Minggu, 31 Mei 2015

LEKATNYA SANG SABAR



Langit tampak biru kemerah-merahan tatkala mentari hendak menampakkan sinarnya, terdengar pula suara-suara imut burung pipit yang memulai aktivitasnya. Angin pagi yang sejuk pun menusuk kulit, membuatku tak lelah untuk menyapu dan membereskan sekitar masjid. Inilah rutinitasku sehabis subuh sebelum berkutat di hadapan mesin jahit untuk mencari nafkah.
Sejenak aku melirik hamparan sawah hijau nan lebat, padinya melambai-lambai tatkala angin menerpa. Sejenak pula aku bayangkan hamparan itu layaknya sebuah bolu hijau raksasa yang terpotong-potong beberapa bagian. Ah, terlalu lucu untuk membayangkannya bagiku yang sudah berusia lanjut ini. Namun pikiranku sejenak mengingat bagaimana si sulung sewaktu kecil merengek ingin dibelikan kue ulang tahun. Aku pun menuruti keinginannya karena kupikir jarang sekali ia bisa menikmati makanan itu.
Sekarang si sulung sudah berkeluarga, ia memilki seorang anak yang baru berusia 3 tahun. Ya, aku sudah mempunyai seorang cucu. Rasanya baru kemarin kami menimang si sulung, sekarang alhamdulillah kami bisa menimang anaknya si sulung. Meski kini kami mesti menempuh perjalanan satu jam lebih untuk mengunjunginya, karena memang berbeda kecamatan. Setidaknya si bungsu yang duduk di kelas tiga SMA, masih ada menemani kami.
Selain itu, masjid ini baru dua tahun menemani kami. Sebelumnya di samping rumah hanyalah terdapat tanah berukuran 10 x 10 meter dan jarak dari rumah kami menuju masjid memang jauh. Lalu seorang tetangga membelinya untuk membangun masjid. Sungguh tujuan yang mulia, dan warga menyambut hangat pembangunan masjid itu.
“Suatu keberkahan terdapat masjid di sekitar kita, apalagi jika masjidnya berdekatan dengan rumah Kang Kasim,” ujar Pak RT tersenyum lebar sambil melirikku dan mengangkat alis.
“Iya Pak, Kang Kasim tak usah jauh-jauh lagi menempuh perjalanan untuk shalat berjamaah. Dan Insya Allah warga-warga yang lain akan mau shalat berjamaah karena sudah ada masjid yang dekat,” lanjut Yanto.
Ya, sebelum masjid ini berdiri memang sedikit warga yang mau pergi shalat berjamaah. Jarak memang menjadi alasan, apalagi kebanyakan bekerja sebagai kuli bangunan dan petani. Namun bagiku, tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Selain karena profesiku sebagai penjahit terbilang lebih santai, juga karena aku menginginkan hidup ini penuh dengan keberkahan. Tak lupa aku selalu mengajak kedua anak lelakiku untuk shalat berjamaah. Alhamdulillah, mereka pun melakukannya. Bahkan seringkali justru mereka yang mengingatkanku untuk bersiap-siap.
Karena itu, para tetangga menjulukiku “Ahli Masjid”. Awalnya aku merasa berat menerimanya, karena aku melakukannya tanpa berharap pujian sama sekali. Julukan itu terlalu mulia bagiku. Mereka pun menyebut masjid yang dibangun memang pantas berdekatan dengan rumah kami. Maka semenjak masjid ini berdiri kokoh, aku selalu menyempatkan diri membersihkan sekitar masjid meski sekedar menyapu. Aku merasa paling bertanggung jawab atas kebersihan masjid meski sebenarnya ini tanggung jawab bersama.
Namaku Kasim. Para tetangga kebanyakan memanggilku Kang Kasim, entah kenapa. Panggilan itu terkesan terlalu muda bagiku. Namun karena mereka sudah terbiasa dengan panggilan itu, maka lagi-lagi apa boleh buat, selama aku merasa tidak dirugikan.
Ah, kurasa terlalu lama aku melamun. Segera kuselesaikan menyapu halaman masjid karena jam menunjukkan pukul 06.30. Setelah itu kuhamparkan gulungan-gulungan karpet diatas lantai yang sudah kusapu bersih. Meskipun aku tidak sempat mengepelnya. Sang istri sedari tadi memanggilku karena sarapan pagi sudah siap. Kalau sudah begini, siapa yang kuasa menolak ajakannya?
***
            “Pa, maaf aku pulang malam lagi. Aku mau mengerjakan tugas bersama teman-teman di rumah Fahmi. Rumahnya agak jauh,” izin si bungsu sebelum hendak berangkat sekolah.
            Aku menghela napas melihat tatapan si bungsu yang berharap izin dariku, “Sebanyak apa tugasmu Nak? Sampai hampir seminggu ini pulang larut malam? Apa tidak bisa pulangnya lebih sore?”
            “Sekarang kan mau UN Pa. Aku ada les sampai sore,” jawab si bungsu seperti biasanya.
            “Ya sudah, jaga diri baik-baik ya,” pesanku. Terlihat seringainya tatkala ku mengizinkannya.
            “Terima kasih Pa,” si bungsu mencium tanganku, kemudian menghampiri istriku yang sedang menyetrika banyak pakaian. Lalu ia pamit berangkat sekolah.
            Aku hanya menggeleng heran. Anak zaman sekarang memang banyak dicekoki tugas-tugas dari sekolah. Seolah-olah taka da waktu lagi untuk beraktivitas lainnya. Alih-alih senang melihat anakku rajin belajar, entah mengapa ada suatu perasaan mengganjal melihat kondisi anakku sekarang. Apalagi ketika selesai shalat maghrib dan wiridan, Pak RT menghampiriku sebelum beranjak.
            “Kang, dimana anakmu? Akhir-akhir ini dia jarang ikut shalat berjamaah?”
            “Katanya banyak tugas Pak. Maklum, sudah UN,” jawabku.
Pak RT hanya manggut-manggut dan tersenyum, kemudian ia pamit pulang.
Beberapa tetangga yang ikut shalat berjamaah melirikku karena obrolan tadi. Yanto pun segera memposisikan diri duduk di sampingku.
“Pelajar zaman sekarang serba sibuk ya?” komentarnya.
“Ya begitulah. Asal anakku serius belajar, aku rela meski ia pulang larut,” ucapku menanggapi komentar Yanto.
Satu per satu jamaah lain beranjak, tak lupa mereka menyalamiku dan Yanto. Tinggallah kami berdua. Yanto kemudian melirik sekitar, memastikan tidak ada lagi orang yang masih di masjid.
“Maaf nih, Kang nggak curiga sama anakmu?” bisiknya.
“Bisa saja kan dia….”
“Ah, sudahlah. Mudah-mudahan ia tidak berbuat macam-macam,” ucapku mengakhiri pembicaraan dan mengajak Yanto beranjak.
***
Aku keluar rumah hendak membeli alat-alat jahit. Biasanya istriku yang selalu melakukannya. Namun aku merasa ingin bertemu dengan si pedagang alat-alat jahit yang dulunya teman kursusku. Aku berjalan melewati pasar yang ramai dengan para pedagang dan pembeli, meski tidak seramai di pagi buta namun tetap saja terdengar suara-suara antara pedagang dan pembeli yang saling tawar menawar, pun bau amis ikan-ikan menghampiri hidung, di tambah dengan hawa yang lumayan panas. Lengkaplah sudah suasana pasar yang semakin hidup.
Apalagi ketika sayup-sayup terdengar teriakan heboh sejumlah orang dari belakang aku berjalan. Lambat laun diiringi dengan suara kaki yang berlari-lari hingga suara itu terasa semakin mendekat ke arahku. Belum sempat aku menoleh karena penasaran, seseorang menabrakku hingga aku terjatuh. Untunglah aku masih bisa terbangun. Di depanku, seorang lelaki ternyata juga terjatuh. Aku tak bisa melihat rupanya karena posisinya membelakangiku. Dia hendak beranjak dan kembali berlari, namun dia terduduk kembali dan terlihat sudah lelah. Aku segera memegang erat kedua bahunya untuk menahannya, kukira lelaki ini sedang dikejar warga.
Belum sempat aku membalikkan badan lelaki itu untuk melihat wajahnya, para warga beramai-ramai menghampiri kami.
“Tangkap pencopet itu!” teriak salah seorang dari mereka.
Aku menoleh ke arah mereka dan mendapati seorang pemuda yang amat kukenal terkejut melihatku.
“Kang…???” pekik Yanto dengan mata terbelalak. Telunjuknya gemetar menunjuk ke arah lelaki yang masih kutahan.
Aku langsung membalikkan badan lelaki itu. Kudapati seorang pemuda yang tertunduk lemas, memelas, lalu melihat ke arahku dengan tatapan seolah-olah dia tahu bahwa aku akan kecewa berat dan sakit hati. Seluruh badanku gemetar, tanganku kuat mencengkram bahunya, kepalaku tiba-tiba pening dan pandanganku buram. Ingin sekali rasanya tiba-tiba istriku segera membangunkanku untuk bersiap-siap shalat subuh. Aku pasti sedang tidur malam dan bermimpi buruk!
“A…rif…??” ujarku dengan nada berbisik. Rasa kaget membuatku tak sanggup memekik di hadapan si bungsu ini.
Si bungsu tiba-tiba menatapku tajam dan memalingkan pandangannya dariku.
“Kau tidak mungkin memaafkanku, Pa!” ujarnya lemas.
“Kenapa kau begini, Nak?” tanyaku.
“Aku ingin laptop Pa. Entah kenapa saat itu aku terhasut oleh ajakan teman-temanku untuk melakukan ini.”
Mendengar jawabannya aku terpana.
“Halaaahhh…hentikan drama Bapa-Anak ini. Segera bawa bocah sialan ini ke kantor polisi!” teriak seorang lelaki dengan geram, diikuti dengan teriakan orang-orang yang setuju.
Beberapa orang menarik si bungsu dari genggamanku, sebelum aku sempat bertanya kenapa kau tidak bilang saja padaku, Nak? Bapa akan berusaha keras membelikannya jika itu memang penting buatmu.
“Tolong, jangan keroyok anakku,” pintaku memelas.
“Kami hanya akan membawanya ke kantor polisi, Pak!” ujar salah seorang dari mereka.
Si bungsu tetap menunduk hingga beberapa orang yang mengerubunginya membawanya jauh dariku, hingga tak terlihat lagi sosoknya dari pandanganku.
“Kang sebenarnya bisa ikut,” Yanto merangkul hangat bahuku.
Aku menggeleng, “Nanti saja aku datang ke kantor polisi. Sekarang aku terlalu kaget melihat kejadian ini.”
Yanto bungkam dan mengajakku pergi. Entah kemana tempat yang akan kulalui sekarang, aku tak peduli. Beberapa pedagang dan pembeli ramai-ramai melihat ke arah kami. Entah apa yang mereka pikirkan tatkala melihatku, melihat seorang ayah dari seorang pencopet. Apa yang terlihat dari sosokku? Samakah aku dengan orang tua para begal diluar sana? Serupakah aku dengan ayah-ayah yang menelantarkan anaknya dan tidak mengerti akan keinginan anaknya? Lalu bagaimana jika aku pulang? Apa yang harus kukabarkan pada istriku? Atau jangan-jangan kabar ini sudah merambat cepat di telinganya. Lalu apa yang harus kujelaskan pada para tetangga? Apa artinya julukan ahli masjid yang selama ini mereka torehkan kalau ternyata mendidik si bungsu saja tak becus? Sudah kukira kalau julukan itu memang terlalu berat bagiku. Ah…apa lagi?
Kini aku hanya bisa menyamankan diri dengan rangkulan Yanto yang semakin kuat. Aku pun memegang tangannya dan tetap menunduk. Aku malu di hadapan-Nya. Aku payah menjaga amanah dari-Nya. Hingga akhirnya aku dan Yanto menghentikan perjalanan tatkala adzan dhuhur pun berkumandang.
“Cari masjid yuk,” ucapku pada Yanto.
“Ayo Kang,” Yanto menyambut ajakanku dengan berjalan menuju arah masjid terdekat.
Kami berjalan sesegera mungkin sebelum shalat berjamaah dimulai. Di satu sisi aku lega karena di saat seperti ini aku bisa memanjatkan do’a dan memohon ampunan pada-Nya.
“Sabar ya, Kang…” ujar Yanto di sela perjalanan kami.
Aku mengangguk mantap.
“Ada Allah, To!” ucapku memantapkan hati.

1 komentar: