Aku
berasal dari sebuah Kabupaten yang jika nama itu disebut, maka orang yang
mendengarnya seketika teringat suatu makanan bernama ‘Dodol’. Namun, ada sebuah
pengalaman yang menarik dan kurang mengenakan pula, ketika aku masih kelas 2 MA
dan kebetulan aku beserta teman-teman satu sekolah sedang pergi study tour
ke Jakarta. Saat itu kami berkumpul di Masjid Istiqlal dalam keadaan berseragam
sekolah, maka para pedagang di sekitar pun melihat kami dengan tatapan
penasaran.
“Dari
mana Dek?,” tanya salah seorang pedagang souvenir ketika aku dan
beberapa teman melewatinya.
“Dari
Garut,” jawabku agak sungkan, aku menduga akan terjadi sesuatu ketika aku
menjawab tempat asalku.
“Ooooh…si
Aceng Fikri itu ya?” respon si Bapak pedagang itu setengah berteriak, beberapa
pedagang lain pun menoleh.
“Itu
Bupati yang menceraikan istri mudanya lewat SMS kan? Padahal baru kawin empat
hari,” tanya pedagang makanan ringan, nimbrung. Terlihat pedagang lain
pun menggelengkan kepala.
Kemudian
ramailah para pedagang dengan pertanyaan dan obrolan yang semakin tidak
mengenakan hati. Aku yakin sebenarnya mereka sudah tahu kabar itu lewat
televisi maupun koran, mungkin mereka lebih antusias ketika bisa melihat orang
Garut-nya langsung. Melihat wajah-wajah rakyat yang dipimpin oleh sosok
Bupati seperti itu.
Aku
dan teman-temanku segera menghindari suasana tersebut untuk segera menuju bus.
Agak dongkol juga aku mendengar komentar para pedagang. Jelas-jelas aku
muak pada Bupati yang telah merubah persepsi masyarakat. Awalnya ketika
mendengar ‘Garut’, pasti mereka menanggapinya dengan seringai ramah sambil
teringat Dodol atau Domba Garut. Namun ketika kasus Aceng Fikri sedang booming,
mereka menanggapi dengan tatapan melecehkan. Sakitnya tuh disini!.
Namun
tak apa, itu semua sudah berlalu. Mungkin masyarakat sudah terlupakan oleh
kasus seperti itu, karena semakin banyak kasus yang lebih menarik perhatian
seiring berputarnya waktu.
Oh
iya! Namaku Nadia Nafisah Fauziah. Aku asli Garut dan Sunda tulen. Jika kamu
ingin melihat bagaimana wajah gadis Sunda yang cantik nan lugu juga logatnya
yang terkenal lirih nan lemah lembut, maka aku salah satu yang terbilang
orisinil. Di kampung halamanku, aku tak begitu pandai berbicara menggunakan
Bahasa Indonesia diantara remaja-remaja lain yang ngakunya orang Sunda
namun lebih suka berbahasa Indonesia bercampur bahasa alay.
Kedua
orang tuaku juga Sunda tulen. Bapakku bernama Nandang Rusnandi, beliau sosok
ayah yang penyabar dan jarang marah, bahkan hampir tidak pernah. Profesi beliau
yang penjahit ini membuat keluargaku diajarkan untuk senantiasa hidup sederhana
dan bersahaja. Bahkan untuk baju pun kami tidak pernah beli. Cukup membeli kain
yang murah meriah lalu Bapak tinggal menjahitkannya, hehehe.
Namun,
yang aku sukai dari beliau adalah otak kreatif dan ketelitiannya. Meskipun
penjahit, namun baju-baju karya beliau ini tidak kalah bagus dengan baju-baju
yang dijual di mall-mall terkenal. Dan meskipun mengandalkan kain yang
murah, beliau tetap berusaha agar jahitannya tidak murahan. Kami (aku,
Mamah, dan Dede) sendiri lebih bangga dan nyaman memakai baju hasil jahitan
beliau ketimbang mesti beli yang sudah jadi.
Aku
sendiri suka menggambar. Waktu SD aku senang sekali menggambar desain baju dan alhamdulillah
hasil gambarku selalu mendapat apresiasi baik dari kedua orang tuaku maupun
orang-orang di sekitarku. Bahkan mereka menyarankan agar nantinya aku menjadi designer.
Bapak juga antusias dengan kegemaranku.
“Nanti
teteh yang merancang bajunya, lalu Bapak yang menjahitnya,” begitu ujar
beliau.
Aku
juga antusias untuk menggambar lebih banyak lagi. Bahkan saat itu aku sudah
memantapkan hati untuk menjadi designer, agar nantinya aku bisa bekerja
sama dengan Bapakku. Namun, karena aku terlalu sering menggambar ketimbang
belajar, aku seringkali dinasihati Mamah untuk bisa membagi waktu. Emang
dasar, saat itu pikiranku masih sangat labil. Aku menganggap Mamah telah
melarangku menggambar, maka aku menghindari kegiatan menggambar dan akhirnya
lama-kelamaan aku tidak tertarik untuk menggeluti dunia desain, sampai
sekarang.
Mamahku
sendiri bernama Sumarni, waktu seusiaku beliau bisa dibilang ‘kembang desa’.
Jika tadi aku mengaku gadis Sunda tulen, maka Mamah lebih tulen lagi. Beliau
cantik, sopan, lemah lembut, dan sering menjadi idaman para pemuda pada
masanya. Namun, Mamah banyak mengalami rintangan dalam hidupnya. Dimulai dari
ketika beliau duduk di bangku SMA, beliau hidup jauh dari kedua orang tuanya
dan tinggal di kosan. Lalu beliau melanjutkan kerja di sebuah pabrik tekstil
yang terkenal di Bandung, setamat SMA. Pergaulan dan gaya hidup menjadi
problema yang harus Mamah hadapi. Namun, itulah yang justru membuat Mamah
menjadi sosok wanita yang tangguh dan istiqamah. Beliau rajin mengaji
sehabis shalat maghrib sambil menunggu kumandang adzan isya’ diantara
rekan-rekan kerjanya yang gemar malam mingguan bersama pasangan masing-masing.
Beliau juga lebih suka menginvestasikan gajinya untuk masa depan diantara
perempuan-perempuan yang mestinya mendandani diri mereka agar terlihat menarik.
Itulah sepantasnya ‘kembang desa’, wanita tangguh yang menjaga kehormatannya
dan berpikir maju untuk masa depannya.
Mamah
dan Bapa adalah sumber inspirasi pertamaku. Mereka pula guru pertama yang
mengajarkan banyak hal tentang makna kehidupan, terutama makna kesederhanaan.
Mamah yang mengajarkanku untuk menjadi wanita pemberani dan mandiri. Bapa yang
mengajarkan tentang ketegaran, kesabaran, kasih sayang, dan tidak mendendam.
Mereka memberi teladan yang berharga bagi anak-anaknya. Maka, aku ingin seperti
mereka.
Ngomong-ngomong,
aku ini anak sulung dari dua bersaudara. Adikku bernama Muhammad Rafi Sidqi
Fauzan, oleh keluarga dan kerabat biasa dipanggil Dede, namun ia tidak begitu
suka dengan namanya yang terlalu panjang. Inginnya ia membuang nama ‘Muhammad’
di depannya itu.
“Percuma
namaku ada Muhammad-nya, tapi panggilanku Rafi. Terus, kalau biasanya namaku
cuma ditulis ‘M. Rafi’, lalu buat apa nama depanku Muhammad? Mubazir itu!”
ketus Dede.
“Emang
mau dipanggil Muhammad?” tanyaku.
“Nggak
mau lah, ribet!”
Mamah
dan Bapak selaku yang memberi nama hanya bisa tersenyum. Lagian, membuang nama
‘Muhammad’ yang sudah terlanjur tercantum di akta kelahiran itu lebih ribet.
Dede
ini bagaikan bintang bagi keluarga. Orang-orang sekitar mengakuinya serba bisa.
Sejak usianya empat tahun pun ia menggemparkan orang-orang sekampung karena
sudah bisa membaca. Pokoknya, banyak yang menyukai Dede, bahkan orang yang baru
bertemu dengannya pun langsung ‘jatuh hati’.
Aku
iri pada adikku. Kedua orang tuaku selalu membanggakannya karena prestasinya,
sedang aku sendiri bisa apa? Aku memang tidak begitu menjadi bahan pembicaraan,
karena memang apa yang menarik untuk diperbincangkan?.
Semua
mengarah pada Dede. Jika banyak sanak saudara yang datang berkunjung, pasti
yang ditanya duluan adalah Dede. Kalau mengobrol dengannya pasti yang ditanya
tentang ilmu pengetahuan, lalu Dede akan menjawabnya dengan rinci dan membuat
yang mendengarnya semakin kagum akan kepintarannya. Aku hanya bisa duduk diam
dan diabaikan.
Ya,
apa serunya mengobrol denganku? Gadis pendiam yang banyak nggak tahunya.
Peringkatku di sekolah tidak secemerlang prestasi Dede yang selalu menjadi
juara umum dan beberapa kali mendapat juara olimpiade se-Kabupaten, sampai ia
pernah maju di olimpiade se-Provinsi.
Sewaktu
aku SD, mungkin prestasiku lumayan bisa menduduki peringkat sepuluh besar.
Namun ketika duduk di MTs, aku rasa menduduki peringkat yang nyaris paling
rendah itu sudah hal biasa. Bahkan aku sudah tak ingat kenapa dahulu aku bisa
begitu? Aku tak ingat apakah dulu aku pemalas? Apakah karena waktu itu aku
duduk di kelas—yang katanya—unggulan dengan daya saing yang cukup ketat?
Sehingga mungkin aku tertekan karena hal itu?.
Kalau
aku merasa paling rendah, kok aku bisa masuk kelas unggulan?
Hmmm…mungkin karena waktu kelas 1 MTs, nasibku sedang lumayan bejo.
Waktu kenaikan kelas aku beruntung bisa menduduki peringkat enam, sehingga aku
masuk kelas unggulan yang berisi santri-santri yang menduduki peringkat sepuluh
besar.
Mamah
dan Bapa sudah berusaha mengingatkanku agar belajar lebih giat, aku pun perasaan
sudah berusaha untuk melakukannya. Entahlah, kurasa prestasiku kian merendah.
Pada saat itu pun aku sering sakit-sakitan.
Keadaan
semakin buruk dan menyedihkan ketika pembukaan kelulusan UN, dimana aku
menerima sebuah amplop yang isinya lulus/tidaknya hasil ujianku beserta
nilai-nilainya. Betapa lemas rasanya melihat nilai-nilaiku berada dibawah
rata-rata, meski sedikitnya aku tetap bersyukur karena masih diluluskan karena
untuk nilai akhir diakumulasikan dengan nilai sehari-hari. Namun tetap saja
nilai-nilai ini mesti aku perlihatkan kepada Mamah dan Bapa, itulah yang
membuatku takut.
Aku
berjalan gontai menuju rumah, ketika sampai halaman pun rasanya aku ingin
mundur lagi dan berlari menjauh dari Mamah dan Bapa. Ah, kenapa aku mesti
pulang dengan membawa benda yang mesti Mamah dan Bapa lihat? Ini seharusnya
tidak terjadi.
“Assalamu’alaikum,”
salamku dengan suara yang amat pelan. Seperti biasa, Bapa sedang menekuri
jahitannya.
“Wa’alaikumussalam.
Eh, Teteh sudah pulang. Bagaimana hasil UN-nya?” Bapa menghentikan jahitannya
sejenak untuk menghampiriku, mengusap kepalaku, dan tersenyum. Hatiku semakin
sesak dengan keadaan itu. Tidak lama lagi aku akan menyurutkan senyum Bapa!.
“Emmmhh…Mamah
mana Pa?” tanyaku basa-basi.
“Mamah
sedang ke pengkolan, beli alat jahit. Teteh cepatlah makan!”
“Iya
Pa!” ucapku segera hendak masuk rumah.
“Eh…eh…mana
hasil UN-nya?” teriak Bapa ketika aku hendak masuk kamar, menyimpan tasku. Ah,
kenapa Bapa harus ingat?.
Akhirnya,
dengan jantung yang berdegup luar biasa kencang aku memberikan amlop itu kepada
Bapa. Amplop berisi kabar buruk tentang anaknya. Aku langsung berlari
kecil menuju kamar tatkala amplop sudah sampai di tangan Bapa, menutup pintu
rapat-rapat, dan menutup kepalaku dengan bantal.
Dua
jam berlalu, aku sadar bahwa adzan Ashar telah berkumandang. Namun aku masih
menggeliat manja dan tidak berniat untuk bangkit dari tidurku. Dengan malas aku
memperbaiki kembali posisi tidurku. Namun, belum sempat aku melanjutkan mimpi,
terdengar pintu kamarku terbuka.
“Teteh,
cepatlah bangun!” perintah Bapa yang
tenyata membuka pintu kamarku.
Aku
masih setengah sadar dan malas-malasan.
“Cepat
shalat, jangan malas-malasan! Jangan kau biasakan menunda-nunda!” perintah Bapa
lagi, terdengar setengah membentak.
“Iya…”
ucapku pelan dengan perasaan kesal sekaligus bersalah. Aku tahu, pasti Bapa
marah ketika membuka amplop.
Aku
keluar menuju kamar mandi, sementara itu Bapa sudah beranjak menuju masjid dan
Mamah pun belum pulang. Aku segera mengambil air wudhu. Betapa merindingnya aku
kala dirasakan airnya begitu dingin. Memang beginilah Garut, tempatnya begitu
sejuk.
Tepat
saat aku selesai shalat Ashar, Bapa pun masuk ke rumah selepas pulang dari
masjid. Mengetahui keberadaan Bapa, aku menunduk pura-pura khusyuk dalam
berdo’a. Bapa pun semakin mendekatiku dan kurasakan beliau mengelus pundakku.
“Maafkan
Bapa, sebenarnya Bapa begitu kesal tadi,” ujar Bapa memulai percakapan.
Aku
mengangguk, sambil terus menunduk.
“Keras
atau tidaknya usahamu selama ini, itu Teteh sendiri yang merasakan. Untuk
hasilnya sekarang, semua itu sudah menjadi resiko yang mesti ditanggung Teteh.
Ya, Mamah dan Bapa hanya tahu biaya sekolah Teteh selama ini, tidak begitu tahu
bagaimana perjuangan sekolah Teteh selama ini. Untuk sementara ini, Teteh lulus
UN saja sudah Alhamdulillah,” lalu Bapa berhenti mengusap pundakku dan
memperbaiki posisi duduknya menjadi di depanku.
“Tapi
jika dipikir-pikir, Teteh belajar di MTs saja persaingannya sudah begitu ketat.
Apalagi di MA ya?”
Aku
masih terduduk diam. Iya mungkin.
“Mungkin
selama ini Teteh terbebani karena hal itu, apakah benar?”
Aku
mengangguk pelan.
“Bapa
mulai berpikir untuk memasukkan Teteh ke SMK tata busana. Ya, itung-itung
Teteh bisa membantu pekerjaan Bapa setelah lulus kelak.”
Aku
tertegun mendengar tutur kata Bapa. Namun aku belum bisa yakin bahwa itu telah
menjadi keputusan telaknya. Ya Allah, sungguhkah akan begitu nasibku?
Tapi kenapa? Apakah hanya karena alasan tadi?.
“Ngapain
Bapa bayar mahal-mahal untuk memasukkan Teteh ke MA jika ujung-ujungnya
Teteh akan semakin mendapat tekanan karena persaingan yang kian ketat? Mending
ke SMK tata busana. Hmmm…mungkin biayanya tidak sedikit juga, tapi disana tidak
begitu mengandalkan kemampuan kognitif, yang penting keahlian dan
keterampilan.”
Mati
aku! Padahal aku sangat ingin masuk MA. Tahukah Bapa kalau akhir-akhir ini aku
sedang tertarik pada Psikologi? Akhir-akhir ini aku mulai tertarik tentang
dunia perkuliahan? Bagaimana aku bisa menggapai hal itu jika ternyata Bapa hanya
berharap aku jadi penjahit?.
“Bapa
pikir keputusan ini akan lebih baik untuk Teteh kedepannya. Teteh tidak
mesti memaksakan diri untuk sukses di bidang akademik, karena kelak akan ada
lelaki yang menikahi Teteh. Ya, semoga saja kelak Teteh mendapat jodoh yang
saleh, berpendidikan tinggi dan mapan. Semoga Teteh dapat menerima kenyataan
ini,” ujar Bapa mengakhiri obrolan horor ini. Bapa meninggalkanku yang
masih terduduk diam dengan gejolak hati yang meluap-luap namun tidak mampu
kuungkapkan dengan kata-kata. Rasanya aku ingin memotong omongan Bapa barusan,
namun saat-saat seperti rasanya bukanlah waktu yang tepat untuk melawan.
Aku
belum beranjak dari tempat shalatku dan masih mengenakan mukena. Kupikir inilah
saat yang untuk berkeluh kesah pada-Nya. Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum
pengumuman hasil UN dibuka, entah kenapa aku menjadi begitu tertarik akan dunia
perkuliahan. Kurasakan mulai muncul sebuah keinginan untuk mencapai sesuatu
yang sebelumnya belum pernah aku pikirkan saat MTs, bahkan sebelumnya aku pikir
itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang aku mulai merasakan cikal-bakal impian
yang akan kuusahakan untuk mewujudkannya. Rasanya hidup ini akan lebih
menyenangkan ketika kita sudah punya tujuan, atau minimal masih merancang
tujuan tersebut.
Namun,
apakah aku harus membuang tujuan tersebut jauh-jauh (bahkan tujuan tersebut
masih berbentuk cikal-bakal)? Lalu aku harus berubah haluan menuju tujuan lain
yang sebenarnya itu hanyalah tujuan Bapa, bukanlah keinginanku yang sebenarnya.
Apakah Bapa sedang memperalatku? Apakah Bapa memanfaatkan kelemahanku dalam
bidang akademik agar aku bisa menuruti keinginan Bapa?.
Aku
tahu, sebenarnya meneruskan usaha Bapa bukanlah tujuan yang buruk, bahkan itu
mulia. Memang tidak ada salahnya jika jadi penjahit, toh dengan itu Bapa bisa
menyekolahkan aku dan Dede. Kami tidak pernah kelaparan karena profesi Bapa
sebagai penjahit. Namun sungguh, aku tidak tertarik akan hal itu. Bisakah Bapa
beri kesempatan padaku untuk bisa memperbaiki diri? Maukah Bapa menerimaku
untuk bisa meneruskan usaha Bapa dengan cara yang lain?
Hari
demi hari kian berlalu dan Bapa tidak banyak merespon ketika aku menyinggung
masalah kelanjutan sekolah.
“Yang
penting Teteh melanjutkan di SMK. Itu saja!” itulah respon yang berulang-ulang
Bapa ucapkan, bahkan bisa dibilang Bapa sudah tegaskan.
Mamah
pun tidak bisa membantu apa-apa. Jika Bapa sudah bilang ‘itu’, Mamah akan ikuti
keputusan Bapa.
“Teteh
tinggal meyakinkan diri bahwa keputusan orang tua tidak akan pernah membawa
anaknya kepada jalan yang sesat. Semua akan ada hikmahnya meski tidak bisa
dirasakan dalam waktu yang cepat,” ujar Mamah sambil memotong bawang merah.
Sementara aku sendiri sedang mencuci piring.
“Tapi
Mah, Teteh mulai ada keinginan untuk kuliah. Teteh ingin kuliah di jurusan
Psikologi. Lagian, di MA nanti sudah ada penjurusan. Teteh sendiri mau
milih jurusan Keagamaan, sedangkan Teteh suka pelajaran agama. Teteh pikir
sekolah di MA nanti tidak akan terlau tertekan, berbeda dengan di MTs yang
banyak pelajaran umumnya,” jelasku sambil agak kerepotan menggosok kerak yang
menempel pada panci.
“Teteh
sudah punya tujuan Mah, beda dengan saat MTs yang hanya ingin menggugurkan
kewajiban sekolah. Teteh pikir, sekolah
di MA akan menyenangkan karena kebanyakan yang akan Teteh pelajari adalah tentang
agama. Mamah ‘kan sendiri pernah bilang, kita bisa atau tidak bisa semua
tergantung sugesti. Nah, Teteh sudah mensugestikan diri untuk bisa berprestasi
di MA karena Teteh suka pelajaran agama,” ujarku lagi.
“Kalau
begitu, Teteh tinggal bersugesti lagi untuk sekolah di SMK.”
Aku
hampir membanting panci yang hampir selesai kugosok.
“Bagaimana
Teteh bisa memaksakan diri Mah?! Apakah akan maksimal hasilnya jika Teteh
menjalaninya tanpa kemauan? Mungkin akan sama saja seperti di MTs, bahkan lebih
buruk!” ucapku dengan nada yang tinggi. Ah, inilah suasana yang tidak kusukai.
Mamah
terdiam sejenak. Ia memindahkan irisan bawang merah ke dalam mangkuk berisi
telur yang sudah dikocok.
“Bukan
wewenang Mamah untuk memberi keputusan. Sebaiknya kau ulangi lagi ucapanmu itu
dihadapan Bapa,” ujar Mamah.
Aku
terdiam dan tidak mau melanjutkan pembicaraan rumit ini. Bicara sepanjang lebar
apapun, Mamah tetap menggantungkan keputusannya pada Bapa. Tapi, bagaimana aku
harus berbicara dihadapan Bapa? Jika kesulitannya ada pada alasan, sebenarnya
aku pikir alasanku pantas aku perjuangkan. Tapi bagaimana jika Bapa sudah
men-titik-an keputusan itu dan tidak bisa diganggu gugat lagi?.
Namun
aku harus tetap membela diri. Maka aku memberanikan diri untuk berbicara
dihadapan Bapa setelah sarapan pagi. Perkataanku sama seperti obrolan bersama
Mamah tadi.
“Izinkan
aku melanjutkan ke MA, please,” ujarku sambil memasang wajah memelas.
Benar-benar memohon.
Bapa
menghela napas.
“Istikharah-lah.
Semoga keputusanmu sesuai dengan keinginan Bapa,” jawab Bapa singkat. Lalu
perhatiannya beralih pada potongan-potongan kain yang mesti ia selesaikan.
Mengabaikanku.
Katanya
istikharah, tapi tetap saja aku harus menerima keputusan Bapa. Aku
berjalan gontai meninggalkan Bapa, kembali menghampiri Mamah yang sedang
konsentrasi memasang kancing pada bagian lengan baju.
“Sama
saja,” ketusku.
Mamah
berhenti sejenak dan mulai menatapku.
“Bapamu
akan luluh jika kamu melakukan sesuatu,” Mamah memulai percakapan lagi.
“Melakukan
apa?” tanyaku, masih dengan nada ketus dan tidak balik menatap Mamah.
“Semacam
pembuktian atas kesungguhanmu.”
“Pembuktian
bagaimana? Sekolah di MA saja tidak diizinkan,” aku mulai menggenggam remote
TV, memilih tayangan yang sekiranya bisa menghibur hati.
“Sebenarnya
Bapamu belum telak mengambil keputusan, Mamah yakin itu. Bapa bukanlah tipe
yang otoriter. Asalkan kamu bisa membuktikan bahwa di MA nanti kamu bisa
meningkatkan prestasimu. Soal bagaimana caranya, itu urusanmu,” jelas Mamah.
Aku
terdiam dan berusaha memikirkan sesuatu. Lalu aku mematikan TV karena dirasa
tidak ada tayangan yang menarik. Berjalanlah aku menuju kamar dan mengambil
buku catatan untuk menulis sesuatu.
Alasanku
ingin sekolah di MA:
1.
Ingin
masuk jurusan Keagamaan
2.
Ingin
melanjutkan kuliah
3.
Ingin
memperbaiki prestasi
Target
yang ingin dicapai di MA:
1.
Peringkat
5 besar
2.
Dapat
beasiswa untuk kuliah
3.
Hafal
al-Qur’an minimal 5 juz
Aku
memperhatikan kembali tulisan yang kubuat secara spontan dan aku tertegun
melihat targetku yang terakhir. Hafal al-Qur’an? Seriuskah aku dengan
target yang satu ini?.
Aku
menutup buku catatanku dan memantapkan diri untuk bisa melakukannya, terutama
yang terakhir itu. Awalnya aku ingin menunjukkan tulisan ini kepada Bapa
sebagai bukti awal kesungguhanku. Namun kukira disaat seperti ini, Bapa lebih
ingin melihat bukti ketimbang janji.
Tiba-tiba
pandanganku tertuju pada mushaf yang terletak di samping buku catatanku.
Tanganku tergerak untuk mengambilnya dan membuka juz 30. Aku mulai membaca
surat an-Naba dan mencoba muraja’ah sedikit-sedikit. Oh, ternyata aku
lupa beberapa ayat di dalam surat itu. Maka aku mulai menekuri
firman-firman-Nya itu dan berusaha mengahafalkannya kembali. Kurasa sayang
sekali jika aku sampai mengabaikan hafalan yang pernah kutalar saat kelas 1 MTs
ini.
Aku
mulai merasakan ketenangan hati ketika satu surat an-Naba telah kuhafalkan,
meski belum sempurna. Aku terus tertarik untuk menghafalnya. Akhirnya, aku
memutuskan untuk mengabaikan pikiranku sejenak dari urusan melanjutkan sekolah
untuk konsentrasi menghafal juz 30.
Hari
demi hari terlewati dan hafalanku kian bertambah. Hampir setiap hari aku
melantunkan ayat-ayat-Nya tanpa melihat mushaf. Bahkan aku tetap muraja’ah
ketika mencuci piring. Kemudian, Bapa mulai memperhatikanku.
“Sudah
sampai surat mana yang Teteh hafalkan?” tanya Bapa.
“Sebenarnya
satu juz 30 sudah hafal, tinggal memantapkannya karena masih ada beberapa ayat
yang sulit diingat.,” jawabku.
Bapa
mengangguk mantap, tersenyum, dan membelai lembut kepalaku.
“Kalau
Teteh sungguh-sunggh, insya Allah apa yang Teteh inginkan bisa
tercapai,” ucap Bapa.
Aku
hanya mengangguk sambil menunduk dan diam-diam menyeringai. Inikah pertanda
Bapa mengizinkanku masuk MA?.
Hari
demi hari terus berlalu dan Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan juz 30.
Namun, aku merasa tertarik untuk menghafalkan lebih banyak ayat lagi. Maka, aku
memilih menghafal juz 1. Aku terus menghafal sambil mengisi waktu liburku
sampai terlupa soal melanjutkan sekolah.
Suatu
hari, Bapa menghampiriku yang sedang serius menekuri mushaf.
“Sudah
hafal juz 30?” tanya Bapa.
“Sudah
Pa, sekarang sedang menghafal juz 1,” jawabku.
“Subhanallah…”
Bapa mendekatiku dan merangkulku, “Apakah Teteh akan serius menghafalnya?”
tanya Bapa lagi.
“Insya
Allah Pa,” jawabku lagi.
“Kalau
begitu, Bapa izinkan Teteh melanjutkan ke MA. Asalkan Bapa ingin Teteh istiqamah
dalam menghafal al-Qur’an,” ujar Bapa yang kurasa itu sebuah ucapan yang selama
ini kutunggu-tunggu.
Aku
menyeringai gembira. Aku mengangguk mantap tanda memegang janji kepada Bapa. Terima
kasih, Pa. Aku akan memenuhi targetku!.
Akhirnya,
aku masuk MA dan mulai bertekad untuk memperbaiki diri. Aku pikir masuk MA
lebih berkesan karena sebelumnya aku harus menunjukkan kesungguhanku untuk
sekolah. Aku harus benar-benar belajar dengan rajin sebagai wujud kesungguhanku
untuk kuliah dan rasa terima kasihku pada Mamah dan Bapa yang selalu mendukung
apa yang aku inginkan.
Oh
iya, aku sekolah di Pesantren PERSIS (Persatuan Islam) Tarogong Kidul, Garut.
Meski di Pesantren, tapi aku tidak mondok karena jaraknya dekat dengan rumahku.
Memang Pesantren ini tidak mengharuskan semua santrinya untuk mondok, meski
tetap memiliki asrama. Di Pesantren inilah aku melanjutkan pendidikan dari
tingkat MTs (Madrasah Tsanawiyyah) sampai MA (Madrasah ‘Aliyah).
Masa-masa
awal MA benar-benar menjadi masa serius buatku. Ini adalah masa transisi dari
keterpurukan menuju kebangkitan. Aku tahu, selama ini—diantara anak Mamah dan
Bapa—Dede yang selalu diperhatikan, diperhitungkan, dan dibanggakan. Seiring
dengan bertambahnya usiaku juga bertambahnya tuntutan kedewasaanku, maka aku
berpikir bahwa sukses bukan untuk mendapat pujian. Namun, aku tetap ingin
sukses untuk menjadi kebanggaan Mamah dan Bapa, agar mereka tahu bahwa tidak
sia-sia usaha mereka mendidik dan mendo’akan anak sepertiku.
Tetapi
aku ingin sedikit bercerita tentang asal mula munculnya keinginanku untuk
melanjutkan kuliah. Itu berawal ketika aku mengenal seorang kakak kelas bernama
A Usamah. Ia duduk di kelas 3 MA ketika aku kelas 3 MTs. Itu berarti dia lebih
tua 3 tahun dariku. Sebenarnya kami mulai berkenalan saat aku kelas 2 MTs,
namun sepertinya saat aku 3 MTs kami kenal lebih akrab. Aku begitu tertarik
mengenalnya karena dia anak seorang Ustadz dan pintar. Saat itu, A Usamah
adalah kakak kelas beda tingkat yang satu-satunya aku kenal.
Saat
itu komunikasi antara aku dan A Usamah hanya sebatas SMS-an dan Facebook-an.
Menyenangkan sekali berkenalan dengannya karena bisa berbagi ilmu.
Suatu
hari selesai shalat Isya’, ada SMS masuk. Aku pun segera membacanya.
A
Usamah: Besok pengumuman hasil tes beasiswa. Do’akan
ya. Semoga Aa tawakkal apapun hasilnya.
Sulit
menjelaskan perasaanku saat itu, yang pasti aku tersenyum girang dan segera
membalas SMS-nya.
Iya
A, Nadia do’akan semoga diberi yang terbaik J
Lalu dibalas lagi:
Aamiin,
jazakillah ;)
Aku kembali pada posisiku seusai shalat Isya’.
Untunglah aku masih memakai mukena. Maka aku memanjatkan do’a, tak lupa untuk
kelulusan A Usamah.
Esoknya, aku lumayan tegang juga. Meski aku
tidak tahu apakah A Usamah akan mengabarkan kelulusannya atau tidak. Tapi ingin
sekali aku mengetahuinya, meski aku tetap mengendalikan diri untuk tidak
sepenuhnya berharap.
Sekitar pukul 1 siang, handphone-ku berdering
tanda SMS masuk. Karena sedang tidak ada kerjaan, aku langsung membuka SMS:
A Usamah: Nadia, Alhamdulillah
Aa lulus :D
Aku berteriak bahagia membaca kabar baik ini.
Entah kenapa, aku merasa benar-benar bahagia dan bangga. Padahal aku bukan siapa-siapa
dia. Tak peduli akan hal itu, aku langsung membalas.
Alhamdulillah,
good luck ya A :D
Ngomong2,
Aa kuliah dimana?
Tak lama, datanglah balasan:
Di
IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Aku tertegun membacanya. Sampai nyaris
kebingungan ingin membalas apa.
Jauh
sekali, A.
Lalu terjadilah obrolan menarik.
A Usamah: Memang sih, tapi mau
bagaimana lagi?
Aku: Hmmm…tak apa. Semoga
sukses ya! J
A Usamah: Aamiin J
Aku: Jurusan apa?
A Usamah: Tafsir hadits
Aku: Wuiiihhh
A Usamah: Eh, Nadia lanjut di
MA kan?
Aku: Iya A
A Usamah: Wah! Nadia baru masuk
MA, Aa udah pergi kuliah. Sayang sekali ya?
Aku (salah tingkah): Hmmm…iya
sedih juga
A Usamah: Haha…nggak usah
sedih. Bukan pindah rumah kok J
Aku: Iya…masih ada Ustadz
Adung kok :D
A Usamah: Hehehe…boleh juga tuh
:D
Aku: Senangnya bisa dapat
beasiswa. Aku kepingin dapat juga.
A Usamah: Mau tahu tips-nya? J
Aku: Mau mau :D
A Usamah: Gampang. Usahakan
selama MA terus dapat rangking 5 besar. Insya Allah mudah kalau ada kemauan.
Semangat!
Aku: Hmmm…harus bisa!
Do’akan ya A
A Usamah: Pasti bisa! Dido’akan
kok J
Aku: Makasih ya A
A Usamah: Iya, sama2
Itulah yang membuatku tertarik untuk
melanjutkan kuliah dan mendapat beasiswa. Apalagi dengan syarat seperti itu,
aku tinggal berusaha untuk mencapainya. Untunglah setelah kepergian A Usamah,
komunikasi kami tidak serta merta terputus. Sesekali kami bertegur sapa meski
tetap lewat SMS dan Facebook. Aku pun menceritakan tentang A Usamah
kepada Mamah dan Bapa, bahkan sampai bisa berkenalan.
Masa-masa awal MA memang lumayan sulit karena
kelas 1 belum ada penjurusan. Maka, aku masih bertemu pelajaran eksak yang
menyebalkan seperti Fisika dan Kimia. Kalau Matematika sih akan tetap
dipelajari meski sudah masuk jurusan Keagamaan.
“Pelajaran Fisika dan Kimia susah sekali,”
keluhku pada Mamah.
“Hmmm, Mamah maklumi kok,” ujar Mamah
tersenyum.
“Lalu bagaimana Tetah bisa 5 besar kalau begini?”
“Kalau begitu, maksimalkan apa yang Teteh bisa.
Jangan sampai kedua pelajaran itu menjadi penghalang kesuksesan. Mau nggak mau
Teteh harus menghadapinya. Mamah tahu, sekarang Teteh lebih rajin dibanding
sewaktu Teteh MTs,” ujar Mamah yang lumayan membuatku lega.
Maka, dengan support sepenuhnya dari
Mamah dan Bapa, Alhamdulillah di semester pertama aku bisa mendapat peringkat
4. Lalu, semester kedua peringkat 2; semester ketiga peringkat 4; semester
keempat peringkat 3; semester kelima peringkat 3.
Semester kelima (kelas 3 semester 1) pun
berlalu. Menginjak semester keenam, hal-hal yang membikin galau pun
bermunculan. Mulai dari penyelesaian Karya Tulis Ilmiah, pendaftaran masuk PTN
di berbagai jalur, dan berbagai persiapan menuju rangkaian ujian akhir. Tetapi,
di awal semester ini yang menjadi trending topic adalah pendaftaran ke
PTN.
Rangkaian ujian pun berlalu termasuk UN, namun
itu bukanlah akhir. Masih ada ujian akhir khas pesantren yaitu PPL selama 2
minggu di daerah Tasikmalaya. Selama kegiatan itu, aku bersama teman-teman satu
kelompok biasa mengisi pengajian di masjid terdekat dan mengajar di SD dan
madrasah terdekat. Seusai PPL, aku mendapat kabar dari A Usamah tentang
pendaftaran jalur PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dari Kementrian
Agama.
“Cobalah mendaftar, siapa tahu itu
kesempatanmu,” kata A Usamah melalui chatting. Namun perlu diingat, A
Usamah sendiri bukan penerima PBSB, melainkan Bidikmisi.
“Perlu diingat, universitas dan jurusan yang
tersedia memang amat terbatas, tidak seperti pendaftaran Bidikmisi. Maka
hati-hatilah dalam memilih,” tambahnya.
Aku membuka link yang diberi A Usamah.
Aku buru-buru melihat pilihan universitas dan jurusannya. Aku melirik UIN Sunan
Kalijaga, jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir; UIN Sunan Gunung Djati, jurusan
Tasawuf Psikoterapi; IAIN Walisongo, jurusan Ilmu Falak; dan terakhir ada UIN
Sunan Ampel dengan jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.
Aku termenung sejenak sekaligus kaget melihat
pilihan yang terakhir ini. Aku ingin mendaftar di Bimbingan dan Konseling
Islam, namun apakah harus di UIN Sunan Ampel, Surabaya? Bukankah itu jauh?.
Aku memberitahu Mamah dan Bapa perihal PBSB ini
sekaligus mengutarakan masalah dalam memilih universitas.
“Aku sreg di Bimbingan dan Konseling
Islam, soalnya ‘kan sama seperti Psikologi. Tapi unversitasnya ini loh!”
keluhku.
“Memangnya dimana?” tanya Mamah.
“Di UIN Sunan Ampel, Surabaya,” jawabku.
“Bukannya Usamah juga disana?” tanya Bapa.
“Iya…”
“Baguslah, biar ada yang memantau,” seringai
Mamah menanggapi.
Aku agak salah tingkah mendengar tanggapan
Mamah disertai anggukan setuju Bapa. Aduh! Memangnya itu satu-satunya alasan
Mamah dan Bapa langsung mengizinkanku memilih UIN Sunan Ampel? Nggak ada
pertimbangan lain?!
”Eeeeh, tapi ingat! Harus tetap jaga diri,
jangan sampai pacaran!” ujar Mamah mengingatkan, Bapa pun mengiyakan.
“Siapa yang mau, Mamaaaahh!” teriakku semakin
salah tingkah.
Akhirnya, aku memilih UIN Sunan Ampel dengan
persetujuan dan support penuh dari Mamah dan Bapa. Aku memilihnya sebagai
satu-satunya pilihan karena tidak ada lagi jurusan yang cocok.
“Sebenarnya, seandainya tanpa ada Usamah pun
Bapa tetap mengizinkan Teteh untuk kuliah dimana pun, asal tujuan Teteh jelas
dan fokus. Ingat ya, pergaulan tetap mesti dijaga. Itu saja,” ujar Bapa.
Tibalah pada tanggal 22 Mei 2014, aku dan 25
teman peserta seleksi PBSB berangkat menuju MAN 1 Bandung di daerah Cijerah,
Bandung. Agak dramatis juga apa yang aku alami saat seleksi. Pertama,
teman-teman jurusan Keagamaan yang lain memilih UIN Sunan Kalijaga, aku sendiri
yang berbeda. Maka aku ditempatkan di satu ruangan tanpa teman satu sekolah;
Kedua, saat pembagian karta tanda peserta, entah kenapa kartuku sendirilah yang
tidak ditempel foto. Padahal saat pendaftaran aku menyertakan pas foto 4x6
sebanyak 3 lembar; Ketiga, kartu tanda pesertaku tidak dibubuhkan stempel,
sehingga saat usai pembukaan, aku sendirian harus meminta stempel sebelum masuk
ruangan.
“Ibu, kenapa nasibku seperti ini?” keluhku pada
Bu Yuli, guru yang mengantar kami.
“Itu berarti kamu harus lolos seleksi!” hibur
Bu Yuli memberi semangat sambil merangkulku.
“Aamiin…siap Bu!” ujarku dengan nada yang
mantap.
Seharian penuh aku didera berbagai soal
seleksi. Pada sesi awal sih masih merasa mudah dengan soal Psikotes dan Dirasah
Islamiyah. Namun pada sesi kedua yaitu soal Bahasa Inggris dan Bahasa Arab,
aku merasa amat kesulitan. Sambil terkantuk-kantuk pula aku mengerjakannya.
Sampai soal pada sesi terakhir hendak dikumpulkan, aku merasa amat lelah dan
tidak yakin bisa lolos seleksi dengan mengandalkan jawaban yang asal-asalan
ini.
“Jangan berkecil hati, setelah pulang ke rumah
masih ada kesempatan untuk rajin tahajud dan berdo’a. Siapa tahu kamu
beruntung,” ujar Bapak pengawas ketika aku meletakkan lembar soal dan lembar
jawaban diatas meja pengawas.
Aku merasa terhibur oleh ucapan itu,
seolah-olah Bapak itu tahu keluhan hatiku ini. Aku menanggapi ucapan itu dengan
anggukan mantap.
Aku berjalan gontai menuju kantin, tempat para
guru yang mengantar beserta peserta lain berkumpul. Kami istirahat sambil menyantap
konsumsi yang disediakan. Aku sendiri duduk mematung tanpa sedikitpun menyentuh
nasi kotak itu.
“Nadia, nggak makan?” tegur Bu Linda.
“Kenyang sama soal Bu!” jawabku datar karena
lelah.
Sontak guru-guru dan para peserta lain tertawa
mendengar jawabanku. Syukurlah, tidak ada lagi yang memaksaku untuk menyantap
makanan itu.
Seminggu menuju pengumuman hasil seleksi, aku
benar-benar tegang. Aku semakin sungguh-sungguh dalam berdo’a agar aku bisa
diberi yang terbaik. Aku ingin meneruskan kuliah tanpa membebani kedua orang
tua. Begitupun Mamah dan Bapa juga ikut mendo’akan. Alhamdulillah, pada tanggal
9 Juni 2014 aku dinyatakan lulus PBSB.
Bimbingan dan Konseling Islam adalah jurusanku.
Namun aku masih belum menikmati indahnya belajar Psikologi karena mahasiswa
semester satu baru sekedar mata kuliah pengantar. Aku rasa, belajar disini
memang butuh perjuangan. Karena aku ada bersama anak-anak PBSB yang
pintar-pintar. Mungkin aku belum menemukan kesan yang begitu berarti bersama
teman-teman. Maklum, baru dua bulan aku berada disini, masih masa adaptasi.
Impianku kedepannya, aku ingin menjadi seorang
penulis terkenal. Aku ingin bisa dikenal banyak orang di seluruh penjuru negeri
bahkan sampai luar negeri tanpa harus repot-repot mendatangi mereka. Lalu, aku
menyadari akan bakat menggambarku. Setidaknya aku ingin bisa membuat komik,
meski saat ini aku mesti berlatih lagi dari nol.
Alasan aku memilih Bimbingan dan Konseling
Islam pada jalur PBSB tentu saja karena ingin mengabdi ke Pesantren untuk
menjadi guru BK. Namun, untuk target yang terkait, ada pengalaman yang menarik
ketika aku mengikuti OSMAPRODI BKI. Tepatnya saat mengikuti materi yang
disampaikan oleh Pak Thohir.
“Apa yang akan Anda lakukan 4 tahun ke depan
setelah kuliah di jurusan BKI?” tanya Pak Thohir kepada para peserta.
Beberapa peserta mengacungkan tangan dan
mengemukakan target mereka ketika Pak Thohir mempersilakan mereka berbicara.
Aku berminat untuk ikut mengacungkan tangan,
meski saat itu aku masih belum tahu targetku. Namun, dengan cepat Pak Thohir
melirikku dan menunjukku untuk berbicara.
“Saya ingin menjadi konselor di daerah
terpencil!” ucapku spontan.
Pak Thohir mengulang kembali ucapanku sambil
mengangguk.
“Kita do’akan semoga targetnya terwujud,” ucap
Pak Thohir kepada seluruh peserta.
“Aamiin…” seru para peserta serempak.
Saat itu spontan aku mengingat kampung halaman
Mamah di sebuah pedalaman di daerah Garut. Aku mengingat problem-problem
pergaulan yang dialami anak-anak remaja seusiaku, bahkan yang lebih muda. Sebenarnya
aku tidak begitu yakin apakah aku benar-benar menjadikan hal itu sebagai
target. Tapi, mudah-mudahan ini menjadi do’a. Aku ingin mengabdi kepada
siapapun dan dimanapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar