Minggu, 31 Mei 2015

TENTANGKU



         Aku berasal dari sebuah Kabupaten yang jika nama itu disebut, maka orang yang mendengarnya seketika teringat suatu makanan bernama ‘Dodol’. Namun, ada sebuah pengalaman yang menarik dan kurang mengenakan pula, ketika aku masih kelas 2 MA dan kebetulan aku beserta teman-teman satu sekolah sedang pergi study tour ke Jakarta. Saat itu kami berkumpul di Masjid Istiqlal dalam keadaan berseragam sekolah, maka para pedagang di sekitar pun melihat kami dengan tatapan penasaran.
“Dari mana Dek?,” tanya salah seorang pedagang souvenir ketika aku dan beberapa teman melewatinya.
“Dari Garut,” jawabku agak sungkan, aku menduga akan terjadi sesuatu ketika aku menjawab tempat asalku.
“Ooooh…si Aceng Fikri itu ya?” respon si Bapak pedagang itu setengah berteriak, beberapa pedagang lain pun menoleh.
“Itu Bupati yang menceraikan istri mudanya lewat SMS kan? Padahal baru kawin empat hari,” tanya pedagang makanan ringan, nimbrung. Terlihat pedagang lain pun menggelengkan kepala.
Kemudian ramailah para pedagang dengan pertanyaan dan obrolan yang semakin tidak mengenakan hati. Aku yakin sebenarnya mereka sudah tahu kabar itu lewat televisi maupun koran, mungkin mereka lebih antusias ketika bisa melihat orang Garut-nya langsung. Melihat wajah-wajah rakyat yang dipimpin oleh sosok Bupati seperti itu.
Aku dan teman-temanku segera menghindari suasana tersebut untuk segera menuju bus. Agak dongkol juga aku mendengar komentar para pedagang. Jelas-jelas aku muak pada Bupati yang telah merubah persepsi masyarakat. Awalnya ketika mendengar ‘Garut’, pasti mereka menanggapinya dengan seringai ramah sambil teringat Dodol atau Domba Garut. Namun ketika kasus Aceng Fikri sedang booming, mereka menanggapi dengan tatapan melecehkan. Sakitnya tuh disini!.
Namun tak apa, itu semua sudah berlalu. Mungkin masyarakat sudah terlupakan oleh kasus seperti itu, karena semakin banyak kasus yang lebih menarik perhatian seiring berputarnya waktu.
Oh iya! Namaku Nadia Nafisah Fauziah. Aku asli Garut dan Sunda tulen. Jika kamu ingin melihat bagaimana wajah gadis Sunda yang cantik nan lugu juga logatnya yang terkenal lirih nan lemah lembut, maka aku salah satu yang terbilang orisinil. Di kampung halamanku, aku tak begitu pandai berbicara menggunakan Bahasa Indonesia diantara remaja-remaja lain yang ngakunya orang Sunda namun lebih suka berbahasa Indonesia bercampur bahasa alay.
Kedua orang tuaku juga Sunda tulen. Bapakku bernama Nandang Rusnandi, beliau sosok ayah yang penyabar dan jarang marah, bahkan hampir tidak pernah. Profesi beliau yang penjahit ini membuat keluargaku diajarkan untuk senantiasa hidup sederhana dan bersahaja. Bahkan untuk baju pun kami tidak pernah beli. Cukup membeli kain yang murah meriah lalu Bapak tinggal menjahitkannya, hehehe.
Namun, yang aku sukai dari beliau adalah otak kreatif dan ketelitiannya. Meskipun penjahit, namun baju-baju karya beliau ini tidak kalah bagus dengan baju-baju yang dijual di mall-mall terkenal. Dan meskipun mengandalkan kain yang murah, beliau tetap berusaha agar jahitannya tidak murahan. Kami (aku, Mamah, dan Dede) sendiri lebih bangga dan nyaman memakai baju hasil jahitan beliau ketimbang mesti beli yang sudah jadi.
Aku sendiri suka menggambar. Waktu SD aku senang sekali menggambar desain baju dan alhamdulillah hasil gambarku selalu mendapat apresiasi baik dari kedua orang tuaku maupun orang-orang di sekitarku. Bahkan mereka menyarankan agar nantinya aku menjadi designer. Bapak juga antusias dengan kegemaranku.
“Nanti teteh yang merancang bajunya, lalu Bapak yang menjahitnya,” begitu ujar beliau.
Aku juga antusias untuk menggambar lebih banyak lagi. Bahkan saat itu aku sudah memantapkan hati untuk menjadi designer, agar nantinya aku bisa bekerja sama dengan Bapakku. Namun, karena aku terlalu sering menggambar ketimbang belajar, aku seringkali dinasihati Mamah untuk bisa membagi waktu. Emang dasar, saat itu pikiranku masih sangat labil. Aku menganggap Mamah telah melarangku menggambar, maka aku menghindari kegiatan menggambar dan akhirnya lama-kelamaan aku tidak tertarik untuk menggeluti dunia desain, sampai sekarang.
Mamahku sendiri bernama Sumarni, waktu seusiaku beliau bisa dibilang ‘kembang desa’. Jika tadi aku mengaku gadis Sunda tulen, maka Mamah lebih tulen lagi. Beliau cantik, sopan, lemah lembut, dan sering menjadi idaman para pemuda pada masanya. Namun, Mamah banyak mengalami rintangan dalam hidupnya. Dimulai dari ketika beliau duduk di bangku SMA, beliau hidup jauh dari kedua orang tuanya dan tinggal di kosan. Lalu beliau melanjutkan kerja di sebuah pabrik tekstil yang terkenal di Bandung, setamat SMA. Pergaulan dan gaya hidup menjadi problema yang harus Mamah hadapi. Namun, itulah yang justru membuat Mamah menjadi sosok wanita yang tangguh dan istiqamah. Beliau rajin mengaji sehabis shalat maghrib sambil menunggu kumandang adzan isya’ diantara rekan-rekan kerjanya yang gemar malam mingguan bersama pasangan masing-masing. Beliau juga lebih suka menginvestasikan gajinya untuk masa depan diantara perempuan-perempuan yang mestinya mendandani diri mereka agar terlihat menarik. Itulah sepantasnya ‘kembang desa’, wanita tangguh yang menjaga kehormatannya dan berpikir maju untuk masa depannya.
Mamah dan Bapa adalah sumber inspirasi pertamaku. Mereka pula guru pertama yang mengajarkan banyak hal tentang makna kehidupan, terutama makna kesederhanaan. Mamah yang mengajarkanku untuk menjadi wanita pemberani dan mandiri. Bapa yang mengajarkan tentang ketegaran, kesabaran, kasih sayang, dan tidak mendendam. Mereka memberi teladan yang berharga bagi anak-anaknya. Maka, aku ingin seperti mereka.
Ngomong-ngomong, aku ini anak sulung dari dua bersaudara. Adikku bernama Muhammad Rafi Sidqi Fauzan, oleh keluarga dan kerabat biasa dipanggil Dede, namun ia tidak begitu suka dengan namanya yang terlalu panjang. Inginnya ia membuang nama ‘Muhammad’ di depannya itu.
“Percuma namaku ada Muhammad-nya, tapi panggilanku Rafi. Terus, kalau biasanya namaku cuma ditulis ‘M. Rafi’, lalu buat apa nama depanku Muhammad? Mubazir itu!” ketus Dede.
“Emang mau dipanggil Muhammad?” tanyaku.
“Nggak mau lah, ribet!”
Mamah dan Bapak selaku yang memberi nama hanya bisa tersenyum. Lagian, membuang nama ‘Muhammad’ yang sudah terlanjur tercantum di akta kelahiran itu lebih ribet.
Dede ini bagaikan bintang bagi keluarga. Orang-orang sekitar mengakuinya serba bisa. Sejak usianya empat tahun pun ia menggemparkan orang-orang sekampung karena sudah bisa membaca. Pokoknya, banyak yang menyukai Dede, bahkan orang yang baru bertemu dengannya pun langsung ‘jatuh hati’.
Aku iri pada adikku. Kedua orang tuaku selalu membanggakannya karena prestasinya, sedang aku sendiri bisa apa? Aku memang tidak begitu menjadi bahan pembicaraan, karena memang apa yang menarik untuk diperbincangkan?.
Semua mengarah pada Dede. Jika banyak sanak saudara yang datang berkunjung, pasti yang ditanya duluan adalah Dede. Kalau mengobrol dengannya pasti yang ditanya tentang ilmu pengetahuan, lalu Dede akan menjawabnya dengan rinci dan membuat yang mendengarnya semakin kagum akan kepintarannya. Aku hanya bisa duduk diam dan diabaikan.
Ya, apa serunya mengobrol denganku? Gadis pendiam yang banyak nggak tahunya. Peringkatku di sekolah tidak secemerlang prestasi Dede yang selalu menjadi juara umum dan beberapa kali mendapat juara olimpiade se-Kabupaten, sampai ia pernah maju di olimpiade se-Provinsi.
Sewaktu aku SD, mungkin prestasiku lumayan bisa menduduki peringkat sepuluh besar. Namun ketika duduk di MTs, aku rasa menduduki peringkat yang nyaris paling rendah itu sudah hal biasa. Bahkan aku sudah tak ingat kenapa dahulu aku bisa begitu? Aku tak ingat apakah dulu aku pemalas? Apakah karena waktu itu aku duduk di kelas—yang katanya—unggulan dengan daya saing yang cukup ketat? Sehingga mungkin aku tertekan karena hal itu?.
Kalau aku merasa paling rendah, kok aku bisa masuk kelas unggulan? Hmmm…mungkin karena waktu kelas 1 MTs, nasibku sedang lumayan bejo. Waktu kenaikan kelas aku beruntung bisa menduduki peringkat enam, sehingga aku masuk kelas unggulan yang berisi santri-santri yang menduduki peringkat sepuluh besar.
Mamah dan Bapa sudah berusaha mengingatkanku agar belajar lebih giat, aku pun perasaan sudah berusaha untuk melakukannya. Entahlah, kurasa prestasiku kian merendah. Pada saat itu pun aku sering sakit-sakitan.
Keadaan semakin buruk dan menyedihkan ketika pembukaan kelulusan UN, dimana aku menerima sebuah amplop yang isinya lulus/tidaknya hasil ujianku beserta nilai-nilainya. Betapa lemas rasanya melihat nilai-nilaiku berada dibawah rata-rata, meski sedikitnya aku tetap bersyukur karena masih diluluskan karena untuk nilai akhir diakumulasikan dengan nilai sehari-hari. Namun tetap saja nilai-nilai ini mesti aku perlihatkan kepada Mamah dan Bapa, itulah yang membuatku takut.
Aku berjalan gontai menuju rumah, ketika sampai halaman pun rasanya aku ingin mundur lagi dan berlari menjauh dari Mamah dan Bapa. Ah, kenapa aku mesti pulang dengan membawa benda yang mesti Mamah dan Bapa lihat? Ini seharusnya tidak terjadi.
“Assalamu’alaikum,” salamku dengan suara yang amat pelan. Seperti biasa, Bapa sedang menekuri jahitannya.
“Wa’alaikumussalam. Eh, Teteh sudah pulang. Bagaimana hasil UN-nya?” Bapa menghentikan jahitannya sejenak untuk menghampiriku, mengusap kepalaku, dan tersenyum. Hatiku semakin sesak dengan keadaan itu. Tidak lama lagi aku akan menyurutkan senyum Bapa!.
“Emmmhh…Mamah mana Pa?” tanyaku basa-basi.
“Mamah sedang ke pengkolan, beli alat jahit. Teteh cepatlah makan!”
“Iya Pa!” ucapku segera hendak masuk rumah.
“Eh…eh…mana hasil UN-nya?” teriak Bapa ketika aku hendak masuk kamar, menyimpan tasku. Ah, kenapa Bapa harus ingat?.
Akhirnya, dengan jantung yang berdegup luar biasa kencang aku memberikan amlop itu kepada Bapa. Amplop berisi kabar buruk tentang anaknya. Aku langsung berlari kecil menuju kamar tatkala amplop sudah sampai di tangan Bapa, menutup pintu rapat-rapat, dan menutup kepalaku dengan bantal.
Dua jam berlalu, aku sadar bahwa adzan Ashar telah berkumandang. Namun aku masih menggeliat manja dan tidak berniat untuk bangkit dari tidurku. Dengan malas aku memperbaiki kembali posisi tidurku. Namun, belum sempat aku melanjutkan mimpi, terdengar pintu kamarku terbuka.
“Teteh, cepatlah bangun!” perintah  Bapa yang tenyata membuka pintu kamarku.
Aku masih setengah sadar dan malas-malasan.
“Cepat shalat, jangan malas-malasan! Jangan kau biasakan menunda-nunda!” perintah Bapa lagi, terdengar setengah membentak.
“Iya…” ucapku pelan dengan perasaan kesal sekaligus bersalah. Aku tahu, pasti Bapa marah ketika membuka amplop.
Aku keluar menuju kamar mandi, sementara itu Bapa sudah beranjak menuju masjid dan Mamah pun belum pulang. Aku segera mengambil air wudhu. Betapa merindingnya aku kala dirasakan airnya begitu dingin. Memang beginilah Garut, tempatnya begitu sejuk.
Tepat saat aku selesai shalat Ashar, Bapa pun masuk ke rumah selepas pulang dari masjid. Mengetahui keberadaan Bapa, aku menunduk pura-pura khusyuk dalam berdo’a. Bapa pun semakin mendekatiku dan kurasakan beliau mengelus pundakku.
“Maafkan Bapa, sebenarnya Bapa begitu kesal tadi,” ujar Bapa memulai percakapan.
Aku mengangguk, sambil terus menunduk.
“Keras atau tidaknya usahamu selama ini, itu Teteh sendiri yang merasakan. Untuk hasilnya sekarang, semua itu sudah menjadi resiko yang mesti ditanggung Teteh. Ya, Mamah dan Bapa hanya tahu biaya sekolah Teteh selama ini, tidak begitu tahu bagaimana perjuangan sekolah Teteh selama ini. Untuk sementara ini, Teteh lulus UN saja sudah Alhamdulillah,” lalu Bapa berhenti mengusap pundakku dan memperbaiki posisi duduknya menjadi di depanku.
“Tapi jika dipikir-pikir, Teteh belajar di MTs saja persaingannya sudah begitu ketat. Apalagi di MA ya?”
Aku masih terduduk diam. Iya mungkin.
“Mungkin selama ini Teteh terbebani karena hal itu, apakah benar?”
Aku mengangguk pelan.
“Bapa mulai berpikir untuk memasukkan Teteh ke SMK tata busana. Ya, itung-itung Teteh bisa membantu pekerjaan Bapa setelah lulus kelak.”
Aku tertegun mendengar tutur kata Bapa. Namun aku belum bisa yakin bahwa itu telah menjadi keputusan telaknya. Ya Allah, sungguhkah akan begitu nasibku? Tapi kenapa? Apakah hanya karena alasan tadi?.
Ngapain Bapa bayar mahal-mahal untuk memasukkan Teteh ke MA jika ujung-ujungnya Teteh akan semakin mendapat tekanan karena persaingan yang kian ketat? Mending ke SMK tata busana. Hmmm…mungkin biayanya tidak sedikit juga, tapi disana tidak begitu mengandalkan kemampuan kognitif, yang penting keahlian dan keterampilan.”
Mati aku! Padahal aku sangat ingin masuk MA. Tahukah Bapa kalau akhir-akhir ini aku sedang tertarik pada Psikologi? Akhir-akhir ini aku mulai tertarik tentang dunia perkuliahan? Bagaimana aku bisa menggapai hal itu jika ternyata Bapa hanya berharap aku jadi penjahit?.
“Bapa pikir keputusan ini akan lebih baik untuk Teteh kedepannya. Teteh tidak mesti memaksakan diri untuk sukses di bidang akademik, karena kelak akan ada lelaki yang menikahi Teteh. Ya, semoga saja kelak Teteh mendapat jodoh yang saleh, berpendidikan tinggi dan mapan. Semoga Teteh dapat menerima kenyataan ini,” ujar Bapa mengakhiri obrolan horor ini. Bapa meninggalkanku yang masih terduduk diam dengan gejolak hati yang meluap-luap namun tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Rasanya aku ingin memotong omongan Bapa barusan, namun saat-saat seperti rasanya bukanlah waktu yang tepat untuk melawan.
Aku belum beranjak dari tempat shalatku dan masih mengenakan mukena. Kupikir inilah saat yang untuk berkeluh kesah pada-Nya. Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum pengumuman hasil UN dibuka, entah kenapa aku menjadi begitu tertarik akan dunia perkuliahan. Kurasakan mulai muncul sebuah keinginan untuk mencapai sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku pikirkan saat MTs, bahkan sebelumnya aku pikir itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang aku mulai merasakan cikal-bakal impian yang akan kuusahakan untuk mewujudkannya. Rasanya hidup ini akan lebih menyenangkan ketika kita sudah punya tujuan, atau minimal masih merancang tujuan tersebut.
Namun, apakah aku harus membuang tujuan tersebut jauh-jauh (bahkan tujuan tersebut masih berbentuk cikal-bakal)? Lalu aku harus berubah haluan menuju tujuan lain yang sebenarnya itu hanyalah tujuan Bapa, bukanlah keinginanku yang sebenarnya. Apakah Bapa sedang memperalatku? Apakah Bapa memanfaatkan kelemahanku dalam bidang akademik agar aku bisa menuruti keinginan Bapa?.
Aku tahu, sebenarnya meneruskan usaha Bapa bukanlah tujuan yang buruk, bahkan itu mulia. Memang tidak ada salahnya jika jadi penjahit, toh dengan itu Bapa bisa menyekolahkan aku dan Dede. Kami tidak pernah kelaparan karena profesi Bapa sebagai penjahit. Namun sungguh, aku tidak tertarik akan hal itu. Bisakah Bapa beri kesempatan padaku untuk bisa memperbaiki diri? Maukah Bapa menerimaku untuk bisa meneruskan usaha Bapa dengan cara yang lain?
Hari demi hari kian berlalu dan Bapa tidak banyak merespon ketika aku menyinggung masalah kelanjutan sekolah.
“Yang penting Teteh melanjutkan di SMK. Itu saja!” itulah respon yang berulang-ulang Bapa ucapkan, bahkan bisa dibilang Bapa sudah tegaskan.
Mamah pun tidak bisa membantu apa-apa. Jika Bapa sudah bilang ‘itu’, Mamah akan ikuti keputusan Bapa.
“Teteh tinggal meyakinkan diri bahwa keputusan orang tua tidak akan pernah membawa anaknya kepada jalan yang sesat. Semua akan ada hikmahnya meski tidak bisa dirasakan dalam waktu yang cepat,” ujar Mamah sambil memotong bawang merah. Sementara aku sendiri sedang mencuci piring.
“Tapi Mah, Teteh mulai ada keinginan untuk kuliah. Teteh ingin kuliah di jurusan Psikologi. Lagian, di MA nanti sudah ada penjurusan. Teteh sendiri mau milih jurusan Keagamaan, sedangkan Teteh suka pelajaran agama. Teteh pikir sekolah di MA nanti tidak akan terlau tertekan, berbeda dengan di MTs yang banyak pelajaran umumnya,” jelasku sambil agak kerepotan menggosok kerak yang menempel pada panci.
“Teteh sudah punya tujuan Mah, beda dengan saat MTs yang hanya ingin menggugurkan kewajiban sekolah.  Teteh pikir, sekolah di MA akan menyenangkan karena kebanyakan yang akan Teteh pelajari adalah tentang agama. Mamah ‘kan sendiri pernah bilang, kita bisa atau tidak bisa semua tergantung sugesti. Nah, Teteh sudah mensugestikan diri untuk bisa berprestasi di MA karena Teteh suka pelajaran agama,” ujarku lagi.
“Kalau begitu, Teteh tinggal bersugesti lagi untuk sekolah di SMK.”
Aku hampir membanting panci yang hampir selesai kugosok.
“Bagaimana Teteh bisa memaksakan diri Mah?! Apakah akan maksimal hasilnya jika Teteh menjalaninya tanpa kemauan? Mungkin akan sama saja seperti di MTs, bahkan lebih buruk!” ucapku dengan nada yang tinggi. Ah, inilah suasana yang tidak kusukai.
Mamah terdiam sejenak. Ia memindahkan irisan bawang merah ke dalam mangkuk berisi telur yang sudah dikocok.
“Bukan wewenang Mamah untuk memberi keputusan. Sebaiknya kau ulangi lagi ucapanmu itu dihadapan Bapa,” ujar Mamah.
Aku terdiam dan tidak mau melanjutkan pembicaraan rumit ini. Bicara sepanjang lebar apapun, Mamah tetap menggantungkan keputusannya pada Bapa. Tapi, bagaimana aku harus berbicara dihadapan Bapa? Jika kesulitannya ada pada alasan, sebenarnya aku pikir alasanku pantas aku perjuangkan. Tapi bagaimana jika Bapa sudah men-titik-an keputusan itu dan tidak bisa diganggu gugat lagi?.
Namun aku harus tetap membela diri. Maka aku memberanikan diri untuk berbicara dihadapan Bapa setelah sarapan pagi. Perkataanku sama seperti obrolan bersama Mamah tadi.
“Izinkan aku melanjutkan ke MA, please,” ujarku sambil memasang wajah memelas. Benar-benar memohon.
Bapa menghela napas.
Istikharah-lah. Semoga keputusanmu sesuai dengan keinginan Bapa,” jawab Bapa singkat. Lalu perhatiannya beralih pada potongan-potongan kain yang mesti ia selesaikan. Mengabaikanku.
Katanya istikharah, tapi tetap saja aku harus menerima keputusan Bapa. Aku berjalan gontai meninggalkan Bapa, kembali menghampiri Mamah yang sedang konsentrasi memasang kancing pada bagian lengan baju.
“Sama saja,” ketusku.
Mamah berhenti sejenak dan mulai menatapku.
“Bapamu akan luluh jika kamu melakukan sesuatu,” Mamah memulai percakapan lagi.
“Melakukan apa?” tanyaku, masih dengan nada ketus dan tidak balik menatap Mamah.
“Semacam pembuktian atas kesungguhanmu.”
“Pembuktian bagaimana? Sekolah di MA saja tidak diizinkan,” aku mulai menggenggam remote TV, memilih tayangan yang sekiranya bisa menghibur hati.
“Sebenarnya Bapamu belum telak mengambil keputusan, Mamah yakin itu. Bapa bukanlah tipe yang otoriter. Asalkan kamu bisa membuktikan bahwa di MA nanti kamu bisa meningkatkan prestasimu. Soal bagaimana caranya, itu urusanmu,” jelas Mamah.
Aku terdiam dan berusaha memikirkan sesuatu. Lalu aku mematikan TV karena dirasa tidak ada tayangan yang menarik. Berjalanlah aku menuju kamar dan mengambil buku catatan untuk menulis sesuatu.
Alasanku ingin sekolah di MA:
1.      Ingin masuk jurusan Keagamaan
2.      Ingin melanjutkan kuliah
3.      Ingin memperbaiki prestasi
Target yang ingin dicapai di MA:
1.      Peringkat 5 besar
2.      Dapat beasiswa untuk kuliah
3.      Hafal al-Qur’an minimal 5 juz
Aku memperhatikan kembali tulisan yang kubuat secara spontan dan aku tertegun melihat targetku yang terakhir. Hafal al-Qur’an? Seriuskah aku dengan target yang satu ini?.
Aku menutup buku catatanku dan memantapkan diri untuk bisa melakukannya, terutama yang terakhir itu. Awalnya aku ingin menunjukkan tulisan ini kepada Bapa sebagai bukti awal kesungguhanku. Namun kukira disaat seperti ini, Bapa lebih ingin melihat bukti ketimbang janji.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada mushaf yang terletak di samping buku catatanku. Tanganku tergerak untuk mengambilnya dan membuka juz 30. Aku mulai membaca surat an-Naba dan mencoba muraja’ah sedikit-sedikit. Oh, ternyata aku lupa beberapa ayat di dalam surat itu. Maka aku mulai menekuri firman-firman-Nya itu dan berusaha mengahafalkannya kembali. Kurasa sayang sekali jika aku sampai mengabaikan hafalan yang pernah kutalar saat kelas 1 MTs ini.
Aku mulai merasakan ketenangan hati ketika satu surat an-Naba telah kuhafalkan, meski belum sempurna. Aku terus tertarik untuk menghafalnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengabaikan pikiranku sejenak dari urusan melanjutkan sekolah untuk konsentrasi menghafal juz 30.
Hari demi hari terlewati dan hafalanku kian bertambah. Hampir setiap hari aku melantunkan ayat-ayat-Nya tanpa melihat mushaf. Bahkan aku tetap muraja’ah ketika mencuci piring. Kemudian, Bapa mulai memperhatikanku.
“Sudah sampai surat mana yang Teteh hafalkan?” tanya Bapa.
“Sebenarnya satu juz 30 sudah hafal, tinggal memantapkannya karena masih ada beberapa ayat yang sulit diingat.,” jawabku.
Bapa mengangguk mantap, tersenyum, dan membelai lembut kepalaku.
“Kalau Teteh sungguh-sunggh, insya Allah apa yang Teteh inginkan bisa tercapai,” ucap Bapa.
Aku hanya mengangguk sambil menunduk dan diam-diam menyeringai. Inikah pertanda Bapa mengizinkanku masuk MA?.
Hari demi hari terus berlalu dan Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan juz 30. Namun, aku merasa tertarik untuk menghafalkan lebih banyak ayat lagi. Maka, aku memilih menghafal juz 1. Aku terus menghafal sambil mengisi waktu liburku sampai terlupa soal melanjutkan sekolah.
Suatu hari, Bapa menghampiriku yang sedang serius menekuri mushaf.
“Sudah hafal juz 30?” tanya Bapa.
“Sudah Pa, sekarang sedang menghafal juz 1,” jawabku.
Subhanallah…” Bapa mendekatiku dan merangkulku, “Apakah Teteh akan serius menghafalnya?” tanya Bapa lagi.
Insya Allah Pa,” jawabku lagi.
“Kalau begitu, Bapa izinkan Teteh melanjutkan ke MA. Asalkan Bapa ingin Teteh istiqamah dalam menghafal al-Qur’an,” ujar Bapa yang kurasa itu sebuah ucapan yang selama ini kutunggu-tunggu.
Aku menyeringai gembira. Aku mengangguk mantap tanda memegang janji kepada Bapa. Terima kasih, Pa. Aku akan memenuhi targetku!.
Akhirnya, aku masuk MA dan mulai bertekad untuk memperbaiki diri. Aku pikir masuk MA lebih berkesan karena sebelumnya aku harus menunjukkan kesungguhanku untuk sekolah. Aku harus benar-benar belajar dengan rajin sebagai wujud kesungguhanku untuk kuliah dan rasa terima kasihku pada Mamah dan Bapa yang selalu mendukung apa yang aku inginkan.
Oh iya, aku sekolah di Pesantren PERSIS (Persatuan Islam) Tarogong Kidul, Garut. Meski di Pesantren, tapi aku tidak mondok karena jaraknya dekat dengan rumahku. Memang Pesantren ini tidak mengharuskan semua santrinya untuk mondok, meski tetap memiliki asrama. Di Pesantren inilah aku melanjutkan pendidikan dari tingkat MTs (Madrasah Tsanawiyyah) sampai MA (Madrasah ‘Aliyah).
Masa-masa awal MA benar-benar menjadi masa serius buatku. Ini adalah masa transisi dari keterpurukan menuju kebangkitan. Aku tahu, selama ini—diantara anak Mamah dan Bapa—Dede yang selalu diperhatikan, diperhitungkan, dan dibanggakan. Seiring dengan bertambahnya usiaku juga bertambahnya tuntutan kedewasaanku, maka aku berpikir bahwa sukses bukan untuk mendapat pujian. Namun, aku tetap ingin sukses untuk menjadi kebanggaan Mamah dan Bapa, agar mereka tahu bahwa tidak sia-sia usaha mereka mendidik dan mendo’akan anak sepertiku.
Tetapi aku ingin sedikit bercerita tentang asal mula munculnya keinginanku untuk melanjutkan kuliah. Itu berawal ketika aku mengenal seorang kakak kelas bernama A Usamah. Ia duduk di kelas 3 MA ketika aku kelas 3 MTs. Itu berarti dia lebih tua 3 tahun dariku. Sebenarnya kami mulai berkenalan saat aku kelas 2 MTs, namun sepertinya saat aku 3 MTs kami kenal lebih akrab. Aku begitu tertarik mengenalnya karena dia anak seorang Ustadz dan pintar. Saat itu, A Usamah adalah kakak kelas beda tingkat yang satu-satunya aku kenal.
Saat itu komunikasi antara aku dan A Usamah hanya sebatas SMS-an dan Facebook-an. Menyenangkan sekali berkenalan dengannya karena bisa berbagi ilmu.
Suatu hari selesai shalat Isya’, ada SMS masuk. Aku pun segera membacanya.
A Usamah: Besok pengumuman hasil tes beasiswa. Do’akan ya. Semoga Aa tawakkal apapun hasilnya.
Sulit menjelaskan perasaanku saat itu, yang pasti aku tersenyum girang dan segera membalas SMS-nya.
Iya A, Nadia do’akan semoga diberi yang terbaik J
Lalu dibalas lagi:
Aamiin, jazakillah ;)
Aku kembali pada posisiku seusai shalat Isya’. Untunglah aku masih memakai mukena. Maka aku memanjatkan do’a, tak lupa untuk kelulusan A Usamah.
Esoknya, aku lumayan tegang juga. Meski aku tidak tahu apakah A Usamah akan mengabarkan kelulusannya atau tidak. Tapi ingin sekali aku mengetahuinya, meski aku tetap mengendalikan diri untuk tidak sepenuhnya berharap.
Sekitar pukul 1 siang, handphone-ku berdering tanda SMS masuk. Karena sedang tidak ada kerjaan, aku langsung membuka SMS:
A Usamah: Nadia, Alhamdulillah Aa lulus :D
Aku berteriak bahagia membaca kabar baik ini. Entah kenapa, aku merasa benar-benar bahagia dan bangga. Padahal aku bukan siapa-siapa dia. Tak peduli akan hal itu, aku langsung membalas.
Alhamdulillah, good luck ya A :D
Ngomong2, Aa kuliah dimana?
Tak lama, datanglah balasan:
Di IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Aku tertegun membacanya. Sampai nyaris kebingungan ingin membalas apa.
Jauh sekali, A.
Lalu terjadilah obrolan menarik.
A Usamah: Memang sih, tapi mau bagaimana lagi?
Aku: Hmmm…tak apa. Semoga sukses ya! J
A Usamah: Aamiin J
Aku: Jurusan apa?
A Usamah: Tafsir hadits
Aku: Wuiiihhh
A Usamah: Eh, Nadia lanjut di MA kan?
Aku: Iya A
A Usamah: Wah! Nadia baru masuk MA, Aa udah pergi kuliah. Sayang sekali ya?
Aku (salah tingkah): Hmmm…iya sedih juga
A Usamah: Haha…nggak usah sedih. Bukan pindah rumah kok J
Aku: Iya…masih ada Ustadz Adung kok :D
A Usamah: Hehehe…boleh juga tuh :D
Aku: Senangnya bisa dapat beasiswa. Aku kepingin dapat juga.
A Usamah: Mau tahu tips-nya? J
Aku: Mau mau :D
A Usamah: Gampang. Usahakan selama MA terus dapat rangking 5 besar. Insya Allah mudah kalau ada kemauan. Semangat!
Aku: Hmmm…harus bisa! Do’akan ya A
A Usamah: Pasti bisa! Dido’akan kok J
Aku: Makasih ya A
A Usamah: Iya, sama2
Itulah yang membuatku tertarik untuk melanjutkan kuliah dan mendapat beasiswa. Apalagi dengan syarat seperti itu, aku tinggal berusaha untuk mencapainya. Untunglah setelah kepergian A Usamah, komunikasi kami tidak serta merta terputus. Sesekali kami bertegur sapa meski tetap lewat SMS dan Facebook. Aku pun menceritakan tentang A Usamah kepada Mamah dan Bapa, bahkan sampai bisa berkenalan.
Masa-masa awal MA memang lumayan sulit karena kelas 1 belum ada penjurusan. Maka, aku masih bertemu pelajaran eksak yang menyebalkan seperti Fisika dan Kimia. Kalau Matematika sih akan tetap dipelajari meski sudah masuk jurusan Keagamaan.
“Pelajaran Fisika dan Kimia susah sekali,” keluhku pada Mamah.
“Hmmm, Mamah maklumi kok,” ujar Mamah tersenyum.
“Lalu bagaimana Tetah bisa 5 besar kalau begini?”
“Kalau begitu, maksimalkan apa yang Teteh bisa. Jangan sampai kedua pelajaran itu menjadi penghalang kesuksesan. Mau nggak mau Teteh harus menghadapinya. Mamah tahu, sekarang Teteh lebih rajin dibanding sewaktu Teteh MTs,” ujar Mamah yang lumayan membuatku lega.
Maka, dengan support sepenuhnya dari Mamah dan Bapa, Alhamdulillah di semester pertama aku bisa mendapat peringkat 4. Lalu, semester kedua peringkat 2; semester ketiga peringkat 4; semester keempat peringkat 3; semester kelima peringkat 3.
Semester kelima (kelas 3 semester 1) pun berlalu. Menginjak semester keenam, hal-hal yang membikin galau pun bermunculan. Mulai dari penyelesaian Karya Tulis Ilmiah, pendaftaran masuk PTN di berbagai jalur, dan berbagai persiapan menuju rangkaian ujian akhir. Tetapi, di awal semester ini yang menjadi trending topic adalah pendaftaran ke PTN.
Rangkaian ujian pun berlalu termasuk UN, namun itu bukanlah akhir. Masih ada ujian akhir khas pesantren yaitu PPL selama 2 minggu di daerah Tasikmalaya. Selama kegiatan itu, aku bersama teman-teman satu kelompok biasa mengisi pengajian di masjid terdekat dan mengajar di SD dan madrasah terdekat. Seusai PPL, aku mendapat kabar dari A Usamah tentang pendaftaran jalur PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dari Kementrian Agama.
“Cobalah mendaftar, siapa tahu itu kesempatanmu,” kata A Usamah melalui chatting. Namun perlu diingat, A Usamah sendiri bukan penerima PBSB, melainkan Bidikmisi.
“Perlu diingat, universitas dan jurusan yang tersedia memang amat terbatas, tidak seperti pendaftaran Bidikmisi. Maka hati-hatilah dalam memilih,” tambahnya.
Aku membuka link yang diberi A Usamah. Aku buru-buru melihat pilihan universitas dan jurusannya. Aku melirik UIN Sunan Kalijaga, jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir; UIN Sunan Gunung Djati, jurusan Tasawuf Psikoterapi; IAIN Walisongo, jurusan Ilmu Falak; dan terakhir ada UIN Sunan Ampel dengan jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.
Aku termenung sejenak sekaligus kaget melihat pilihan yang terakhir ini. Aku ingin mendaftar di Bimbingan dan Konseling Islam, namun apakah harus di UIN Sunan Ampel, Surabaya? Bukankah itu jauh?.
Aku memberitahu Mamah dan Bapa perihal PBSB ini sekaligus mengutarakan masalah dalam memilih universitas.
“Aku sreg di Bimbingan dan Konseling Islam, soalnya ‘kan sama seperti Psikologi. Tapi unversitasnya ini loh!” keluhku.
“Memangnya dimana?” tanya Mamah.
“Di UIN Sunan Ampel, Surabaya,” jawabku.
“Bukannya Usamah juga disana?” tanya Bapa.
“Iya…”
“Baguslah, biar ada yang memantau,” seringai Mamah menanggapi.
Aku agak salah tingkah mendengar tanggapan Mamah disertai anggukan setuju Bapa. Aduh! Memangnya itu satu-satunya alasan Mamah dan Bapa langsung mengizinkanku memilih UIN Sunan Ampel? Nggak ada pertimbangan lain?!
”Eeeeh, tapi ingat! Harus tetap jaga diri, jangan sampai pacaran!” ujar Mamah mengingatkan, Bapa pun mengiyakan.
“Siapa yang mau, Mamaaaahh!” teriakku semakin salah tingkah.
Akhirnya, aku memilih UIN Sunan Ampel dengan persetujuan dan support penuh dari Mamah dan Bapa. Aku memilihnya sebagai satu-satunya pilihan karena tidak ada lagi jurusan yang cocok.
“Sebenarnya, seandainya tanpa ada Usamah pun Bapa tetap mengizinkan Teteh untuk kuliah dimana pun, asal tujuan Teteh jelas dan fokus. Ingat ya, pergaulan tetap mesti dijaga. Itu saja,” ujar Bapa.
Tibalah pada tanggal 22 Mei 2014, aku dan 25 teman peserta seleksi PBSB berangkat menuju MAN 1 Bandung di daerah Cijerah, Bandung. Agak dramatis juga apa yang aku alami saat seleksi. Pertama, teman-teman jurusan Keagamaan yang lain memilih UIN Sunan Kalijaga, aku sendiri yang berbeda. Maka aku ditempatkan di satu ruangan tanpa teman satu sekolah; Kedua, saat pembagian karta tanda peserta, entah kenapa kartuku sendirilah yang tidak ditempel foto. Padahal saat pendaftaran aku menyertakan pas foto 4x6 sebanyak 3 lembar; Ketiga, kartu tanda pesertaku tidak dibubuhkan stempel, sehingga saat usai pembukaan, aku sendirian harus meminta stempel sebelum masuk ruangan.
“Ibu, kenapa nasibku seperti ini?” keluhku pada Bu Yuli, guru yang mengantar kami.
“Itu berarti kamu harus lolos seleksi!” hibur Bu Yuli memberi semangat sambil merangkulku.
“Aamiin…siap Bu!” ujarku dengan nada yang mantap.
Seharian penuh aku didera berbagai soal seleksi. Pada sesi awal sih masih merasa mudah dengan soal Psikotes dan Dirasah Islamiyah. Namun pada sesi kedua yaitu soal Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, aku merasa amat kesulitan. Sambil terkantuk-kantuk pula aku mengerjakannya. Sampai soal pada sesi terakhir hendak dikumpulkan, aku merasa amat lelah dan tidak yakin bisa lolos seleksi dengan mengandalkan jawaban yang asal-asalan ini.
“Jangan berkecil hati, setelah pulang ke rumah masih ada kesempatan untuk rajin tahajud dan berdo’a. Siapa tahu kamu beruntung,” ujar Bapak pengawas ketika aku meletakkan lembar soal dan lembar jawaban diatas meja pengawas.
Aku merasa terhibur oleh ucapan itu, seolah-olah Bapak itu tahu keluhan hatiku ini. Aku menanggapi ucapan itu dengan anggukan mantap.
Aku berjalan gontai menuju kantin, tempat para guru yang mengantar beserta peserta lain berkumpul. Kami istirahat sambil menyantap konsumsi yang disediakan. Aku sendiri duduk mematung tanpa sedikitpun menyentuh nasi kotak itu.
“Nadia, nggak makan?” tegur Bu Linda.
“Kenyang sama soal Bu!” jawabku datar karena lelah.
Sontak guru-guru dan para peserta lain tertawa mendengar jawabanku. Syukurlah, tidak ada lagi yang memaksaku untuk menyantap makanan itu.
Seminggu menuju pengumuman hasil seleksi, aku benar-benar tegang. Aku semakin sungguh-sungguh dalam berdo’a agar aku bisa diberi yang terbaik. Aku ingin meneruskan kuliah tanpa membebani kedua orang tua. Begitupun Mamah dan Bapa juga ikut mendo’akan. Alhamdulillah, pada tanggal 9 Juni 2014 aku dinyatakan lulus PBSB.
Bimbingan dan Konseling Islam adalah jurusanku. Namun aku masih belum menikmati indahnya belajar Psikologi karena mahasiswa semester satu baru sekedar mata kuliah pengantar. Aku rasa, belajar disini memang butuh perjuangan. Karena aku ada bersama anak-anak PBSB yang pintar-pintar. Mungkin aku belum menemukan kesan yang begitu berarti bersama teman-teman. Maklum, baru dua bulan aku berada disini, masih masa adaptasi.
Impianku kedepannya, aku ingin menjadi seorang penulis terkenal. Aku ingin bisa dikenal banyak orang di seluruh penjuru negeri bahkan sampai luar negeri tanpa harus repot-repot mendatangi mereka. Lalu, aku menyadari akan bakat menggambarku. Setidaknya aku ingin bisa membuat komik, meski saat ini aku mesti berlatih lagi dari nol.
Alasan aku memilih Bimbingan dan Konseling Islam pada jalur PBSB tentu saja karena ingin mengabdi ke Pesantren untuk menjadi guru BK. Namun, untuk target yang terkait, ada pengalaman yang menarik ketika aku mengikuti OSMAPRODI BKI. Tepatnya saat mengikuti materi yang disampaikan oleh Pak Thohir.
“Apa yang akan Anda lakukan 4 tahun ke depan setelah kuliah di jurusan BKI?” tanya Pak Thohir kepada para peserta.
Beberapa peserta mengacungkan tangan dan mengemukakan target mereka ketika Pak Thohir mempersilakan mereka berbicara.
Aku berminat untuk ikut mengacungkan tangan, meski saat itu aku masih belum tahu targetku. Namun, dengan cepat Pak Thohir melirikku dan menunjukku untuk berbicara.
“Saya ingin menjadi konselor di daerah terpencil!” ucapku spontan.
Pak Thohir mengulang kembali ucapanku sambil mengangguk.
“Kita do’akan semoga targetnya terwujud,” ucap Pak Thohir kepada seluruh peserta.
“Aamiin…” seru para peserta serempak.
Saat itu spontan aku mengingat kampung halaman Mamah di sebuah pedalaman di daerah Garut. Aku mengingat problem-problem pergaulan yang dialami anak-anak remaja seusiaku, bahkan yang lebih muda. Sebenarnya aku tidak begitu yakin apakah aku benar-benar menjadikan hal itu sebagai target. Tapi, mudah-mudahan ini menjadi do’a. Aku ingin mengabdi kepada siapapun dan dimanapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar