap.
Aku tahu, Mamah Bapa pasti sedih karena hanya
bisa mendo’akan. Tidak langsung melihat keadaan putrinya dan merawatnya.
“Aamiin,” jawabku.
“Ya sudah, yuu… Assalamu’alaikum.”
“kumsalam.”
Tutt! Telepon pun ditutup.
Aku meletakkan HP kembali di sebelah kiriku.
Aku terdiam sejenak, mau tidur tapi masih
ragu-ragu. Ah, sepertinya aku harus makan dulu. Meski lagi-lagi aku harus
bangkit dalam keadaan lemas, tidak ada satupun orang di kamar ini melainkan
aku.
Dengan pelan aku menuju magic com untuk
mengambil nasi. Lupa! Aku belum membawa piring. Aku berbalik arah menuju lemari
yang di dalamnya ada piring. Lalu kembali lagi untuk mengambil nasi.
Setelah nasi berada diatas piring, aku bangkit
mengambil kresek yang tadi. Aku mengambil satu plastik sayur sop di dalamnya.
Aku membuka ikatan plastik itu sambil meringis karena masih panas. Dengan
hati-hati, kukeluarkan isinya di atas nasi. Satu-dua titik kuahnya menghampiri
kulitku. Panas.
Aku memakannya pelan-pelan. Sebenarnya ogah,
tapi aku harus paksakan diri.
Ah… teman-teman yang lain sedang apa? Tidakkah
mereka tahu keadaanku? Ingin sekali aku dijenguk mereka.
Aku
menyesalkan teman-teman yang tidak terlihat memasuki kamarku tuk sekedar meraba
keningku dan bertanya tentang kondisi saat ini. Apa mereka tidak ingat padaku?
Tidak tahu keadaanku? Sibuk dengan tugas masing-masing? Kemana mereka, yang
katanya mesti aku anggap keluarga? Yang senasib seperantauan?
Ah…
aku hanya bisa menggugam memanggil nama mereka satu per satu. Ya Rabb,
Engkau-lah yang selalu menjagaku, menaungiku di setiap ada dan tidaknya mereka
di sisiku, tiada keraguan atas kasih sayang dan peduli-Mu. Sembari terus
beristighfar, tumpuan harapanku hanya pada-Nya.
Aku
menjadi kian tenang dalam kesendirian. Berkali-kali kutarik nafas pelan-pelan,
mencoba meringankan beban tubuh dengan berbaring pasrah. Kuabaikan dulu pikiran
yang membuatku penat, kurasa percuma jika kubiarkan banyak hal mengitari
pikiran, karena saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Sungguh
mengingat-Mu adalah ketenangan yang luar biasa. Dan aku bersyukur atas dua
malaikat yang telah memperkenalkan-Mu sejak aku kecil.
Ya
Rabb…
Ketika
aku mengingat-Mu, bersimpuh mengungkapkan segala keluh kesahku. Maka kuingat
kedua orangtuaku, yang telah memperkenalkan-Mu. Mengajakku untuk taat pada-Mu.
Mengajariku membaca firman-Mu. Memperlihatkan betapa indahnya hidup berada
dalam naungan-Mu. Mengajari untuk bersabar dan bersyukur. Menunjukkan hanya
kepada-Mu lah segala keluh kesah kuungkap. Kuingat pula sejak kecil aku sudah
diajari mengenakan jilbab. Sungguh, mungkin orangtua yang lain jarang
melakukannya.
Ya
Rabb…
Telah
kuhirup indahnya Islam. Entah apa jadinya jika aku terlahir bukan dari orangtua
yang mengajariku Islam. Ah, tidak usah terlalu jauh dulu. Entah bagaimana, jika
orangtuaku Islam namun tak sekuat Mamah Bapa. Di luar sana, ibunya berjilbab
namun membiarkan anak perempuannya mengumbar aurat. Ataupun ayahnya sudah
berhaji, namun anaknya lalai dalam shalat.
Ya
Rabb…
Kubacakan
Al Fatihah untuk mereka. Jauh disana mereka mengirimi do’a bahkan melebihiku,
dan melebihi siapapun. Mereka yang berdo’a untuk kesembuhanku, meski aku jauh
dari mereka. Aku yakin, Engkau kuatkan aku. Engkau tak kan membiarkanku lemah
berlama-lama di atas kasur ini. Karena perjuanganku amat panjang.
Aku
terus terlena dalam do’a, hingga membawaku terlelap.
***
Tahu-tahu
sudah maghrib saat aku membuka mata kembali. Terdengar dengan jelas suara adzan
dari beberapa masjid. Membuatku merasa harus segera bangkit. Ya Allah, keringat
dingin bercucuran. Kepalaku masih terasa berat. Tapi aku harus kuat menuju
kamar mandi.
Aku
berjalan pelan menuju kamar mandi. Kuucap basmallah saat kakiku menyentuh
keramik yang basah itu. Takut terpeleset.
Aku
meringis saat air menyentuh kulitku. Makin dingin!
Setelah
mengambil air wudu, aku kembali melangkah pelan menuju kamarku. Lalu aku shalat
seperti biasa. Aku masih kuat untuk melakukannya.
Setelah
sholat, aku tidak segera melipat mukena dan sajadah. Hanya kulepas mukena dan
kuletakkan di atas sajadah dengan sembarang. Lalu aku gulung sajadahnya. Karena
tidak lama juga aku akan shalat isya.
Aku
terbaring kembali.
Inginnya
aku tidur kembali.
Tiba-tiba
pintu terbuka kembali, ternyata Murni lagi yang membukanya.
“Mbak
Nad, flashdisk-mu,” Murni menyodorkan benda kecil penyimpan data itu padaku.
“Simpan
lagi disana,” aku menunjuk meja.
Aku
lupa bercerita. Di kelas tadi Murni meminta file materi tafsir Al Munir.
Setelah
meletakkannya di atas meja, Murni kembali ke hadapanku, duduk di kasur, dan
meraba keningku.
“Uh!
Makin panas!” ia meringis.
Aku
hanya memandangnya.
“Udah
makan?”
“Udah,
tadi siang.”
“Sekarang
belum?”
Aku
mengangguk pelan.
“Ada
makanan?”
“Masih
ada sisa sayur sop.”
Murni
hanya manggut-manggut. Lalu ia meraba kakiku dan memijatnya. Ah, ini yang
sedang kubutuhkan. Untunglah ia belum beranjak.
Kudengar
Murni mengomel sambil memijatku. Entah apa yang ia bicarakan. Aku hanya ingin
menutup mata lagi. Namun dari tadi aku sudah tidur.
“Assaalamu’alaikum!”
tiba-tiba ada lagi yang membuka pintu. Suaranya nyaring sekali.
“Wa’alaikumussalam,”
Murni melirik ke belakang.
“Ayoo…ngumpulin
buat mading!” seru suara itu. Ah, itu pasti Rizka si koordinator blok selatan.
Blok kami memang kebagian membuat mading.
Rizka
lalu muncul melihatku.
“Lho?
Sakit?”
“Iya
Mbak,” Murni yang menjawab.
“Kenapa
Nad?” Rizka mendekati dan meraba kening.
“Ya
Allah, puanaasss rek!” ucapnya dengan nada terkejut, “Sek yo, tak
panggil Ustadzah,” Rizka berlari keluar kamar.
“Duh!
Malah panggil Ustadzah lagi. Aku malu,” keluhku.
“Nggak
apa-apa Mbak Nad, biar tahu kalau kamu sedang sakit,” Murni mencoba
menenangkan.
Aku
hanya terdiam pasrah.
Tak
lama, seseorang masuk dan mengucapkan salam. Suaranya nyaring.
“Sakit
dek?” tanyanya. Ternyata Mbak Chinda, salah satu pengurus.
Murni
yang mengangguk.
“Ada
obat dek?”
Aku
menggeleng.
“Ke
rumah sakit aja yuk dek. Biar dapet obat, biar disuntik juga, biar cepet
sembuh.”
Aku
menggeleng dengan cepat. Dengar disuntik-nya itu loh!
Kemudian,
seseorang kembali masuk. Suaranya keibu-ibuan.
“Ini
yang sakit?” perempuan itu melihat ke arahku. Ia Ustadzah Nike.
“Iya
Ustadzah,” Murni lagi yang menjawab.
Ustadzah
Nike meraba keningku. Tidak terdengar tanggapannya, namun aku yakin ia
merasakan panas yang sama.
“Sejak
kapan?” tanya Ustadzah. Murni agak menggeser posisi duduknya dan mempersilakan
Ustadzah untuk duduk.
“Tadi
pagi,” jawabku.
“Nggak
sarapan ya?” tuduhnya.
“Sarapan
kok, beneran.”
Ustadzah
terdiam.
“Mungkin
masuk angin,” lanjutku.
“Begadang
ya?” duganya lagi.
“Iya…hehe,”
cengirku.
“Hmmm…kok
begadang?”
“Banyak
tugas.”
Ustadzah
terdiam lagi. Aku yakin beliau akan melarangku untuk begadang.
“Sekarang
kuat kalau dibawa periksa?”
Aku
menggeleng.
Tiba-tiba
empat orang beramai-ramai memasuki kamar.
“Nadia
sakit?” tanya salah seorang dari mereka. Lalu ia menyentuh keningku.
“Ya
ampun, demam!” gumamnya.
Tiga
orang yang lain mendekatiku penasaran. Sungguh! Aku memang tahu kalau mereka
tetangga kamar. Namun tak satupun kuingat namanya!
“Tolong
ya, mungkin sekiranya ada yang bawain air hangat. Terus bawa air dingin dan
handuk kecil untuk mengompres,” komando Ustadzah kepada empat orang itu.
Tanpa
pertimbangan apapun, mereka segera keluar mengikuti perintah Ustadzah.
Aku
melongo. Ya ampun, siapa nama mereka? Kenapa mereka ingat betul namaku? Lalu
kenapa mereka datang padaku? Melihat kondisiku?
“Sekarang
dikompres saja dulu sambil minum air hangat juga. Kalau nanti habis isya malah
tambah parah, kita bawa periksa, oke?” komando Ustadzah.
Aku
mengangguk pasrah.
“Ya
sudah, saya keluar. Murni yang jaga ya? Kalau ada apa-apa segera lapor ke saya.
Biar ada tindakan.”
“Baik
Ustadzah,” Murni mengangguk.
Ustadzah
mengucapkan salam kemudian berlalu.
Lalu
empat orang tadi kembali masuk.
“Nad,
kompres ya?”
Seseorang
membawa handuk kecil, ditemani satu orang yang lain yang membawa nampan berisi
air dingin. Air itu didapatkan dari air botol mineral dingin yang dijual di
kantin bawah asrama.
Handuk
kecil dimasukkan ke dalam air itu, lalu diperat, dan diletakkan di atas
keningku dengan hati-hati.
“Nad,
minum dulu,” seseorang yang lain menawarkan segala teh padaku.
Aku
beranjak duduk. Menerima segelas the itu. Aku tak segera meminumnya karena
panas saat disentuh. Aku baru menatapnya saja. Air coklat bening itu
memantulkan bayanganku. Oh lihat, wajah yang begitu malang karena sedang demam
tinggi.
Aku
meminumnya dengan pelan-pelan. Sedikit meringis karena panas. Ah, entah mengapa
teh yang kuminum ini terasa membuatku sesak. Bukan karena tak enak. Tetapi
karena perasaan haruku. Bisakah kubayangkan mereka rela kerepotan membuatnya
untuk seorang yang begitu acuh pada mereka?
“Panas
ya Nad?”
“Iya
sedikit.”
“Minum
aja pelan-pelan.”
Aku
mengikuti perintahnya. Aku menghabiskan seperempat gelas, lalu menyodorkannya
pada Murni karena dirasa sudah cukup.
Murni
meletakkan gelas itu di kolong kasur.
Lalu
aku kembali memposisikan diri untuk berbaring.
“Istirahat
lagi Nad.”
Aku
mengangguk.
“Kita
pamit ya Nad. Cepet sembuh ya,” ucapnya—entah siapa—dengan ramah dan terlihat
begitu hati-hati.
Empat
orang itu berlalu. Pandanganku mengikuti mereka sampai mereka keluar kamarku.
Hening
sejenak.
Murni
masih memijatku.
“Murni?
Mereka siapa aja?”
“Mana
kutahu? Aku tidak satu blok dengan kalian. Jadi Mbak Nad nggak tahu?”
Aku
menggeleng.
“Ya
Allaah, kemana aja Mbak? Mbak nggak kenalan sama mereka?”
“Aku
nggak ingat nama mereka. Lagian, aku memang tidak pernah ngobrol sama mereka
sebelumnya,” ujarku beralasan.
Murni
hanya menggeleng heran melihatku yang tidak pandai bergaul ini.
Namun…
Ya Rabb.
Selama
ini ternyata mereka tahu namaku. Dan begitu pedulinya mereka saat tahu kalau
aku sedang sakit. Mereka dengan sigap menyiapkan segala macam yang dibutuhkan
orang sakit.
Ya
Rabb…
Pernahkah
ada peduliku pada mereka? Bahkan ketika berpapasan saja, aku selalu ragu-ragu
untuk menyunggingkan senyum kearah mereka. Aku tidak tahu kalau mereka akan
sepeduli ini.
Ya
Rabb…
Engkau
Maha Peduli. Engkau sampaikan peduli-Mu pada orang-orang yang tak
disangka-sangka, disaat teman-teman terdekat tidak ada yang peduli.
Aku
menyesal enggan berkenalan dengan mereka, ternyata mereka baik. Dan inilah yang
mereka lakukan pada orang yang cuek sepertiku. Aku merasa tak pantas mendapat
perlakuan seperti ini. Namun apa yang bisa kuingkari? Jelas-jelas mereka
menolongku, dan aku ingin membalas kebaikan mereka. Alhamdulillah, aku
mendapat pelajaran yang amat berharga.
Tak
disadari, airmataku menetes. Aku segera mengusapnya, malu kalau Murni
melihatnya.
Mamah,
Bapa. Kutahu kalian amat mengkhawatirkanku. Kutahu kalian kebingungan karena
tiada lagi yang bisa kalian lakukan disaat putrimu tinggal amat jauh. Namun,
siapa sangka kalau Mbak Rizka tiba-tiba masuk ke kamar dan melihat kondisi
malangku? Siapa sangka kalau ternyata teman-teman kamar—yang tidak begitu
kukenal—malah ramai beriringan masuk dan turut prihatin akan kondisiku?
Membantu segala hal yang mereka bisa supaya aku sembuh? Siapa sangka kalau
Ustadzah pun begitu memperhatikanku layaknya seorang Ibu?. Ya Rabb, rizki-Mu
memang datang dari tempat yang tak disangka.
Sekaligus
aku malu. Kemana saja aku di penghujung setahun kuliahku? Bukankah seyogyanya
mereka telah kukenal baik? Minimal kutahu nama mereka satu-satu. Ini makin
menegaskan bahwa aku tidak becus dalam berteman. Sehingga seringkali aku diri
ini merasa terasingkan, padahal aku sendiri yang buta bahwa mereka sebenarnya
baik-baik. Seringkali aku merasa wajah mereka datar sekali ketika berpapasan,
padahal aku sendiri yang tak mau duluan bertebar senyum.
Kuseruput
teh hangat itu kembali dengan penuh haru. Setidaknya aku tahu apa yang harus
kulakukan. Aku harus melakukannya!
Sangat menggugah, namun dikoreksi kembali EYD nya...
BalasHapusSemangat semangat..
Owh iya dilihat kembali penulisan bapak. Disitu terdapat tulisan bapa, kurang satu huruf K. Orang mengira bapa adalah yang biasa di sebut oleh kaum nonmuslim
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusGOOD JOB nad... hobimu baca novel ternyata cukup berpengaruh pada tulisanmu.. semoga kelak jadi novelis terkenal...
BalasHapusamiiin
terus menebar manfaat untuk sesama :)
bagus, jiwa novelisnya sudah nampak tinggal diasah lagi neng. jangan lupa kunjungi blogku dan sisipkan komentar ya (http://fiskamahasantri-nusantara.blogspot.com/2015/05/aku-hidup-bersama-doanya-meniti-kisah.html)
BalasHapusCieee.... yg belum nge print... Hehehe. Gak kok.
BalasHapusTulisan sampeyan ok wes... but kita harus perhatikan EYD... oc.
bagus nadia jiwa novelis
BalasHapusbanget lo, merinding bacanya, semoga kita sering sering ikut pelatihan kepenulisan, kalau diajak jangn nolak (hahahahahah becanda) tinggla diasah dan akhirnya dipublikasikan, bingung mw koment apa hahhhaa ywdh koment punya ku yah
lanjutkan nad!!! hafidzah tak hanya bisa menjadi penghafal namun juga bisa menjadi penulis.siip
BalasHapusAssalamu'alaikum
BalasHapusBismillahirrahmaanirrahiim..
Bagus kok mbak. Kata-katanya tidak membosankan dan membuat diri yang rendah ini ketagihan membacanya. Jadi penasaran bagaimana ceritanya kedepannya.
Mau ngasih saran sih mbak. Coba deskripsikan tempatnya. Jadi para pembaca bisa menggambarkan keadaannya. Ceritanya juga pasti jadi lebih greget.
Itu aja sih. Maaf kalau tersinggung dan sok menggurui.
Wassalamu'alaikum..
Bagus. Teruslah menulis, dan dunia akan segera mengenalmu. Minimalisir lagi kesalahan tata bahasanya ya. :)
BalasHapusBagus. Teruslah menulis, dan dunia akan segera mengenalmu. Minimalisir lagi kesalahan tata bahasanya ya. :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSudah bagus tulisannya dek.. Tinggal dibiasakan saja dalam menulis..
BalasHapusUntuk awal memang perlu adanya pemakasaan dari orang lain, tapi itu tidak boleh berlanjut. Untuk selanjutnya yang memaksa harus diri sendiri..
Tetap semangaaat..!!:D
Nadya,,,,,
BalasHapusPenulisanny udh seperti d novel,,
Waah sangat mendalam,
Tingkatkan lg,, hidup masih koma,,
Good job,,
Jangan lupa singgah di blog q yaa,, karenaakusanghamba.blogspot.com
Nadya,,,,,
BalasHapusPenulisanny udh seperti d novel,,
Waah sangat mendalam,
Tingkatkan lg,, hidup masih koma,,
Good job,,
Jangan lupa singgah di blog q yaa,, karenaakusanghamba.blogspot.com
bagus... sering baca novel nie.. xD
BalasHapusq singkat z wes.. coment banyak2 g masuk.. hahahaha..
yg penting tetap melakukan 4 hal ya...
1.NIAT dan YAKIN
2.berusaha keras dan Beramal soleh
3.Musyawarah
4.Sabar
jika kamu lakukan terus Insya Allah akan menjadi hal yang tak terduga.. xD
Ini kisah nyata bukan Teh Uji? terasa nyata karena detailnya cukup menggambarkan suasana sekitar kisah yang coba dibangun..
BalasHapusPlot nya kalau untuk cerpen mungkin agak kepanjangan, jadi dilanjutkan saja menjadi novel..sayang kalau ceritanya berhenti sampai di situ..
oiya,tambahkan keterangan pada beberapa istilah dan singkatan ya..biar bisa difahami kalangan pembaca yang lebih luas..
Semangat Teh Uji...what does not kill you, makes you stronger..
What a beutiful article...good job Teh Chan.
BalasHapusThe EYD Is better than me...
Share your knowledge..exactly about Msc. Word sistematic
What a beutiful article...good job Teh Chan.
BalasHapusThe EYD Is better than me...
Share your knowledge..exactly about Msc. Word sistematic
Subhanallah ,,,,bagus banget teh,,,,dan saya berharap menulisnya tidak hanya sebatas ini saja,,,masi banyak ilmu menulis yang belum kita kuasai dan harus kita kuasai,,,,tetap semangat tetehhh,,,saya akan menunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya,,,,,
BalasHapusSubhanallah ,,,,bagus banget teh,,,,dan saya berharap menulisnya tidak hanya sebatas ini saja,,,masi banyak ilmu menulis yang belum kita kuasai dan harus kita kuasai,,,,tetap semangat tetehhh,,,saya akan menunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya,,,,,
BalasHapusUdh bgus bgt tpi harus ada kata yg dibenerin nih kata yg ini "ini sudah kali kedua asdos itu masuk".seharusnya biar lbh enak dibacanya diganti jdi gini "ini sudah kedua kalinya si asdos itu masuk" dan biar lbh greget ditambahin instrumen2 konflik yg lbh greget yg bikin si pembaca lbh penasaran. Tpi ini udh bgus bgt penulisannya bgus, good job lah
BalasHapusUdh bgus bgt tpi harus ada kata yg dibenerin nih kata yg ini "ini sudah kali kedua asdos itu masuk".seharusnya biar lbh enak dibacanya diganti jdi gini "ini sudah kedua kalinya si asdos itu masuk" dan biar lbh greget ditambahin instrumen2 konflik yg lbh greget yg bikin si pembaca lbh penasaran. Tpi ini udh bgus bgt penulisannya bgus, good job lah
BalasHapusMasyaAllah sahabat yang satu ini multi talent syekali.. Keuuuuuren, menginspirasi :) semangat, terus berkarya ya !
BalasHapusMasyaAllah sahabat yang satu ini multi talent syekali.. Keuuuuuren, menginspirasi :) semangat, terus berkarya ya !
BalasHapussetuju deh sama komen yang di atas. gtw mau komen apa.. retorikanya bagus banget,, novelist nih yee,,, jadi pengen belajar sama ismi nadia hhe.. semangat menulis adek besar
BalasHapuskaka .. tulisannya kereeeennnn, jadi inget masa dulu di mualimienn semangat terus pokoknya,sukses :) ditunggu ya karya selanjutnya
BalasHapusbegini ya ulisan novelis pemula... ajib...
BalasHapustinggal diperjelas latar suasana biar pembaca lebih bisa menghayati,
BalasHapusklo sering2 nulis kayak gini, nati coba ke penerbit, lanjutkan!
udah bagus nad, EYDnya lebih teliti lagi.. semangat cantik, lanjutkan :) #penulismuda
BalasHapustetap semangat mbak buat bulisnya.,
BalasHapusbibit novelis sudah ada nih.. terus menulis ya... kutunggu postingan selanjutnya :)
BalasHapusTulisannya keren, bisa buat motivasi orang banyak 👍
BalasHapusTulisan calon satsrawan ini, great! tuangkan semua kisah atau ceritamu dalam bentuk tulisan, terus membaca untuk menambah wawasan dan perbendaharaan kosakata yang lebih variatif. Sukses.
BalasHapusBagus Nad. Pilihan katanya ngena banget. Good job! Lanjutkan!
BalasHapusWah, resiko jadi Mahasiswa Rantauan. :)
BalasHapusHarus terbiasa di Kota Orang, Keliatan kalau logat Sundanya masih dipakai sangat baik, Nafas aja jadi Napas. Hehe
Lanjutkan, Nad!
Setuju juga tuh, sama komentar yang pertama, EYD-nya di perhatikan lagi. ^^
BalasHapusayoo nad..... semangat terus...
BalasHapuslejitkan manu dengan karyamu
BalasHapusoh ya jangan lupa koment balik yah. ok
BalasHapuscalon novelis, amiiin
BalasHapustulisan kamu keren bgt.... seolah-olah tokoh yg ada di tulisan kamu itu adalah sang pembaca.... calon novelis besar euyyy ini mh....
BalasHapussemakin banyak berlatih, semakin baik nad..... jangan sampai malas untuk memperbaiki koreksian-koreksian yg ada.....
BalasHapussemakin kita tahu kesalahan-kesalahan kita, maka kita dituntut untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut
BalasHapusbagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .
BalasHapustetap istiqomah menulis yah, ,
BalasHapusmantappp ,,,novelis bangat,,,I like it
BalasHapushanya ada beberapa kalimat yang menulisnya kurang perasaan ,,jadinya ada yang rancu gtuu,,,
BalasHapuskamu memang memiliki bakat dalam tulis menulis..
BalasHapustulisanmu bia di sandingkan dengan tulisan orang-orang hebat di luar sana
lanjutkan tulisannya ya,, ta tunggu tulisan selanjutnya
BalasHapuskeren pisan tehhhh
BalasHapusnovelnya dapet
not only memorising but also writing
Semangat menulis kakak !!!
Alhafizhah, amiin tapi tetap sempat menulis. Sangat inspiratif, ada hal yang membuat tulisan ini beda dengan yang lain. Ruh dari sang penulis menguatkan bahwa penulis punya masa depan cerah dalam dunia literasi.
BalasHapussemangat terus menulisnya teteh nadia... terbitan bukunya di tunggu yah..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmantap (y)
BalasHapus