Langit
tampak biru kemerah-merahan tatkala mentari hendak menampakkan sinarnya,
terdengar pula suara-suara imut burung pipit yang memulai aktivitasnya. Angin
pagi yang sejuk pun menusuk kulit, membuatku tak lelah untuk menyapu dan membereskan
sekitar masjid. Inilah rutinitasku sehabis subuh sebelum berkutat di hadapan
mesin jahit untuk mencari nafkah.
Sejenak
aku melirik hamparan sawah hijau nan lebat, padinya melambai-lambai tatkala
angin menerpa. Sejenak pula aku bayangkan hamparan itu layaknya sebuah bolu
hijau raksasa yang terpotong-potong beberapa bagian. Ah, terlalu lucu untuk
membayangkannya bagiku yang sudah berusia lanjut ini. Namun pikiranku sejenak
mengingat bagaimana si sulung sewaktu kecil merengek ingin dibelikan kue ulang
tahun. Aku pun menuruti keinginannya karena kupikir jarang sekali ia bisa
menikmati makanan itu.
Sekarang
si sulung sudah berkeluarga, ia memilki seorang anak yang baru berusia 3 tahun.
Ya, aku sudah mempunyai seorang cucu. Rasanya baru kemarin kami menimang si
sulung, sekarang alhamdulillah kami bisa menimang anaknya si sulung.
Meski kini kami mesti menempuh perjalanan satu jam lebih untuk mengunjunginya, karena
memang berbeda kecamatan. Setidaknya si bungsu yang duduk di kelas tiga SMA,
masih ada menemani kami.
Selain
itu, masjid ini baru dua tahun menemani kami. Sebelumnya di samping rumah
hanyalah terdapat tanah berukuran 10 x 10 meter dan jarak dari rumah kami
menuju masjid memang jauh. Lalu seorang tetangga membelinya untuk membangun
masjid. Sungguh tujuan yang mulia, dan warga menyambut hangat pembangunan
masjid itu.
“Suatu
keberkahan terdapat masjid di sekitar kita, apalagi jika masjidnya berdekatan
dengan rumah Kang Kasim,” ujar Pak RT tersenyum lebar sambil melirikku dan
mengangkat alis.
“Iya
Pak, Kang Kasim tak usah jauh-jauh lagi menempuh perjalanan untuk shalat
berjamaah. Dan Insya Allah warga-warga yang lain akan mau shalat
berjamaah karena sudah ada masjid yang dekat,” lanjut Yanto.
Ya,
sebelum masjid ini berdiri memang sedikit warga yang mau pergi shalat
berjamaah. Jarak memang menjadi alasan, apalagi kebanyakan bekerja sebagai kuli
bangunan dan petani. Namun bagiku, tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Selain
karena profesiku sebagai penjahit terbilang lebih santai, juga karena aku menginginkan
hidup ini penuh dengan keberkahan. Tak lupa aku selalu mengajak kedua anak
lelakiku untuk shalat berjamaah. Alhamdulillah, mereka pun melakukannya. Bahkan
seringkali justru mereka yang mengingatkanku untuk bersiap-siap.
Karena
itu, para tetangga menjulukiku “Ahli Masjid”. Awalnya aku merasa berat
menerimanya, karena aku melakukannya tanpa berharap pujian sama sekali. Julukan
itu terlalu mulia bagiku. Mereka pun menyebut masjid yang dibangun memang
pantas berdekatan dengan rumah kami. Maka semenjak masjid ini berdiri kokoh,
aku selalu menyempatkan diri membersihkan sekitar masjid meski sekedar menyapu.
Aku merasa paling bertanggung jawab atas kebersihan masjid meski sebenarnya ini
tanggung jawab bersama.
Namaku
Kasim. Para tetangga kebanyakan memanggilku Kang Kasim, entah kenapa. Panggilan
itu terkesan terlalu muda bagiku. Namun karena mereka sudah terbiasa dengan
panggilan itu, maka lagi-lagi apa boleh buat, selama aku merasa tidak
dirugikan.
Ah,
kurasa terlalu lama aku melamun. Segera kuselesaikan menyapu halaman masjid
karena jam menunjukkan pukul 06.30. Setelah itu kuhamparkan gulungan-gulungan
karpet diatas lantai yang sudah kusapu bersih. Meskipun aku tidak sempat
mengepelnya. Sang istri sedari tadi memanggilku karena sarapan pagi sudah siap.
Kalau sudah begini, siapa yang kuasa menolak ajakannya?
***
“Pa, maaf aku pulang malam lagi. Aku
mau mengerjakan tugas bersama teman-teman di rumah Fahmi. Rumahnya agak jauh,”
izin si bungsu sebelum hendak berangkat sekolah.
Aku menghela napas melihat tatapan
si bungsu yang berharap izin dariku, “Sebanyak apa tugasmu Nak? Sampai hampir
seminggu ini pulang larut malam? Apa tidak bisa pulangnya lebih sore?”
“Sekarang kan mau UN Pa. Aku ada les
sampai sore,” jawab si bungsu seperti biasanya.
“Ya sudah, jaga diri baik-baik ya,”
pesanku. Terlihat seringainya tatkala ku mengizinkannya.
“Terima kasih Pa,” si bungsu mencium
tanganku, kemudian menghampiri istriku yang sedang menyetrika banyak pakaian.
Lalu ia pamit berangkat sekolah.
Aku hanya menggeleng heran. Anak
zaman sekarang memang banyak dicekoki tugas-tugas dari sekolah. Seolah-olah
taka da waktu lagi untuk beraktivitas lainnya. Alih-alih senang melihat anakku
rajin belajar, entah mengapa ada suatu perasaan mengganjal melihat kondisi
anakku sekarang. Apalagi ketika selesai shalat maghrib dan wiridan, Pak RT menghampiriku
sebelum beranjak.
“Kang, dimana anakmu? Akhir-akhir
ini dia jarang ikut shalat berjamaah?”
“Katanya banyak tugas Pak. Maklum,
sudah UN,” jawabku.
Pak
RT hanya manggut-manggut dan tersenyum, kemudian ia pamit pulang.
Beberapa
tetangga yang ikut shalat berjamaah melirikku karena obrolan tadi. Yanto pun
segera memposisikan diri duduk di sampingku.
“Pelajar
zaman sekarang serba sibuk ya?” komentarnya.
“Ya
begitulah. Asal anakku serius belajar, aku rela meski ia pulang larut,” ucapku
menanggapi komentar Yanto.
Satu
per satu jamaah lain beranjak, tak lupa mereka menyalamiku dan Yanto.
Tinggallah kami berdua. Yanto kemudian melirik sekitar, memastikan tidak ada
lagi orang yang masih di masjid.
“Maaf
nih, Kang nggak curiga sama anakmu?” bisiknya.
“Bisa
saja kan dia….”
“Ah,
sudahlah. Mudah-mudahan ia tidak berbuat macam-macam,” ucapku mengakhiri
pembicaraan dan mengajak Yanto beranjak.
***
Aku
keluar rumah hendak membeli alat-alat jahit. Biasanya istriku yang selalu
melakukannya. Namun aku merasa ingin bertemu dengan si pedagang alat-alat jahit
yang dulunya teman kursusku. Aku berjalan melewati pasar yang ramai dengan para
pedagang dan pembeli, meski tidak seramai di pagi buta namun tetap saja
terdengar suara-suara antara pedagang dan pembeli yang saling tawar menawar,
pun bau amis ikan-ikan menghampiri hidung, di tambah dengan hawa yang lumayan
panas. Lengkaplah sudah suasana pasar yang semakin hidup.
Apalagi
ketika sayup-sayup terdengar teriakan heboh sejumlah orang dari belakang aku
berjalan. Lambat laun diiringi dengan suara kaki yang berlari-lari hingga suara
itu terasa semakin mendekat ke arahku. Belum sempat aku menoleh karena
penasaran, seseorang menabrakku hingga aku terjatuh. Untunglah aku masih bisa
terbangun. Di depanku, seorang lelaki ternyata juga terjatuh. Aku tak bisa
melihat rupanya karena posisinya membelakangiku. Dia hendak beranjak dan
kembali berlari, namun dia terduduk kembali dan terlihat sudah lelah. Aku
segera memegang erat kedua bahunya untuk menahannya, kukira lelaki ini sedang
dikejar warga.
Belum
sempat aku membalikkan badan lelaki itu untuk melihat wajahnya, para warga
beramai-ramai menghampiri kami.
“Tangkap
pencopet itu!” teriak salah seorang dari mereka.
Aku
menoleh ke arah mereka dan mendapati seorang pemuda yang amat kukenal terkejut
melihatku.
“Kang…???”
pekik Yanto dengan mata terbelalak. Telunjuknya gemetar menunjuk ke arah lelaki
yang masih kutahan.
Aku
langsung membalikkan badan lelaki itu. Kudapati seorang pemuda yang tertunduk
lemas, memelas, lalu melihat ke arahku dengan tatapan seolah-olah dia tahu
bahwa aku akan kecewa berat dan sakit hati. Seluruh badanku gemetar, tanganku
kuat mencengkram bahunya, kepalaku tiba-tiba pening dan pandanganku buram.
Ingin sekali rasanya tiba-tiba istriku segera membangunkanku untuk bersiap-siap
shalat subuh. Aku pasti sedang tidur malam dan bermimpi buruk!
“A…rif…??”
ujarku dengan nada berbisik. Rasa kaget membuatku tak sanggup memekik di
hadapan si bungsu ini.
Si
bungsu tiba-tiba menatapku tajam dan memalingkan pandangannya dariku.
“Kau
tidak mungkin memaafkanku, Pa!” ujarnya lemas.
“Kenapa
kau begini, Nak?” tanyaku.
“Aku
ingin laptop Pa. Entah kenapa saat itu aku terhasut oleh ajakan teman-temanku
untuk melakukan ini.”
Mendengar
jawabannya aku terpana.
“Halaaahhh…hentikan
drama Bapa-Anak ini. Segera bawa bocah sialan ini ke kantor polisi!” teriak
seorang lelaki dengan geram, diikuti dengan teriakan orang-orang yang setuju.
Beberapa
orang menarik si bungsu dari genggamanku, sebelum aku sempat bertanya kenapa
kau tidak bilang saja padaku, Nak? Bapa akan berusaha keras membelikannya jika
itu memang penting buatmu.
“Tolong,
jangan keroyok anakku,” pintaku memelas.
“Kami
hanya akan membawanya ke kantor polisi, Pak!” ujar salah seorang dari mereka.
Si
bungsu tetap menunduk hingga beberapa orang yang mengerubunginya membawanya
jauh dariku, hingga tak terlihat lagi sosoknya dari pandanganku.
“Kang
sebenarnya bisa ikut,” Yanto merangkul hangat bahuku.
Aku
menggeleng, “Nanti saja aku datang ke kantor polisi. Sekarang aku terlalu kaget
melihat kejadian ini.”
Yanto
bungkam dan mengajakku pergi. Entah kemana tempat yang akan kulalui sekarang,
aku tak peduli. Beberapa pedagang dan pembeli ramai-ramai melihat ke arah kami.
Entah apa yang mereka pikirkan tatkala melihatku, melihat seorang ayah dari
seorang pencopet. Apa yang terlihat dari sosokku? Samakah aku dengan orang tua
para begal diluar sana? Serupakah aku dengan ayah-ayah yang menelantarkan
anaknya dan tidak mengerti akan keinginan anaknya? Lalu bagaimana jika aku
pulang? Apa yang harus kukabarkan pada istriku? Atau jangan-jangan kabar ini
sudah merambat cepat di telinganya. Lalu apa yang harus kujelaskan pada para
tetangga? Apa artinya julukan ahli masjid yang selama ini mereka
torehkan kalau ternyata mendidik si bungsu saja tak becus? Sudah kukira kalau
julukan itu memang terlalu berat bagiku. Ah…apa lagi?
Kini
aku hanya bisa menyamankan diri dengan rangkulan Yanto yang semakin kuat. Aku
pun memegang tangannya dan tetap menunduk. Aku malu di hadapan-Nya. Aku payah
menjaga amanah dari-Nya. Hingga akhirnya aku dan Yanto menghentikan perjalanan
tatkala adzan dhuhur pun berkumandang.
“Cari
masjid yuk,” ucapku pada Yanto.
“Ayo
Kang,” Yanto menyambut ajakanku dengan berjalan menuju arah masjid terdekat.
Kami
berjalan sesegera mungkin sebelum shalat berjamaah dimulai. Di satu sisi aku
lega karena di saat seperti ini aku bisa memanjatkan do’a dan memohon ampunan
pada-Nya.
“Sabar
ya, Kang…” ujar Yanto di sela perjalanan kami.
Aku
mengangguk mantap.
“Ada
Allah, To!” ucapku memantapkan hati.
bagus teh lanjutkan ,,,,
BalasHapus