Minggu, 24 Mei 2015

HIDUP MASIH KOMA


AWAL YANG HARUS BERBEDA
Alarm handphone berdering saat mimpiku belum sampai ke penghujung. Dengan pelan aku membuka mata sembari meraba-raba kasur, mencari letak handphone itu untuk mematikan alarm. Mataku semakin menyipit tatkala lampu handphone menyala terang-benderang. Mata ini masih beradaptasi pada cahaya setelah beberapa jam kugunakan untuk tidur. Dengan segera aku matikan alarm dan meletekannya kembali di samping bantal.
Aku termenung sejenak, menggumam kecil melantunkan do’a bangun tidur, dan masih terbaring mematung. Masih setengah hati aku terbangun, bahkan mungkin kurang dari itu. Kulihat lagi handphone untuk memeriksa jam. Oh, 02:32. Aku memperbaiki posisi berbaringku, hendak melanjutkan mimpi barang 15 menit saja. Namun kemudian aku telentang kembali dan berusaha biar mata ini melotot. Aku terus membuka mataku semaksimal mungkin. Lalu kuangkat bahuku pelan-pelan dan kugerakkan badan sedikit-sedikit untuk mengurangi rasa pegal.
Aku menghela napas. Uh, panas sekali. Keringat bercucuran hampir di sekujur tubuh. Beginilah Surabaya, panas tiada henti. Tidur saja banyak keringat apalagi banyak bergerak. Mau tidak mau aku harus terbiasa dengan keadaan seperti ini, meski aku merindukan udara sejuk di kampung halaman.
Masih duduk sejenak, aku merenung tentang pagi buta ini. Aku bersyukur bisa bangun sepagi ini karena sebelum tidur aku telah berniat untuk bangun setelah alarm berbunyi, agar aku bisa menyempatkan diri shalat tahajjud. Meski tadi sempat tergoda untuk tidur manja lagi. Namun, bagaimana aku bisa membiasakan tahajud setiap hari apabila untuk permulaan seperti ini masih susah?.
Aku turun dari kasurku dan segera menuju kamar mandi. Aku berjalan lambat dan hati-hati karena baru bangun tidur. Terlalu terburu. Namun ternyata kamar mandi yang berderet empat itu terisi semua. Melihat suasana ini aku hanya menggelengkan kepala. Pagi buta begini ternyata orang lain lebih giat daripada aku. Aku pun memutuskan untuk berwudlu saja di tempat untuk berwudlu. Takutnya lama jika aku menunggu salah seorang keluar dari kamar mandi itu, nantinya tidak sempat tahajud.
Kuhidupkan keran dan mulai mencuci kedua telapak tangan dengan pelan. Uh, segar sekali rasanya ketika ribuan butiran air itu melebur pada setiap sudut wajahku. Setelah berjam-jam berpeluh keringat, setidaknya berwudlu adalah kegiatan kecil yang kurindukan untuk menyejukkan sebagian anggota tubuhku. Pun menyejukkan jiwaku. Ya…mestinya seperti itu jika melakukannya diiringi dengan kepasrahan diri pada-Nya. Namun seringkali kesejukan itu tidak sempat dirasakan tatkali melakukannya hanya untuk memenuhi syarat sah shalat.
Aku menghela nafas sambil mengusap wajah dari sisa-sisa butiran air. Berjalan agak cepat menuju kamar. Dengan pelan kubuka pintu kamar agar tidak menganggu kedua temanku yang masih tidur. Kuusap wajah dan tanganku dengan handuk. Bergegas mengambil sehelai sajadah untuk dibentangkan dan sepasang mukena yang kemudian kukenakan. Tahajud pun dimulai.
Rakaat demi rakaat kulalui. Perkara khusyuk memang selalu menjadi keresahan. Apakah shalatku diterima? Apa dengan shalatku ini doaku diterima? Memang tak kurang sedikitpun optimis dan husnudzanku bahwa Allah selalu mengabulkan pinta hamba-Nya, namun seringkali aku yang tak tahu bersyukur dan berlumuran maksiat ini malu untuk banyak pinta dihadapan-Nya. Lebih malu lagi, aku sadar bahwa kasih sayang-Nya tak terperi, melebihi nampak megahnya alam raya ini. Jantungku masih berdegup, nafas pun masih bisa terhirup. Nikmat-Mu yang mana? Yang bisa aku dustakan, Ya Rabb?
Di dalam do’aku, kuungkapkan segala rasa malu dan rasa berdosaku. Siapa lagi yang bisa mendengar segala permohonan selain Dia? Diantara sunyi senyap ini, memanglah waktu yang paling nikmat untuk mengungkapkan segalanya. Tak lupa kuungkapkan rasa syukur dan do’aku pada kedua orangtua. Semoga keberkahan, kesehatan, cinta kasih, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam setiap urusan selalu mengiringi derap langkah mereka. Kuharap mereka bisa melihat dan menikmati kesuksesanku kelak.
Sehabis tahajud ini, aku akan menghadapi proses perkuliahan di hari pertama. Aku pun berharap semoga bisa memanfaatkan awal ini dengan sebaik-baiknya, juga seterusnya. Semoga kepulanganku ke kampung halaman nanti akan berbeda dengan yang kemarin. Aku harus mempersembahkan sesuatu yang lebih membahagiakan kedua orangtuaku. Salah satunya dalam hal prestasi.
Ah iya, ini hari senin. Hari pertama beraktifitas kuliah. Dan kau tahu? Sebagaimana semester yang lalu, semester ini pun setiap awal pekannya akan selalu bertemu Prof. Ali. Sepertinya hari senin dan Prof. Ali adalah ‘pasangan yang serasi’. Menurutku, senin adalah hari untuk bangun dari segala santai di akhir pekan. Maka, ketika ‘bangun’, kami membutuhkan dorongan untuk bisa bangkit dari terlena, mengabaikan hasrat untuk bersantai. Dan Prof. Ali adalah salah satu orang yang cocok untuk membangkitkan semangat itu.
Lega hati ini karena sudah merenungkan banyak hal. Aku tersenyum mantap untuk menghadapi segalanya. Di tanah perantauan ini. Aku siap untuk berubah. Aku siap untuk disiplin. Aku siap untuk lejitkan potensi diri.
Bismillah…

TETESAN HARU DAN SEGELAS TEH PANAS
Mamah, Bapa.
Maaf telah membuatmu khawatir karena keadaanku. Maafkan aku yang tak bisa menjaga diri. Aku merindukan kalian, aku benar-benar penat dan ingin sentuhan kasih sayang kalian. Aku lapar, aku ingin kalian menghampiri dan menyuapiku. Aku haus, aku berharap kalian sodorkan segelas air hangat, sesekali dengan satu-dua biji pil untuk redakan demamku. Atau sesekali kalian duduk disamping jasad lemahku, siap berikan pijitan untuk melemaskan otot-ototku yang kaku.
Aku berusaha membuka mata meski kupikir tiada yang nampak menarik dilihat untuk saat ini. Ada-tidaknya orang di sekitarku sama saja, dunia tampak kelabu dan begitu berputar. Aku tak bisa meladeni apapun, memikirkan apapun, teringat ujian Tafsir BKI minggu depan saja hanya membuatku mengantuk. Meski aku tahu kalau materinya amat banyak, berbahasa Arab pula. Tapi aku bisa apa? Menggerakkan kepala saja amat payah. Tuhan menyuruhku tuk beristirahat. Aku hanya bisa mengucap Ya Rabbi sambil istighfar berulang-ulang. Meminta ampunan pada-Nya atas kedzalimanku pada diri.
Panas, namun aku menggigil. Kubiarkan jaket tebal menyelimuti hingga keringat banyak bercucuran. Bosan, namun tidak kuat tuk beranjak. Kubiarkan diri ini terbaring dalam suasana yang sudah 6,5 bulan tiada bedanya. Aku masih tinggal di asrama dengan teman sekamar yang dia-dia saja. Ah iya. Yang satunya—namanya Hana—juga sama sepertiku saat ini. Bedanya, dia bisa pulang ke rumahnya di Gresik dan mendapat perawatan dari kedua orangtuanya. Aku sendiri hanya bisa mengabari Mamah-Bapa via telepon dan membuatnya khawatir dari kejauhan, namun aku yakin keduanya kuat-kuat berdo’a.
Sepi, namun manusia mana yang menemaniku? Lantunan istighfar-lah yang membuatku tidak merasa sendiri karena ada Dia yang jauh lebih dekat denganku. Tak ada yang diragukan lagi, aku sudah biasa begini semenjak hijrahku. Mungkin aku lebih bandel karena tidak ada yang memaksaku untuk minum obat atau segera makan.
Tidak banyak yang kuingat untuk hari ini. Hanya berawal sejak subuh sehabis mandi, kurasakan hidungku gatal dan sebentar-sebentar bersin. Aku tidak begitu peduli karena bersin di pagi hari itu sudah biasa. Lalu aku melakukan aktifitas seperti biasa: menyiapkan pakaian, menyiapkan buku dan tas, sarapan, tak lupa juga minum. Normal-normal saja. Dari bersin, kemudian kurasakan hangat di kepala saat berjalan menuju fakultas untuk mengikuti intensif.
Mungkin pengaruh suhu AC di kelas yang cukup dingin, membuat hangatnya kepalaku kian bertambah menjadi panas. Awalnya aku tidak mempedulikan. Aku tetap mengikuti intensif tanpa keluhan.
Setelah intensif, aku tidak pindah kelas karena memang kuliah jam pertama tetap berada di tempat yang sama. Kuliah bersama Prof. Ali. Kali ini beliau membawa asisten dosennya, Ustadz Ainul Yaqin. Ini sudah kali kedua asdos itu masuk dan belajar bersama kami.
Sungguh, aku tidak bisa mendeskripsikan suasana ketika masuk kelas. Aku tidak ingat Prof. Ali maupun Ustadz Yaqin memakai baju apa, bagaimana gerak-geriknya saat masuk kelas, pokoknya aku tidak ingat hal yang sampai sedetil itu. Aku hanya merasakan panas yang semakin menggerogoti kepalaku. Membuat otakku berputar-putar, mataku melirik kesana-kemari dan pandanganku kiat melemah. Rasanya ingin tidur saja.
Tapi aku tetap bertahan. Aku tetap ingin mendengar kata bijak beliau meskipun hanya secercah yang kuingat. Sampai pada akhirnya aku mendengar beliau bertanya pada kami.
“Siapa yang saat ini telah menulis kegiatan kuliahnya?”
Tiba-tiba Munir mengacung.
“Berapa halaman?” tanya Pak Prof.
“Satu halaman,” jawab Munir agak malu-malu.
Pak Prof mengangguk pelan. Kemudian aku mengacung. Pak Prof melihat ke arahku, dan bertanya hal yang sama padaku.
“Enam lembar,” jawabku.
Namun yang aku tulis bukanlah kegiatan kuliah, melainkan apa saja yang aku rasakan. Menurutku hal itu bukan masalah bagi beliau. Yang penting menulis, itulah perkataan beliau yang selalu aku ingat.
Setelah itu, Pak Prof kembali ke tempat duduknya. Ia membuka-buka sebuah fotokopian yang sedari tadi terletak di atas meja.
“Saya sedang menyusun buku berjudul Bersiul di Tengah Badai. Ini editan yang pertama. Yang halamannya terbanyak berapa? Enam halaman ya? Siapa?”
Aku reflek mengacung.
“Ambil mbak,” perintah Pak Prof yang masih duduk di bangkunya. Beliau menyodorkan fotokopian itu, membiarkan aku sendiri yang mengambilnya.
Aku tidak percaya bisa mendapatkan ‘sesuatu’ darinya, namun aku bahagia. Biasanya hanya Lia, si peraih nilai tertinggi hampir di seluruh ujian Prof Ali, yang selalu mendapatkannya.
“Semoga itu bisa memotivasimu untuk menulis.”
Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku amat sangat berterima kasih. Momen tadi sempat membuatku terlupa akan rasa sakit yang mendera ini.
Pak Prof mengumumkan bahwa minggu depan sudah mulai ujian. Ujian pertama adalah materi dari tafsir Al Munir yang berbahasa arab itu. Pak Prof menyuruh Rahmat Faisal, sang kosma, untuk melihat silabus dan menyebutkan materi apa saja yang akan diuji.
Sebenarnya ujian kali ini adalah problem bagiku. Aku tidak bisa bahasa Arab.
Panas menderaku kembali. Aku begitu lemas saat harus pindah posisi untuk berkumpul bersama teman-teman sekelompok tafsir Ibnu Katsir. Apalagi jika harus memindahkan bangku agar posisi duduk menjadi bersatu dengan teman-teman sekelompok. Rasanya begitu pusing. Namun aku mencoba bertahan.
Jujur, selama dua jam diskusi itu aku tak kuasa menangkap pembicaraannya. Aku jika tidak menulis sepatah kata pun apa yang disampaikan sang Ustadz. Aku benar-benar tidak kuat pada dinginnya AC, yang kebetulan posisi dudukku lumayan dekat dengannya. Panas pun telah menggerogoti sekujur tubuh. Yang kurasakan hanyalah hawa panas, namun aku merinding kedinginan. Rasa sakitpun bertambah dengan terasa sakitnya tenggorokan dan ingus yang memenuhi lubang hidung. Ah, aku memang sedang flu.
Tiada lagi yang bisa kulakukan, selain bergumam Ya Rabbi, Ya Rabbi… aku mencoba kuat. Aku sedang mencari ilmu. Berharap masih ada secercah kekuatan agar aku tetap memperhatikan apa yang Ustadz sampaikan.
Apa daya. Selama diskusi aku hanya bisa terduduk lemah. Aku hanya bisa menggegam tangan Zahra yang berada di sampingku erat-erat saking kedinginan. Inginnya aku bisa mengacungkan tangan, lalu Ustadz memandang ke arahku, dan aku kuasa berkata saya izin pulang, saya tidak enak badan. Namun aku terlalu malu untuk melakukan itu di tengah teman-teman yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Akhirnya aku pasrah. Kuperhatikan sekuatku saja. Inginnya aku menutup mata, namun aku malu jika kelihatan tidur. Sesekali aku pun melihat jam, berharap waktu berputar dengan cepat dan aku bisa pulang.
Namun diskusinya seru. Banyak yang bertanya. Aku makin dongkol karena semakin banyak pertanyaan, maka semakin panjang lagi sang Ustadz membeberkan jawaban. Berkali-kali aku hanya bisa bergumam sudahi…sudahi…sudahi. Lagi-lagi apa daya, aku tidak bisa menghentikannya. Karena mereka sedang berbicara tentang ISIS. Tentu saja hal itu tak bisa terelakkan.
Tubuhku, tidakkah kau mau menunggu sedikit waktu lagi? Aku tahu kau sudah mencapai batasmu, aku tahu kau sudah meminta hakmu. Mohon bersabarlah. Kita akan segera keluar. Tinggal menunggu beberapa patah kata lagi dari Ustadz Ainul Yaqin. Aku pastikan kita kan langsung pulang ke pesmi dan beristirahat. Meski resikonya kita tidak sempat membeli makanan tuk makan siang. Ah, itu gampang. Bisa nitip ke teman. Yang penting kamu sabar yaaa…kuatlah…kuatlah…
Lima belas menit sejak gumamku tadi, ternyata belum selesai juga.
Tubuh mereka memang tidak sekuat dirimu sekarang. Mohon lebih bersabar lagi. Tubuhku…mari sama-sama berdo’a agar sang Ustadz segera mengakhiri pembicaraan.
Lima menit kemudian, Pak Prof masuk kembali sambil menenteng 3 makalah yang tebal-tebal.
“Ustadz, sudah cukup,” ucap Pak Prof memotong diskusi.
Alhamdulillah, tak lama lagi…
Dikira kuliah kali ini akan ditutup, ternyata Pak Prof menyambung pembicaraan Ustadz. Ah…rasanya aku sudah K.O. Kalau aku Ultraman, pasti alarm di dada sudah bersuara tintung-tintung.
Tubuhku…sudah tak kuat ya? Ah mau bagaimana lagi. Aku tak bisa janjikan apapun lagi jika tetap menyuruhmu bersabar. Lakukanlah apa yang kamu bisa. Jika kamu memang sudah lemah, aku pasrah.
Aku makin tertunduk. Ya Rabb, secercah kekuatan masih aku harapkan. Setidaknya untuk menghormati Sang Guru Besar yang sedang berbicara pada kami. Disaat-saat ini, bolehkah aku mengeluh, Ya Rabb? Bolehkah rasanya inginku berteriak dan menangis karena kuliah yang belum kunjung berakhir ini Ya Rabb? Astaghfirullah…betapa lemahnya hamba. Sudah tahu lemah, tapi sok-sok kuat dengan banyak begadang. Bahkan aku baru menyadari bahwa hal itulah yang membuatku merasa pening sekarang. Ampuni diriku yang telah mendzalimi diri, Ya Rabb. Tidak peka akan hak tubuh yang telah Kau titipkan ini.
Pak Prof masih berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Ia meminta salah seorang diantara kami menyimpulkan diskusi tentang ISIS dengan memakai Bahasa Arab atau Inggris.
Zahra mengacung, ia berbicara dengan Bahasa Inggris setelah dipersilakan oleh Pak Prof.
Temanku Rifki memandangku.
“Sakit?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan dengan nada lirih. Mungkin tak terdengar. Rifki hanya memandangku iba.
Rasanya aku ingin benar-benar pasrah selemah-lemahnya. Kalau bisa, sampai pening ini memutar kepalaku tanpa ampun. Semakin lemas sampai terdengar suara ‘braaaakkkk!!!’ yang begitu keras. Membuat terkejut para mahasiswa beserta dosen dan asdosnya. Pandangan pun kalang-kabut mencari sumber suara itu. Dan mereka telah mendapatiku terkapar karena pingsan. Seperti apa yang dialami Munir seminggu yang lalu.
Maunya sih begitu!
Namun, Allah masih menguatkanku. Aku masih waras, tak mau pasrah dan membuat sakit jadi lebih sakit lagi.
Entah sudah berapa menit kemudian, aku tak peduli. Yang pasti perkuliahan telah diakhiri dengan do’a kafaratul majlis.
Sebelum beranjak pulang, aku ingat bahwa dalam suatu acara, aku diberi amanah kepanitiaan sebagai DPA. Namun dengan keterbatasan energi, tidak mungkin aku bisa bekerja. Maka aku mencari Algi.
“Al, ini surat izin meminjam sound system. Kamu yang sampaikan ya?” ucapku sembari menyodorkan amplop.
Algi memandangku sejenak.
“Aku nggak bisa sekarang,” lanjutku.
Algi menerima amplop dariku, lalu memandangku lagi.
“Kenapa? Kok lemes?”
“Aku sakit,” jawabku singkat. Sambil tak sabar ingin segera pulang.
“Ooohh, aku juga sedang typus,” lanjut Algi.
Aku memandangnya heran.
“Kok?” aku melongo, dia terlihat biasa-biasa saja.
“Yaaa… kuat-kuatin lah,” lanjutnya lagi. Seolah mengerti pertanyaanku.
“Oooohhh…” aku mendeliknya. Kemudian berlalu dengan perasaan dongkol.
Aku bukan wonder woman, yang bisa sekuat itu.
Jawaban Algi seolah mengejekku, namun memang begini keadaanku sekarang. Lemah tak berdaya. Jelas-jelas tubuh ini meminta hak untuk istirahat. Lalu aku harus memungkirinya? Membuat sakitku ini jadi makin lama?
Hampir saja aku keluar dari lawing pintu…
“Hei teman-teman! Jangan keluar dulu, ada pengumuman!” seru Rahmat si kosma membuat kepulangan kami jadi tertunda.
Apa pula iniiii???
Waktu pun molor menunggu teman-teman bisa duduk rapi. Ah! Disana ada tembok. Rasanya inginku benturkan kepala pusingku ini. Lagi-lagi Alhamdulillah, aku masih waras.
“Teman-teman, mungkin diantara kita ada yang belum mengerti Bahasa Arab. Bagaimana bisa kita menghafal Tafsir Al Munir jika materinya saja kita tidak faham?” teriaknya memulai pengumuman.
“Iyaaaaaa” seru teman-teman setuju.
LANGSUNG KE INTINYA, MAT!
“Maka, aku mengajak teman-teman untuk membahas bersama-sama materinya. Kita kumpul habis ashar saja ya? Di depan SAC bagaimana?”
“Iya, setujuuuuu!” seru teman-teman lagi. Terdengar mereka juga tak sabar ingin menyudahi pertemuan ini.
Setelah semua dirasa telah cukup, maka kami beramai-ramai keluar kelas.
Aku berjalan gontai menuju pesmi. Jarak yang biasanya kutempuh dengan kecepatan langkah 100 km/per jam sekarang hanya bisa dengan 1 km/per menit! Lambat melebihi siput. Tiada yang menemani. Kebanyakan dari mereka ke gang dosen dulu untuk membeli makan siang. Untunglah aku telah menitip sayur sop pada Murni.
Di tengah perjalanan pun aku masih berpikir, iya sih…aku tidak faham Bahasa Arab. Teman-teman akan beramai-ramai mengkaji materinya bersama. Sebenarnya ini kesempatan bagiku. Namun bagaimana jika aku tetap tidak kuat? Harus kurelakankah kesempatan itu? Kesempatan agar aku bisa memahami materi dan sedikit menghafal untuk menyicil agar nantinya tidak menghafal mendadak? Ah, yang penting setelah sampai ke pesmi aku istirahat dulu.
Pulang kuliah, tiada yang kupikirkan lagi selain berbaring. Namun teringat bahwa aku pun belum shalat dzuhur. Dengan sisa tenaga, aku berjalan pelan nan hati-hati menuju tempat wudhu. Sedikit mengaduh saat pancuran air dari kran menyentuh ujung kulitku. Dingin!
Syukurlah, aku masih kuat shalat dengan berdiri. Aku membaca do’a dengan pelan dalam shalatku. Sambil merintih menahan pusing, aku shalat sambil memohon kekuatan dari-Mu. Aku yakin yakin yakin, Engkau Yang Maha Kuat pasti pasti pasti akan menurunkan kekuatan-Mu padaku. Setidaknya untuk bersabar dan berjuang untuk kesembuhan.
Setelah sholat, tentu aku berdo’a.
Ah…rasanya malu Ya Rabb. Kurasakan duduk bersimpuh ini sebatas ketika aku sedang tak berdaya dan minta kekuatan. Pernahkah aku bersyukur seperti ini Ya Rabb? Kapan terakhir kali? Aku tak ingat…bahkan mungkin tak pernah sama sekali.
Ya Rabb, pantaskah aku yang lebih banyak mengeluh daripada bersyukur ini bersimpuh dihadapan-Mu?
Sebegini malunya aku, tapi Engkau-lah tumpuan harapanku.
Ya Rabb, kuatkan aku. Demi kelancaran studi. Sebagaimana Engkau tahu bahwa aku ini perantauan, aku pun tak ingin membuat khawatir kedua orangtuaku.
Tak lama, airmataku meleleh. Aku teringat Mamah Bapa.
Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengabarinya? Bagaimana kalau mereka khawatir?
Khawatir? Ah kurasa itu bukanlah alasan.
Aku sedang sendiri sekarang. Aku butuh kata-kata yang bisa menguatkan. Siapa lagi yang bisa kupinta selain mereka?
Aku masih berpikir sambil melepaskan mukena yang kupakai, meletakkannya di atas sajadah, melipatnya, sebentar kuletakkan mukenanya di atas lantai untuk melipat sajadah. Setelah sajadah terlipat, kuletakkan kembali lipatan mukena diatas lipatan sajadah. Lalu, kuambil keduanya dan berjalan pelan tiga langkah menuju sebuah kursi kecil untuk meletekkannya. Semua kulakukan dengan pelan. Kursi kecil itu memang digunakan untuk menumpuk lipatan-lipatan mukena dan sajadah milik para penghuni kamar.
Lalu dengan pelan, delapan langkah pelan aku kembali menuju tempat tidur. Aku sudah tak ingin memikirkan apa-apa lagi selain tidur. Berat terasa kepalaku, sehingga delapan langkah ini malah lamanya terasa dua kali lipat.
Aku mencoba untuk tertidur, mencoba berpindah dari dunia nyata menuju alam mimpi. Siapa tahu saat aku terbangun, aku sudah sehat dan fresh kembali sehingga bisa melakukan aktifitas dengan normal. Ya, sekarang aku sedang tidak normal! Tidak seperti yang sedang dilakukan orang-orang.
Lalu bagaimana dengan mengirim SMS pada Mamah-Bapa? Aku iya, aku merasa telah diingatkan kembali. Kugerakkan badanku ke arah kiri, tempat handphone biasa tergeletak. Ternyata tidak ada! Ah, dimana?
Terpaksa aku harus bangkit lagi. Dengan ogah-ogahan dan hampir menangis karena ingin tidur, kulelilingi sekitar kasur mulai dari mengangkat bantal, dan mengangkat apa saja yang ada diatas kasur seperti sarung, dan tas. Tas? Ah iya! Aku baru ingat jika handphone belum aku keluarkan dari tas sejak aku pulang kuliah.
Maka kubuka bagian tas yang depan sambil berharap perkiraanku benar. Ternyata nihil. Lalu kubuka bagian lain dari tas itu, bagian yang paling besar. Tempat buku-buku, laptop, dan alat tulis bermuara. Sejenak aku tertawa kecil. Miris, seorang yang dari tadi sakit ternyata harus memikul beban berat seperti ini. Ingat seperti itu, tiba-tiba kurasakan pegal di pundak.
Alhamdulillah, ketemu juga!
Aku mengusap layarnya, karena itu memang layar sentuh. Kupikir di zaman sekarang hampir semua orang menggunakan HP layar sentuh.
Aku membuka aplikas SMS, mencari nomor Mamah di daftar kontak.
“Assalamu’alaikum!”
Sontak terdengar pintu kamar terbuka dengan keras saat aku hendak mengetik salam. Belum sempat aku melirik ingin tahu siapa yang membuka. Orang itu sudah muncul dihadapanku dengan membawa sebuah kresek hitam yang isinya entah apa.
Murni berdiri dihadapanku dengan mata semi melotot. Matanya memang begitu.
“Mbak Nad, ini pesananmu. Sayur sop,” ia menyodorkan kresek itu dihadapanku yang masih melongo. Mencoba mengingat-ingat apa aku benar-benar memesannya? Ah iya, aku memesannya saat keluar kelas.
“Simpan aja di meja itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah meja.
Murni menuruti perintahku. Sepuluh langkah ia menuju meja. Meletakkan kresek itu dengan hati-hati.
Lalu ia kembali lagi ke hadapanku.
“Mbak Nad sakit?” Murni meraba keningku.
“Panas sekali!” Murni meringis.
“Ya… seperti yang kau lihat sekarang,” jawabku serak.
“Mbak Nad nggak boleh kemana-mana ya?”
“Boro-boro Mur, bangun sedikit aja nggak kuat!” ucapku ketus.
Hening. Murni duduk di kasurku.
“Oh iya, nanti setelah asar kumpul buat bahas materi tafsir Al Munir ya?” tanyaku.
“Iya Mbak,” jawab Murni.
“Kamu ikut?”
“Ya ikutlah Mbak, aku nggak sama sekali pembahasannya.”
Aku termenung. Aku juga tidak paham.
“Ah, aku maksain nggak ya?”
“Eh…eh…sudah kubilang jangan kemana-mana Mbak!” seru Murni.
“Tapi aku juga nggak paham Mur, aku nanti ketinggalan,” keluhku.
“Tapi kalo maksain juga sama aja Mbak. Nggak akan konsen.”
Aku terdiam.
“Udahlah Mbak, jangan mikirin itu dulu. Yang penting makan dulu, istirahat. Urusan materi itu, kau bisa bertanya ke Mbak Febi.”
Aku terdiam kembali, mengangguk lemah.
“Ya udah Mbak, aku balik ke kamar ya? Awas loh, dimakan tuh!” ucap Murni menelunjuk ke arahku.
“Hehe…iya Mur, makasih ya.”
“Iya sama-sama,” lalu ia berlalu dari hadapanku. Lima belas langkah ia menuju pintu yang masih terbuka.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam,” gumamku lemas.
Makan? Ah… aku masih malas. Rasanya masih kenyang.
Aku berbaring kembali, memperbaiki posisi hingga senyaman mungkin. Lalu menutup mata.
Ah iya! Hampir saja aku memasuki alam mimpi, aku ingat bahwa aku hendak mengirim SMS. Aku langsung bangkit dan mengambil HP yang tergeletak di sebelah kiriku.
Mah, Pa…
Mohon do’anya, aku lagi nggak badan
Tak lama, Mamah pun menelepon.
“Teh, lagi sakit?”
“Iya Mah.”
“Apa aja yang kerasa?”
“Panas Mah. Pusing, nyeri tenggorokan, meriang.”
“Kok bisa? Nggak sarapan dulu ya?”
“Sarapan kok Mah. Ini gara-gara masuk angin, ada teman yang menghidupkan kipas angin semalaman.”
“Hati-hati dong, matiin aja kalo udah terasa dingin,” protes Mamah.
“Surabaya panas Mah, dimatiin malah bercucuran keringat,” ucapku beralasan.
“Hmmm… punya obat nggak?”
“Nggak ada.”
“Periksa atuh, Teh.”
Mendengar saran Mamah seperti itu, aku menerima dengan keragu-raguan. Ah, dari dulu aku selalu malas kalau disuruh atau diajak periksa ke dokter.
“Kayaknya enggak deh,” ucapku dengan rasa takut dipaksa.
“Lho? Kenapa?” tanya Mamah dengan nada mau marah.
“Malas Mah, apalagi keadaan Teteh sekarang lemas sekali. Boro-boro periksa ke dokter, jalan ke WC aja pusing banget,” keluhku sambil meraba-raba kening yang masih panas.
Hening.
Mamah sepertinya berpikir ingin berkata apa lagi.
“Mah?” panggilku. Memastikan jika telepon masih nyambung.
“Iya Teh. Hmmm… ini ke Bapa dulu aja, ada tamu,” kata Mamah terdengar terburu-buru. Terdengar suara kresek-kresek dari telepon. Sepertinya suara saat Mamah memberikan handphone ke tangan Bapa.
“Halo… Assalamu’alaikum, Teteh?” sapa nada yang disebrang sana. Terdengar gagah, karismatik, dan tetap kalem meski yang ditelpon sedang sakit. Beda dengan nada Mamah yang selalu khawatir.
“Wa’alaikumussalam, iya Pa?”
“Keluhan sakitnya apa aja Teh?”
“Panas, pusing, nyeri tenggorokan dan meriang Pa,” terangku sebagaimana yang telah kuterangkan pada Mamah.
“Sudah makan?”
Glek! Aku melihat ke arah kresek berisi sayur sop yang masih hangat dan utuh.
“Belum Pa, hehe,” aku nyengir.
“Lho? Kenapa belum? Nggak ada makan?”
“Ada Pa, nitip sayur sop ke teman. Ini makanannya baru datang. Tapi aku masih lemas Pa. Aku mau tidur dulu.”
“Oh…kalau begitu Teteh tidur dulu saja, Bapa masih banyak yang harus dikerjakan.”
“Baik, Pa.”
“Kabari lagi kalau ada apa-apa.”
“Baik Pa.”
“Cepat sembuh ya Teh,” terdengar suara Bapa berharap.
Aku tahu, Mamah Bapa pasti sedih karena hanya bisa mendo’akan. Tidak langsung melihat keadaan putrinya dan merawatnya.
“Aamiin,” jawabku.
“Ya sudah, yuu… Assalamu’alaikum.”
“kumsalam.”
Tutt! Telepon pun ditutup.
Aku meletakkan HP kembali di sebelah kiriku.
Aku terdiam sejenak, mau tidur tapi masih ragu-ragu. Ah, sepertinya aku harus makan dulu. Meski lagi-lagi aku harus bangkit dalam keadaan lemas, tidak ada satupun orang di kamar ini melainkan aku.
Dengan pelan aku menuju magic com untuk mengambil nasi. Lupa! Aku belum membawa piring. Aku berbalik arah menuju lemari yang di dalamnya ada piring. Lalu kembali lagi untuk mengambil nasi.
Setelah nasi berada diatas piring, aku bangkit mengambil kresek yang tadi. Aku mengambil satu plastik sayur sop di dalamnya. Aku membuka ikatan plastik itu sambil meringis karena masih panas. Dengan hati-hati, kukeluarkan isinya di atas nasi. Satu-dua titik kuahnya menghampiri kulitku. Panas.
Aku memakannya pelan-pelan. Sebenarnya ogah, tapi aku harus paksakan diri.
Ah… teman-teman yang lain sedang apa? Tidakkah mereka tahu keadaanku? Ingin sekali aku dijenguk mereka.
Aku menyesalkan teman-teman yang tidak terlihat memasuki kamarku tuk sekedar meraba keningku dan bertanya tentang kondisi saat ini. Apa mereka tidak ingat padaku? Tidak tahu keadaanku? Sibuk dengan tugas masing-masing? Kemana mereka, yang katanya mesti aku anggap keluarga? Yang senasib seperantauan?
Ah… aku hanya bisa menggugam memanggil nama mereka satu per satu. Ya Rabb, Engkau-lah yang selalu menjagaku, menaungiku di setiap ada dan tidaknya mereka di sisiku, tiada keraguan atas kasih sayang dan peduli-Mu. Sembari terus beristighfar, tumpuan harapanku hanya pada-Nya.
Aku menjadi kian tenang dalam kesendirian. Berkali-kali kutarik nafas pelan-pelan, mencoba meringankan beban tubuh dengan berbaring pasrah. Kuabaikan dulu pikiran yang membuatku penat, kurasa percuma jika kubiarkan banyak hal mengitari pikiran, karena saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Sungguh mengingat-Mu adalah ketenangan yang luar biasa. Dan aku bersyukur atas dua malaikat yang telah memperkenalkan-Mu sejak aku kecil.
Ya Rabb…
Ketika aku mengingat-Mu, bersimpuh mengungkapkan segala keluh kesahku. Maka kuingat kedua orangtuaku, yang telah memperkenalkan-Mu. Mengajakku untuk taat pada-Mu. Mengajariku membaca firman-Mu. Memperlihatkan betapa indahnya hidup berada dalam naungan-Mu. Mengajari untuk bersabar dan bersyukur. Menunjukkan hanya kepada-Mu lah segala keluh kesah kuungkap. Kuingat pula sejak kecil aku sudah diajari mengenakan jilbab. Sungguh, mungkin orangtua yang lain jarang melakukannya.
Ya Rabb…
Telah kuhirup indahnya Islam. Entah apa jadinya jika aku terlahir bukan dari orangtua yang mengajariku Islam. Ah, tidak usah terlalu jauh dulu. Entah bagaimana, jika orangtuaku Islam namun tak sekuat Mamah Bapa. Di luar sana, ibunya berjilbab namun membiarkan anak perempuannya mengumbar aurat. Ataupun ayahnya sudah berhaji, namun anaknya lalai dalam shalat.
Ya Rabb…
Kubacakan Al Fatihah untuk mereka. Jauh disana mereka mengirimi do’a bahkan melebihiku, dan melebihi siapapun. Mereka yang berdo’a untuk kesembuhanku, meski aku jauh dari mereka. Aku yakin, Engkau kuatkan aku. Engkau tak kan membiarkanku lemah berlama-lama di atas kasur ini. Karena perjuanganku amat panjang.
Aku terus terlena dalam do’a, hingga membawaku terlelap.
***
Tahu-tahu sudah maghrib saat aku membuka mata kembali. Terdengar dengan jelas suara adzan dari beberapa masjid. Membuatku merasa harus segera bangkit. Ya Allah, keringat dingin bercucuran. Kepalaku masih terasa berat. Tapi aku harus kuat menuju kamar mandi.
Aku berjalan pelan menuju kamar mandi. Kuucap basmallah saat kakiku menyentuh keramik yang basah itu. Takut terpeleset.
Aku meringis saat air menyentuh kulitku. Makin dingin!
Setelah mengambil air wudu, aku kembali melangkah pelan menuju kamarku. Lalu aku shalat seperti biasa. Aku masih kuat untuk melakukannya.
Setelah sholat, aku tidak segera melipat mukena dan sajadah. Hanya kulepas mukena dan kuletakkan di atas sajadah dengan sembarang. Lalu aku gulung sajadahnya. Karena tidak lama juga aku akan shalat isya.
Aku terbaring kembali.
Inginnya aku tidur kembali.
Tiba-tiba pintu terbuka kembali, ternyata Murni lagi yang membukanya.
“Mbak Nad, flashdisk-mu,” Murni menyodorkan benda kecil penyimpan data itu padaku.
“Simpan lagi disana,” aku menunjuk meja.
Aku lupa bercerita. Di kelas tadi Murni meminta file materi tafsir Al Munir.
Setelah meletakkannya di atas meja, Murni kembali ke hadapanku, duduk di kasur, dan meraba keningku.
“Uh! Makin panas!” ia meringis.
Aku hanya memandangnya.
“Udah makan?”
“Udah, tadi siang.”
“Sekarang belum?”
Aku mengangguk pelan.
“Ada makanan?”
“Masih ada sisa sayur sop.”
Murni hanya manggut-manggut. Lalu ia meraba kakiku dan memijatnya. Ah, ini yang sedang kubutuhkan. Untunglah ia belum beranjak.
Kudengar Murni mengomel sambil memijatku. Entah apa yang ia bicarakan. Aku hanya ingin menutup mata lagi. Namun dari tadi aku sudah tidur.
“Assaalamu’alaikum!” tiba-tiba ada lagi yang membuka pintu. Suaranya nyaring sekali.
“Wa’alaikumussalam,” Murni melirik ke belakang.
“Ayoo…ngumpulin buat mading!” seru suara itu. Ah, itu pasti Rizka si koordinator blok selatan. Blok kami memang kebagian membuat mading.
Rizka lalu muncul melihatku.
“Lho? Sakit?”
“Iya Mbak,” Murni yang menjawab.
“Kenapa Nad?” Rizka mendekati dan meraba kening.
“Ya Allah, puanaasss rek!” ucapnya dengan nada terkejut, “Sek yo, tak panggil Ustadzah,” Rizka berlari keluar kamar.
“Duh! Malah panggil Ustadzah lagi. Aku malu,” keluhku.
“Nggak apa-apa Mbak Nad, biar tahu kalau kamu sedang sakit,” Murni mencoba menenangkan.
Aku hanya terdiam pasrah.
Tak lama, seseorang masuk dan mengucapkan salam. Suaranya nyaring.
“Sakit dek?” tanyanya. Ternyata Mbak Chinda, salah satu pengurus.
Murni yang mengangguk.
“Ada obat dek?”
Aku menggeleng.
“Ke rumah sakit aja yuk dek. Biar dapet obat, biar disuntik juga, biar cepet sembuh.”
Aku menggeleng dengan cepat. Dengar disuntik-nya itu loh!
Kemudian, seseorang kembali masuk. Suaranya keibu-ibuan.
“Ini yang sakit?” perempuan itu melihat ke arahku. Ia Ustadzah Nike.
“Iya Ustadzah,” Murni lagi yang menjawab.
Ustadzah Nike meraba keningku. Tidak terdengar tanggapannya, namun aku yakin ia merasakan panas yang sama.
“Sejak kapan?” tanya Ustadzah. Murni agak menggeser posisi duduknya dan mempersilakan Ustadzah untuk duduk.
“Tadi pagi,” jawabku.
“Nggak sarapan ya?” tuduhnya.
“Sarapan kok, beneran.”
Ustadzah terdiam.
“Mungkin masuk angin,” lanjutku.
“Begadang ya?” duganya lagi.
“Iya…hehe,” cengirku.
“Hmmm…kok begadang?”
“Banyak tugas.”
Ustadzah terdiam lagi. Aku yakin beliau akan melarangku untuk begadang.
“Sekarang kuat kalau dibawa periksa?”
Aku menggeleng.
Tiba-tiba empat orang beramai-ramai memasuki kamar.
“Nadia sakit?” tanya salah seorang dari mereka. Lalu ia menyentuh keningku.
“Ya ampun, demam!” gumamnya.
Tiga orang yang lain mendekatiku penasaran. Sungguh! Aku memang tahu kalau mereka tetangga kamar. Namun tak satupun kuingat namanya!
“Tolong ya, mungkin sekiranya ada yang bawain air hangat. Terus bawa air dingin dan handuk kecil untuk mengompres,” komando Ustadzah kepada empat orang itu.
Tanpa pertimbangan apapun, mereka segera keluar mengikuti perintah Ustadzah.
Aku melongo. Ya ampun, siapa nama mereka? Kenapa mereka ingat betul namaku? Lalu kenapa mereka datang padaku? Melihat kondisiku?
“Sekarang dikompres saja dulu sambil minum air hangat juga. Kalau nanti habis isya malah tambah parah, kita bawa periksa, oke?” komando Ustadzah.
Aku mengangguk pasrah.
“Ya sudah, saya keluar. Murni yang jaga ya? Kalau ada apa-apa segera lapor ke saya. Biar ada tindakan.”
“Baik Ustadzah,” Murni mengangguk.
Ustadzah mengucapkan salam kemudian berlalu.
Lalu empat orang tadi kembali masuk.
“Nad, kompres ya?”
Seseorang membawa handuk kecil, ditemani satu orang yang lain yang membawa nampan berisi air dingin. Air itu didapatkan dari air botol mineral dingin yang dijual di kantin bawah asrama.
Handuk kecil dimasukkan ke dalam air itu, lalu diperat, dan diletakkan di atas keningku dengan hati-hati.
“Nad, minum dulu,” seseorang yang lain menawarkan segala teh padaku.
Aku beranjak duduk. Menerima segelas the itu. Aku tak segera meminumnya karena panas saat disentuh. Aku baru menatapnya saja. Air coklat bening itu memantulkan bayanganku. Oh lihat, wajah yang begitu malang karena sedang demam tinggi.
Aku meminumnya dengan pelan-pelan. Sedikit meringis karena panas. Ah, entah mengapa teh yang kuminum ini terasa membuatku sesak. Bukan karena tak enak. Tetapi karena perasaan haruku. Bisakah kubayangkan mereka rela kerepotan membuatnya untuk seorang yang begitu acuh pada mereka?
“Panas ya Nad?”
“Iya sedikit.”
“Minum aja pelan-pelan.”
Aku mengikuti perintahnya. Aku menghabiskan seperempat gelas, lalu menyodorkannya pada Murni karena dirasa sudah cukup.
Murni meletakkan gelas itu di kolong kasur.
Lalu aku kembali memposisikan diri untuk berbaring.
“Istirahat lagi Nad.”
Aku mengangguk.
“Kita pamit ya Nad. Cepet sembuh ya,” ucapnya—entah siapa—dengan ramah dan terlihat begitu hati-hati.
Empat orang itu berlalu. Pandanganku mengikuti mereka sampai mereka keluar kamarku.
Hening sejenak.
Murni masih memijatku.
“Murni? Mereka siapa aja?”
“Mana kutahu? Aku tidak satu blok dengan kalian. Jadi Mbak Nad nggak tahu?”
Aku menggeleng.
“Ya Allaah, kemana aja Mbak? Mbak nggak kenalan sama mereka?”
“Aku nggak ingat nama mereka. Lagian, aku memang tidak pernah ngobrol sama mereka sebelumnya,” ujarku beralasan.
Murni hanya menggeleng heran melihatku yang tidak pandai bergaul ini.
Namun… Ya Rabb.
Selama ini ternyata mereka tahu namaku. Dan begitu pedulinya mereka saat tahu kalau aku sedang sakit. Mereka dengan sigap menyiapkan segala macam yang dibutuhkan orang sakit.
Ya Rabb…
Pernahkah ada peduliku pada mereka? Bahkan ketika berpapasan saja, aku selalu ragu-ragu untuk menyunggingkan senyum kearah mereka. Aku tidak tahu kalau mereka akan sepeduli ini.
Ya Rabb…
Engkau Maha Peduli. Engkau sampaikan peduli-Mu pada orang-orang yang tak disangka-sangka, disaat teman-teman terdekat tidak ada yang peduli.
Aku menyesal enggan berkenalan dengan mereka, ternyata mereka baik. Dan inilah yang mereka lakukan pada orang yang cuek sepertiku. Aku merasa tak pantas mendapat perlakuan seperti ini. Namun apa yang bisa kuingkari? Jelas-jelas mereka menolongku, dan aku ingin membalas kebaikan mereka. Alhamdulillah, aku mendapat pelajaran yang amat berharga.
Tak disadari, airmataku menetes. Aku segera mengusapnya, malu kalau Murni melihatnya.
Mamah, Bapa. Kutahu kalian amat mengkhawatirkanku. Kutahu kalian kebingungan karena tiada lagi yang bisa kalian lakukan disaat putrimu tinggal amat jauh. Namun, siapa sangka kalau Mbak Rizka tiba-tiba masuk ke kamar dan melihat kondisi malangku? Siapa sangka kalau ternyata teman-teman kamar—yang tidak begitu kukenal—malah ramai beriringan masuk dan turut prihatin akan kondisiku? Membantu segala hal yang mereka bisa supaya aku sembuh? Siapa sangka kalau Ustadzah pun begitu memperhatikanku layaknya seorang Ibu?. Ya Rabb, rizki-Mu memang datang dari tempat yang tak disangka.
Sekaligus aku malu. Kemana saja aku di penghujung setahun kuliahku? Bukankah seyogyanya mereka telah kukenal baik? Minimal kutahu nama mereka satu-satu. Ini makin menegaskan bahwa aku tidak becus dalam berteman. Sehingga seringkali aku diri ini merasa terasingkan, padahal aku sendiri yang buta bahwa mereka sebenarnya baik-baik. Seringkali aku merasa wajah mereka datar sekali ketika berpapasan, padahal aku sendiri yang tak mau duluan bertebar senyum.
Kuseruput teh hangat itu kembali dengan penuh haru. Setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus melakukannya!

55 komentar:

  1. Sangat menggugah, namun dikoreksi kembali EYD nya...

    Semangat semangat..

    BalasHapus
  2. Owh iya dilihat kembali penulisan bapak. Disitu terdapat tulisan bapa, kurang satu huruf K. Orang mengira bapa adalah yang biasa di sebut oleh kaum nonmuslim

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. GOOD JOB nad... hobimu baca novel ternyata cukup berpengaruh pada tulisanmu.. semoga kelak jadi novelis terkenal...
    amiiin
    terus menebar manfaat untuk sesama :)

    BalasHapus
  5. bagus, jiwa novelisnya sudah nampak tinggal diasah lagi neng. jangan lupa kunjungi blogku dan sisipkan komentar ya (http://fiskamahasantri-nusantara.blogspot.com/2015/05/aku-hidup-bersama-doanya-meniti-kisah.html)

    BalasHapus
  6. Cieee.... yg belum nge print... Hehehe. Gak kok.
    Tulisan sampeyan ok wes... but kita harus perhatikan EYD... oc.

    BalasHapus
  7. bagus nadia jiwa novelis
    banget lo, merinding bacanya, semoga kita sering sering ikut pelatihan kepenulisan, kalau diajak jangn nolak (hahahahahah becanda) tinggla diasah dan akhirnya dipublikasikan, bingung mw koment apa hahhhaa ywdh koment punya ku yah

    BalasHapus
  8. lanjutkan nad!!! hafidzah tak hanya bisa menjadi penghafal namun juga bisa menjadi penulis.siip

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum
    Bismillahirrahmaanirrahiim..
    Bagus kok mbak. Kata-katanya tidak membosankan dan membuat diri yang rendah ini ketagihan membacanya. Jadi penasaran bagaimana ceritanya kedepannya.
    Mau ngasih saran sih mbak. Coba deskripsikan tempatnya. Jadi para pembaca bisa menggambarkan keadaannya. Ceritanya juga pasti jadi lebih greget.
    Itu aja sih. Maaf kalau tersinggung dan sok menggurui.
    Wassalamu'alaikum..

    BalasHapus
  10. Bagus. Teruslah menulis, dan dunia akan segera mengenalmu. Minimalisir lagi kesalahan tata bahasanya ya. :)

    BalasHapus
  11. Bagus. Teruslah menulis, dan dunia akan segera mengenalmu. Minimalisir lagi kesalahan tata bahasanya ya. :)

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Sudah bagus tulisannya dek.. Tinggal dibiasakan saja dalam menulis..
    Untuk awal memang perlu adanya pemakasaan dari orang lain, tapi itu tidak boleh berlanjut. Untuk selanjutnya yang memaksa harus diri sendiri..
    Tetap semangaaat..!!:D

    BalasHapus
  14. Nadya,,,,,
    Penulisanny udh seperti d novel,,
    Waah sangat mendalam,
    Tingkatkan lg,, hidup masih koma,,
    Good job,,
    Jangan lupa singgah di blog q yaa,, karenaakusanghamba.blogspot.com

    BalasHapus
  15. Nadya,,,,,
    Penulisanny udh seperti d novel,,
    Waah sangat mendalam,
    Tingkatkan lg,, hidup masih koma,,
    Good job,,
    Jangan lupa singgah di blog q yaa,, karenaakusanghamba.blogspot.com

    BalasHapus
  16. bagus... sering baca novel nie.. xD

    q singkat z wes.. coment banyak2 g masuk.. hahahaha..

    yg penting tetap melakukan 4 hal ya...
    1.NIAT dan YAKIN
    2.berusaha keras dan Beramal soleh
    3.Musyawarah
    4.Sabar

    jika kamu lakukan terus Insya Allah akan menjadi hal yang tak terduga.. xD

    BalasHapus
  17. Ini kisah nyata bukan Teh Uji? terasa nyata karena detailnya cukup menggambarkan suasana sekitar kisah yang coba dibangun..
    Plot nya kalau untuk cerpen mungkin agak kepanjangan, jadi dilanjutkan saja menjadi novel..sayang kalau ceritanya berhenti sampai di situ..
    oiya,tambahkan keterangan pada beberapa istilah dan singkatan ya..biar bisa difahami kalangan pembaca yang lebih luas..
    Semangat Teh Uji...what does not kill you, makes you stronger..

    BalasHapus
  18. What a beutiful article...good job Teh Chan.
    The EYD Is better than me...
    Share your knowledge..exactly about Msc. Word sistematic

    BalasHapus
  19. What a beutiful article...good job Teh Chan.
    The EYD Is better than me...
    Share your knowledge..exactly about Msc. Word sistematic

    BalasHapus
  20. Subhanallah ,,,,bagus banget teh,,,,dan saya berharap menulisnya tidak hanya sebatas ini saja,,,masi banyak ilmu menulis yang belum kita kuasai dan harus kita kuasai,,,,tetap semangat tetehhh,,,saya akan menunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya,,,,,

    BalasHapus
  21. Subhanallah ,,,,bagus banget teh,,,,dan saya berharap menulisnya tidak hanya sebatas ini saja,,,masi banyak ilmu menulis yang belum kita kuasai dan harus kita kuasai,,,,tetap semangat tetehhh,,,saya akan menunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya,,,,,

    BalasHapus
  22. Udh bgus bgt tpi harus ada kata yg dibenerin nih kata yg ini "ini sudah kali kedua asdos itu masuk".seharusnya biar lbh enak dibacanya diganti jdi gini "ini sudah kedua kalinya si asdos itu masuk" dan biar lbh greget ditambahin instrumen2 konflik yg lbh greget yg bikin si pembaca lbh penasaran. Tpi ini udh bgus bgt penulisannya bgus, good job lah

    BalasHapus
  23. Udh bgus bgt tpi harus ada kata yg dibenerin nih kata yg ini "ini sudah kali kedua asdos itu masuk".seharusnya biar lbh enak dibacanya diganti jdi gini "ini sudah kedua kalinya si asdos itu masuk" dan biar lbh greget ditambahin instrumen2 konflik yg lbh greget yg bikin si pembaca lbh penasaran. Tpi ini udh bgus bgt penulisannya bgus, good job lah

    BalasHapus
  24. MasyaAllah sahabat yang satu ini multi talent syekali.. Keuuuuuren, menginspirasi :) semangat, terus berkarya ya !

    BalasHapus
  25. MasyaAllah sahabat yang satu ini multi talent syekali.. Keuuuuuren, menginspirasi :) semangat, terus berkarya ya !

    BalasHapus
  26. setuju deh sama komen yang di atas. gtw mau komen apa.. retorikanya bagus banget,, novelist nih yee,,, jadi pengen belajar sama ismi nadia hhe.. semangat menulis adek besar

    BalasHapus
  27. kaka .. tulisannya kereeeennnn, jadi inget masa dulu di mualimienn semangat terus pokoknya,sukses :) ditunggu ya karya selanjutnya

    BalasHapus
  28. begini ya ulisan novelis pemula... ajib...

    BalasHapus
  29. tinggal diperjelas latar suasana biar pembaca lebih bisa menghayati,
    klo sering2 nulis kayak gini, nati coba ke penerbit, lanjutkan!

    BalasHapus
  30. udah bagus nad, EYDnya lebih teliti lagi.. semangat cantik, lanjutkan :) #penulismuda

    BalasHapus
  31. tetap semangat mbak buat bulisnya.,

    BalasHapus
  32. bibit novelis sudah ada nih.. terus menulis ya... kutunggu postingan selanjutnya :)

    BalasHapus
  33. Tulisannya keren, bisa buat motivasi orang banyak 👍

    BalasHapus
  34. Tulisan calon satsrawan ini, great! tuangkan semua kisah atau ceritamu dalam bentuk tulisan, terus membaca untuk menambah wawasan dan perbendaharaan kosakata yang lebih variatif. Sukses.

    BalasHapus
  35. Bagus Nad. Pilihan katanya ngena banget. Good job! Lanjutkan!

    BalasHapus
  36. Wah, resiko jadi Mahasiswa Rantauan. :)
    Harus terbiasa di Kota Orang, Keliatan kalau logat Sundanya masih dipakai sangat baik, Nafas aja jadi Napas. Hehe
    Lanjutkan, Nad!

    BalasHapus
  37. Setuju juga tuh, sama komentar yang pertama, EYD-nya di perhatikan lagi. ^^

    BalasHapus
  38. ayoo nad..... semangat terus...

    BalasHapus
  39. lejitkan manu dengan karyamu

    BalasHapus
  40. oh ya jangan lupa koment balik yah. ok

    BalasHapus
  41. tulisan kamu keren bgt.... seolah-olah tokoh yg ada di tulisan kamu itu adalah sang pembaca.... calon novelis besar euyyy ini mh....

    BalasHapus
  42. semakin banyak berlatih, semakin baik nad..... jangan sampai malas untuk memperbaiki koreksian-koreksian yg ada.....

    BalasHapus
  43. semakin kita tahu kesalahan-kesalahan kita, maka kita dituntut untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut

    BalasHapus
  44. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  45. tetap istiqomah menulis yah, ,

    BalasHapus
  46. mantappp ,,,novelis bangat,,,I like it

    BalasHapus
  47. hanya ada beberapa kalimat yang menulisnya kurang perasaan ,,jadinya ada yang rancu gtuu,,,

    BalasHapus
  48. kamu memang memiliki bakat dalam tulis menulis..
    tulisanmu bia di sandingkan dengan tulisan orang-orang hebat di luar sana

    BalasHapus
  49. lanjutkan tulisannya ya,, ta tunggu tulisan selanjutnya

    BalasHapus
  50. keren pisan tehhhh
    novelnya dapet
    not only memorising but also writing
    Semangat menulis kakak !!!

    BalasHapus
  51. Alhafizhah, amiin tapi tetap sempat menulis. Sangat inspiratif, ada hal yang membuat tulisan ini beda dengan yang lain. Ruh dari sang penulis menguatkan bahwa penulis punya masa depan cerah dalam dunia literasi.

    BalasHapus
  52. semangat terus menulisnya teteh nadia... terbitan bukunya di tunggu yah..

    BalasHapus
  53. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus